Venezuela Di Bawah Bayang-Bayang Kudeta

Venezuela, negeri yang dalam 15 tahun terakhir terus berjuang keluar untuk dari kekangan imperialisme, terus-menerus dalam ancaman kudeta.

Sejak awal Februari lalu, kelompok oposisi Venezuela mulai melancarkan aksi demonstrasi jalanan. Pada intinya, mereka menginginkan Presiden Venezuela saat ini, Nicolas Maduro, segera lengser dari jabatannya.

Hanya saja, kelompok oposisi ini menempuh taktik beragam. Ada kelompok oposisi, terutama yang berada di lingkaran Meja Persatuan Demokratik (MUD), berusaha memanfaatkan isu-isu spesifik, seperti kelangkaan sembako, kriminalitas, dan inflasi, sebagai senjata untuk mendiskreditkan pemerintahan Maduro.

Di pihak lain, ada kelompok oposisi yang terang-terangan menggunakan aksi kekerasan untuk menggulingkan pemerintahan. Kelompok ini dipimpin oleh Leopoldo Lopez, pimpinan Partai Kenginan Rakyat (Voluntad Popular). Dengan menggunakan mahasiswa dan grup-grup fasis, kelompok ini menebar aksi-aksi kekerasan ke seantero Venezuela, seperti membakar kendaraan, memblokir jalan, menyerang kantor pemerintah, melemparkan molotov, memaksa bus menurunkan penumpangnya, dan lain-lain.

Namun demikian, jangan dikira dua kelompok ini terpisah sama sekali. Pada pemilu lalu, Leopoldo dan partainya memberikan suara kepada kandidat yang diusung MUD,  Henrique Capriles, untuk melawan kandidat sosialis Nicolas Maduro. Saya kira, perbedaan strategi kedua kelompok oposisi ini saling melengkapi untuk tujuan yang sama: penggulingan pemerintahan Maduro.

Pada tanggal 12 Februari lalu, oposisi menggelar aksi demonstrasi besar-besaran. Kedua kelompok oposisi ini bergerak masing-masing. Sementara di pihak lain, massa rakyat pendukung pemerintah juga menggelar aksi massa damai untuk memperingati “Hari Pemuda”.

Aksi demonstrasi berjalan damai. Namun, begitu demonstrasi usai, kelompok oposisi yang dipimpin oleh Leopoldo Lopez mulai melancarkan aksi kekerasan. Mereka menyerang kantor Jaksa Agung, stasiun TV Publik (Channel 8), Banco de Venezuela (Bank milik Negara), rumah gubernur pengikut Chavista di Tachira, truk-truk pengangkut sembako, dan bus-bus di kota Caracas.

Tak hanya itu, kelompok oposisi pendukung Lopez juga memancing dan menyerang massa pendukung pemerintah. Aksi-aksi provokatif itu memicu bentrokan jalanan. Namun, entah dari mana asalnya, penembak jitu juga beraksi. Dalam bentrokan pada tanggal 12 Februari itu, 3 orang dinyatakan meninggal. Termasuk seorang aktivis chavista: Juan Montoya, seorang organiser komunitas.

Pemerintah kemudian bereaksi balik. Presiden Nicolas Maduro segera menuding kelompok oposisi garis keras berada di balik aksi kekerasan yang menyebabkan korban meninggal itu. Tak hanya itu, Maduro memerintahkan penangkapan Leopoldo Lopez.

Beberapa hari kemudian, Maduro mengumumkan pengusiran tiga pejabat konsulat AS dari Venezuela. Ketiga pejabat itu dituduh terlibat konspirasi dengan oposisi garis keras Venezuela untuk mendorong sebuah kudeta di negeri penghasil minyak tersebut.

Namun, aksi kekerasan oposisi tidak berhenti. Pada 19 Februari lalu, bersamaan dengan mobilisasi yang dilakukan oleh serikat buruh untuk mendukung pemerintah, kelompok oposisi kembali melancarkan aksi kekerasan. Korban jiwa kembali jatuh. Kali ini adalah Genesis Carmona, seorang bintang model, terkena tembakan saat bentrokan pecah antara oposisi dengan pendukung pemerintah.

Skenario Kudeta

Ketika aksi kekerasan oposisi terus meningkat di Venezuela, seorang teman facebook saya menulis, “operasi Jakarta [nama sandi kelompok kudeta di Chili tahun 1973] sedang dimulai di Venezuela.”

Ingatan saya langsung melayan ke Chili: 11 September 1973. Saat itu sekelompok tentara yang dipimpin oleh Jenderal Augusto Pinochet, dengan sokongan penuh dari CIA/AS, menggulingkan pemerintahan sosialis Salvador Allende.

Memang ada kemiripan antara apa yang terjadi di hari-hari menjelang kudeta di Chili dengan Venezuela hari ini. Pertama, Sebelum menjatuhkan Allende, kelompok sayap kanan Chili bekerjasama dengan AS melancarkan sabotase ekonomi. Kapital dilarikan ke luar negeri. Pabrik-pabrik tidak bisa berproduksi karena impor bahan bakunya dihentikan.

Situasi serupa juga terjadi di Venezuela saat ini. Sejumlah bahan pokok, seperti susu, minyak goreng, gula, dan margarin, menghilang di pasaran dan toko-toko. Harga-harga juga meroket. Inflasi menjulang hingga 56,2%.

Sebagian besar pejabat Venezuela melihat bahwa situasi ini dipicu oleh perang ekonomi yang dilancarkan oleh kaum pengusaha dan kaum oposisi. Bagi pemerintah, aksi-aksi penimbunan, penyelundupan, hingga pengalihan produksi, yang sengaja dilakukan oleh kelompok pengusaha dan oposisi, telah memicu kelangkaan sembako dan lonjakan inflasi.

Sebelum ini ada aksi-aksi sabotase listrik, yang membawa Venezuela dalam krisis pasokan listrik. Pemerintah Venezuela mengaku mengantongi bukti keterlibatan oposisi Venezuela dalam aksi-aksi sabotase tersebut.

Kedua, pemerintah AS menggelontorkan dana dalam jumlah besar untuk mendanai oposisi. Di Chili, AS mengucurkan ratusan juta dollar untuk menggencarkan aksi oposisi menentang Allende.

Di Venezuela, bukan rahasia lagi, AS menggelontorkan ratusan juta dollar untuk mendanai aksi-aksi oposisi. Dana-dana itu disalurkan melalui sejumlah lembaga AS, seperti Development Alternatives, Inc DAI (sejak 2002), the Pan-American Development Foundation PADF (sejak 2005), the International Republican Institute IRI (sejak 2002), the National Democratic Institute-NDI (sejak 2002), Freedom House (sejak 2004), USAID (sejak 2002), National Endowment for Democracy (NED) dan the Open Society Institute (sejak 2006). Baru-baru ini terungkap ada anggaran 5 juta dollar AS dari anggaran Federal AS untuk mendanai kegiatan oposisi Venezuela di tahun 2014.

Ketiga, memainkan kontrol terhadap media massa, baik domestik maupun internasional, untuk menjelek-jelekkan pemerintahan Allende. Tak jarang, untuk memenuhi hasratnya, media-media tersebut menebar informasi palsu alias tidak akurat.

Di Venezuela saat ini juga sudah demikian. Sebanyak 80% media di Venezuela adalah milik swasta. Sebagian besar dikontrol oleh sayap kanan. Tiga surat kabar terbesar di Venezuela, yakni El Universal, El Nacional dan Ultimos Noticias, dikuasai oposisi. Kemudian, tiga dari empat TV berskala nasional di Venezuela, dengan jangkauan 90% penonton, juga di tangan oposisi (Venevision, Globovision, dan Televen). Media-media ini aktif menjelek-jelekkan pemerintah dan pendukungnya.

Keempat, taktik oposisi Venezuela saat ini, yang seolah-olah membagi diri menjadi dua kelompok [ pendukung aksi damai dan aksi kekerasan], sangat mirip strategi partai Kristen Demokrat Chili saat melawan Allende. Saat itu di Chili, ada kelompok Kristen Demokrat yang setuju dialog dengan Allende, sementara lainnya menjalankan kudeta.

Namun, satu hal yang sangat berbeda antara Chili dan Venezuela saat ini adalah soal dukungan angkatan bersenjata. Di Chili saat itu angkatan bersenjata termakan oleh propaganda anti-komunisme dan berposisi menentang pemerintah. Sebaliknya, di Venezuela, hingga sekarang sebagian besar angkatan bersenjata masih loyal kepada pemerintah dan revolusi.

Namun, aksi kekerasan di Venezuela akhir-akhir ini bisa juga mengikuti skenario kudeta terhadap Chavez di tahun 2002. Saat itu kelompok oposisi sengaja memicu kekerasan dan konfrontasi dengan mengalihkan massa demonstran ke daerah massa pendukung Chavez. Saat bentrokan terjadi, penembak jitu pun beraksi. Pada saat itu, seorang pendukung Chavez tertangkap kamera memegang pistol dan menembak ke arah gedung-gedung. Tetapi oleh media dikatakan bahwa pendukung Chavez itu menembak ke arah massa oposisi. Inilah dalih yang dipakai untuk menggulingkan Chavez.

Sekarang situasinya nyaris mirip. Kelompok oposisi memprovokasi aksi kekerasan, lalu muncul sekelompok ‘geng motor’ berpakaian Chavista menyerang demonstran oposisi. Lalu, media-media menggambarkan bahwa geng motor ini bergerak atas perintah Nicolas Maduro.

Skenario lainnya adalah Libya dan Suriah. Untuk strategi ini, AS sengaja mendorong aksi-aksi oposisi di Venezuela, bahkan dengan kekerasan dan konfrontasi yang berakibat jatuhnya korban, untuk memungkinkan adanya keprihatinan dunia internasional. Dengan begitu, AS bisa melakukan intervensi terbuka, termasuk militer, terhadap Venezuela.

Intervensi AS

Menurut Steve Ellner, yang pernah mengajar di Universidad de Oriente di Venezuela di tahun 1977 dan banyak menulis buku soal Venezuela, keterlibatan AS dalam berbagai peristiwa kekerasan saat ini di Venezuela sangat nyata.

Buktinya, kata Ellner, adalah keprihatinan terbuka pemerintahan Obama terhadap Leopolda Lopez, pemimpin garis keras oposisi Venezuela, menjelang penangkapannya tanggal 19 Februari lalu. Tak hanya itu, gedung putih juga mengeluarkan pernyataan mendukung aksi demonstrasi yang dilakukan oposisi.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry telah mengeluarkan pernyataan, “kami sangat khawatir dengan laporan bahwa pemerintah Venezuela telah menangkap dan menahan sejumlah pemrotes anti-pemerintah.” Bagi Kerry, tindakan tersebut akan ‘memberi efek menakutkan bagi warga yang ingin mengekspresikan keluhan mereka secara damai’.

Lalu, seperti diungkap Mark Weisbrot, seorang peneliti di Centre for Economic and Policy Research di Washington, bahwa seorang jubir anonim di Kemenlu AS pekan lalu, ketika menanggapi aksi protes di Venezuela, mengatakan ‘pemerintah telah melemahkan institusi demokrasi di Venezuela’. Orang ini mengaku mendukung upaya oposisi untuk mendelegitimasi pemerintah, sebagai bagian dari proyek “pergantian rezim” di Venezuela.

Pernyataan berbentuk dukungan dari pemerintah AS terhadap oposisi di Venezuela ini jelas punya motif. Sejak Chavez berkuasa, AS memang aktif mendukung upaya perubahan rezim di Venezuela. Salah satu buktinya adalah keterlibatan AS terhadap kudeta terhadap Chavez di tahun 2002.

Dan untuk diketahui, Leopoldo Lopez, tokoh oposisi yang dielu-elukan oleh AS dan media massa internasional sebagai pahlawan demokrasi, adalah pelaku kudeta di tahun 2002. Pada tahun 1998, orang ini menggunakan posisinya di PDVSA untuk menerima dan meminta sumbangan illegal untuk mendanai partainya, Primero Justicia.

Selain itu, dukungan AS untuk perubahan rezim di Venezuela merupakan bentuk campur tangan terbuka atas masalah internal di negara lain. Apalagi, Presiden Nicolas Maduro–yang hendak dilengserkan oleh AS–terpilih melalui pemilu demokratis.

Upaya AS untuk meniupkan angin “Arab Spring” di Venezuela juga sangat absurd. Sebab, berbeda dengan negara seperti Mesir dan Tunisia, Venezuela justru sangat demokratis. Lebih demokratis dari AS dan negara Eropa lainnya. Sejak tahun 1998, Venezuela sudah menyelenggarakan 4 kali referendum/plebisit, 4 kali pemilihan Presiden, dan 11 kali pemilihan parlemen, regional, dan kotamadya.

Di Venezuela, ruang untuk berekspresi dan menyatakan pendapat juga sangat lebar. Sebagian besar media, yang dikontrol oposisi, dengan bebasnya mencela pemerintah setiap hari.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut