Venezuela di Mulut Kudeta

Situasi Venezuela hari ini benar-benar genting. Kelompok oposisi mulai menggunakan serangan bersenjata untuk menggulingkan pemerintahan Nicolas Maduro, yang terpilih secara demokratis pada pemilu 2013 lalu.

Hari selasa (27/6) lalu, sebuah helikopter curian terbang di atas udara Caracas, lalu menembaki dan menjatuhkan granat di atas gedung Mahkamah Agung dan Kementerian Kehakiman.

Helikopter jenis Bolkow 105 itu dicuri dari Pangkalan Udara Francisco Miranda La Carlota di timur Caracas. Pelakunya adalah Oscar Alberto Perez, seorang bekas Polisi di Badan Investigasi Khusus Kepolisian (CICPC).

Awalnya helikopter itu menyerang kantor Kementerian Kehakiman dengan melepas 15 kali tembakan. Pada saat serangan, sebanyak 80-an jurnalis tengah menggelar resepsi peringatan Hari Jurnalis Nasional.

Serangan selanjutnya ke kantor Mahkamah Agung. Si penyerang melepas sejumlah tembakan dan menjatuhkan 4 granat. Dua granat dijatuhkan tepat di depan dua pasukan Garda Nasional Bolivarian yang menjaga gedung itu.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengutuk keras serangan itu dan menyebutnya “serangan teroris”. Dia memuji reaksi Angkatan Bersenjata Venezuela yang bertindak cepat melumpuhkan dan menggagalkan serangan itu.

“Saya mengutuk serangan teroris ini dan meminta MUD (koalisi oposisi) juga mengutuk serangan ini,” kata Maduro.

Sebelum serangan, Oscar Alberto Perez, polisi yang menjadi pilot helikopter itu, memposting foto dan membuat pernyataan di akun Instagramnya.

“Kami adalah koalisi militer, polisi dan sipil yang mencari kedamaian melawan pemerintahan sementara dan kriminal ini,” tulis Alberto di bawah foto seorang polisi membaca statemen dan diapit empat orang bertopeng.

Pihak berwenang Venezuela tengah menyelidiki kasus serangan ini. Sebab, ada indikasi pilot yang menerbangkan helikopter itu bekerja pada  Miguel Rodriguez Torres, seorang bekas perwira militer dan Menteri yang dekat dengan DEA dan CIA.

“Pelaku tindakan ini diselidiki karena ada kaitan dengan Central Intelligence Agency (CIA)-nya Amerika Serikat dan Kedutaan Besar negara itu di Caracas,” demikian tertulis dalam pernyataan resmi Kementerian Kehakiman, Selasa (27/6).

Kudeta “gaya Chile”

Memang, dalam seminggu terakhir, kekerasan yang dilakukan oposisi meningkat tajam. Senin (26/6) lalu, mereka membunuh seorang tentara dan membakar hidup-hidup tiga warga sipil.

Hari Sabtu (24/6), oposisi menduduki paksa sebuah pangkalan militer di La Carlota, Caracas. Mereka memblokade pintu bandara dan membakar sejumlah truk.

Setidaknya, sejak aksi kekerasan oposisi dimulai pada April lalu, sudah 86 orang yang tewas. Sebagian besar yang terbunuh adalah orang yang tidak terlibat aksi protes, yakni mereka yang kebetulan berada di sekitar lokasi aksi, mereka yang dibunuh saat penjarahan toko-toko oleh oposisi, dan mereka yang terbunuh karena aksi barikade jalan oleh oposisi.

Jika orang mencermati situasi di Venezuela hari ini, juga membaca berbagai skenario yang dimainkan oposisi, maka yang terbayang adalah kondisi Chile menjelang kudeta 11 September 1973.

Ada perang ekonomi yang dilakukan oposisi dengan memanipulasi nilai tukar, menimbung sembako, menghentikan produksi, dan penyelundupan. Situasi inilah yang memicu kelangkaan bahan pokok di Venezuela.

Kemudian ada aksi kekerasan di jalanan: blokade jalan, bakar bus/angkutan umum, menyerang toko-toko, membakar kantor partai berkuasa, dan merusak fasilitas publik lainnya. Aksi kekerasan ini punya dua maksud: pertama, menciptakan keadaan chaos untuk menunjukkan pemerintah tidak berfungsi. Dan kedua, menciptakan rasa takut pada mayoritas rakyat.

Dan yang paling berbahaya kini, adalah aksi blokade di jalan-jalan dan mulut gang. Aksi blokade ini, yang kadang-kadang dilakukan anak-anak 12-14 tahun atas perintah orang dewasa, menyasar pendukung Chavez.

Pada ujungnya, aksi-aksi kekerasan dan blokade seakan ingin memantik perang sipil. Jika itu terjadi, ada dalih untuk memanggil militer guna melakukan kudeta. Beruntung, sejarah militer Venezuela berbeda dengan Chile.

Tahun 2002, ketika sayap kanan melakukan kudeta terhadap Chavez, militer memainkan peran progressif. Mereka memihak konstitusi dan rakyat. Hanya dalam hitungan 48 jam, kudeta itu berhasil dipatahkan oleh rakyat dan militer.

Sekarang, sekalipun sebagian bekas militer menyeberang ke kubu oposisi, tetapi institusi militer tetap menyatakan kesetiaan terhadap pemerintahan yang sah.

Agak berbeda dengan Chile. Di ujung berbagai aksi kekerasan dan perang ekonomi itu, militer di bawah pimpinan Jenderal Augusto Pinochet melalukan kudeta militer.

Tentara, dengan mengerahkan tank dan pesawat tempur, menggempur istana Kepresidenan, La Moneda Palace, tempat Presiden Salvador Allende berkantor. Presiden Allende gugur dalam peristiwa tersebut.

Serangan menggunakan helikopter ke kantor Mahkamah Agung dan Kementerian Kehakiman Venezuela ingin meniru Chile. Setidaknya, dengan serangan itu, ada keberanian militer yang tidak puas dengan pemerintah untuk melancarkan kudeta.

Untuk memahami aksi protes di Venezuela hari ini, baca artikel berikut: Lima Fakta Tentang Situasi Venezuela Hari Ini.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid