Venezuela Diguncang Oleh Aksi Kekerasan Oposisi Sayap Kanan

Sejak awal Februari lalu, oposisi sayap kanan Venezuela melancarkan aksi protes jalanan untuk memaksa Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, segera meletakkan jabatannya.

Namun, aksi protes yang digelar oleh oposisi ini tidak berlangsung damai. Di beberapa tempat, kelompok oposisi sengaja menyulut aksi-aksi kekerasan. Mereka memblokir jalan, melempari orang yang lewat, memaksa bus menurunkan penumpang, melemparkan molotov, hingga menyerang aparat keamanan.

Sejak 12 Februari lalu, aksi kekerasan oposisi makin meningkat. Hari itu ada dua demonstrasi yang berlangsung. Di satu pihak, oposisi juga menggelar aksi protes jalanan untuk melengserkan Presiden Nicolas Maduro. Di pihak lain, rakyat Venezuela juga menggelar aksi damai untuk memperingati “Hari Pemuda”.

Awalnya, demonstrasi berlangsung damai. Menjelang sore hari, Presiden Nicolas Maduro sempat menyampaikan apresiasinya terhadap aksi demonstrasi yang berlangsung damai. Namun, tak lama kemudian, aksi kekerasan mulai meledak di sejumlah kota.

Di Caracas, sekelompok oposisi bertopeng, dengan menggunakan batu dan molotov, menyerang kantor Jaksa Agung. Sekelompok oposisi juga menyerang kantor Kementerian Transportasi Darat Venezuela. Aksi kekerasan oposisi ini memicu bentrokan dengan massa pendukung pemerintah.

Mobil-mobil yang dibakar oleh kelompok oposisi di Caracas, pada hari Rabu (12/2/2014). Photo credit: Aporrea
Mobil-mobil yang dibakar oleh kelompok oposisi di Caracas, pada hari Rabu (12/2/2014). Photo credit: Aporrea

Bentrokan di Caracas menyebabkan dua orang tewas. Korban pertama bernama Bassil Alejandro Dacosta (24), seorang aktivis mahasiswa penentang pemerintah. Sejumlah laporan menyebutkan ia tertembak di kepala saat bentrokan dengan massa pendukung pemerintah. Korban lainnya bernama Juan Montoya (40), seorang aktivis Chavistas yang memimpin komunitas bernama Barrio 23 de Enero.

Aksi kekerasan juga terjadi di kota-kota lain. Di Merida, usai menggelar aksi protes, sekelompok oposisi membakar sampah di tengah jalan dan memblokir jalan. Tindakan itu memicu konfrontasi dengan massa pendukung pemerintah.

Hingga Jumat (14/2), aksi kekerasan masih berlanjut di sejumlah kota di Venezuela, termasuk Caracas. Sudah empat orang meninggal, 66 orang terluka–termasuk 17 orang anggota polisi dan militer, dan 70 orang lainnya ditangkap.

Demonstrasi yang diwarnai kekerasan sudah mulai digelar oleh oposisi sejak tanggal 4 Februari lalu di kota San Cristobal. Dua mahasiswa peserta aksi ditangkap karena menyulut kekacauan. Besoknya, kedua mahasiswa itu dibebaskan.

Hari-hari berikutnya ditandai dengan meluasnya aksi protes di sejumlah negara bagian Venezuela, terutama Merida dan Tachira. Sekelompok oposisi yang membungkus kepalanya, umumnya anak muda, memblokir jalan, melemparkan bom molotov, melempari orang-orang lewat, memaksa bus menurunkan penumpang, dan memaksa kendaraan berbalik arah.

Tak hanya itu, mereka juga mengancam para jurnalis yang berupaya meliput aksi mereka. Akibatnya, banyak aktivitas warga yang terganggu; ke sekolah, ke kantor, ke tempat kerja, ke rumah sakit, dan lain-lain.

Ekstrimis sayap kanan

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyalahkan oposisi terkait kekerasan tersebut. Ia menganggap segelintir pemimpin oposisi, yang mengutamakan kekerasan, hasutan, dan ambisi pribadi, telah menyulut aksi kekerasan tersebut.

“Saya bersumpah kepada rakyatku, bahwa akan ada keadilan untuk darah yang tertumpah di Venezuela hari ini. Saya bersumpah akan melakukan keadilan di Venezuela. Aku ingin perdamaian dan keadilan,” katanya mengomentari informasi jatuhnya korban jiwa.

Menteri Dalam Negeri Venezuela, Miguel Rodriguez, menuding aksi-aksi kekerasan di jalanan Caracas pada hari Rabu (12/2) lalu dilakukan oleh ekstrimis sayap kanan. Menurutnya, para ekstrimis itu memang sudah terlatih untuk memicu kekacauan dan kekerasan.

Dia juga mengatakan, aksi kekerasan itu merupakan bagian dari ‘konspirasi’ antara sayap kanan garis keras di Venezuela dan luar negeri. Ia juga menuding konspirasi itu sebagai upaya untuk melengserkan pemerintah secara tidak konstitusional.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Venezuela Elias Jaua menuding Leopoldo Lopez, pemimpin partai ultra kanan Partai Kehendak Rakyat, sebagai aktor intelektual di balik kematian dan kekerasan di Caracas.

Sejak beberapa minggu terakhir, Leopoldo Lopez aktif mengajak pendukungnya untuk turun ke jalan untuk mencari jalan keluar atas pemerintahan Maduro. Ia memanfaatkan kasus kelangkaan sembako dan rasa tidak aman sebagai alasan untuk melengserkan presiden pengganti almarhum Hugo Chavez tersebut.

Pada hari Jumat, pihak berwenang Venezuela telah memerintahkan penangkapan terhadap Leopoldo Lopez. Namun, ada kabar menyebutkan bahwa dia sudah kabur ke Kolombia. Akan tetapi, melalui akun Twitternya, Leopoldo mengklaim masih di Venezuela.

Kubu oposisi sendiri tidak satu suara terkait metode aksi-aksi kekerasan tersebut. Kubu oposisi yang moderat, yang dipimpin oleh bekas calon Presiden  Henrique Capriles, menyebut para pemimpin oposisi garis keras sebagai ‘penghianat’ karena tidak bergabung dalam kampanye damai menuntut pengunduran diri Nicolas Maduro.

“Kita akan menyalurkan ketidakpuasan, tapi aku tidak bohong kepada anda, kondisinya tidak memungkinkan untuk memaksa pemerintah keluar (lengser)…rakyat Venezuela sudah lelah dengan banyak kekerasan,” katanya.

Namun, pada hari Jumat (14/2) lalu, Capriles dan pemimpin MUD–koalisi oposisi–telah menyalahkan pemerintah dan paramiliter pro-pemerintah sebagai penyebabkan kematian mahasiswa oposisi.

Pemberitaan ‘bias’ media swasta

Pemerintah Venezuela juga menuding media massa swasta, baik di Venezuela maupun luar negeri, telah keliru memberitakan kekerasan yang terjadi di Venezuela pada hari Rabu lalu.

Tak hanya itu, pemerintah Venezuela juga membantah tudingan bahwa aparat keamanan Venezuela telah menekan para demonstran. “Sebenarnya, kami sudah sangat banyak bersabar dengan mereka,” kata Nicolas Maduro.

Maduro juga telah memerintahkan Menteri Dalam Negeri Miguel Rodriguez untuk bertemu dengan koresponden AFP di Venezuela agar tidak terus menerus mendistorsi kejadian pada hari Rabu lalu.

Tak hanya itu, Departemen Komunikasi dan Informasi Venezuela telah mengirimkan foto-foto terakreditasi kepada media-media internasional seputar kejadian kekerasan pada hari Rabu.

Raymond Samuel

Baca juga: Mengapa Mahasiswa Venezuela Menentang Revolusi?

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut