Venezuela Dan Pembangunan Kebudayaan

Tanpa proses budaya, kata Chavez, maka sebuah negara tak mungkin punya revolusi. Sebuah revolusi yang tidak disertai kebudayaan, yakni memperkuat kepribadian, ide, dan tradisi, adalah revolusi yang bukan revolusi.

Chavez sangat memahami arti penting budaya bagi revolusi. Karena itu, sejak tahun 2005, ia menciptakan program khusus yang disebut “Misi Kebudayaan”. Katanya, misi ini akan merangsang kreatitivatas budaya massa-rakyat. Selain itu, misi ini diproyeksikan memperdalam demokrasi-partisipatif.

Selain itu, seperti dikatakan Chavez, misi ini akan memperkuat akar kebudayaan dan kepribadian bangsa Venezuela. Dengan begitu, rakyat Venezuela akan bangga dengan kebudayaan sendiri dan membuang kebudayaan dari luar. “Ini adalah proses kontra-hegemoni,” katanya.

Chavez juga menganggap kebudayaan sebagai “penyuluh” revolusi. Sebuah proses tanpa ide dan filsafat seakan-akan seperti lampu mati, katanya. Program “misi budaya” pun resmi diluncurkan pada tahun 2005. Proyek ini menggandeng sejumlah Universitas dan pekerja kebudayaan. Setidaknya, pada tahap awal, terdapat 12.000 orang yang siap menjadi “aktivator”.

Aktivator ini mirip “calon seniman”.  Mereka akan bertemu atau membangun sebuah kelompok yang bertemu empat kali seminggu. Di kelompok inilah didiskusikan usulan mengenai pengembangan kesenian, tari, musik—sesuai komunitas masing-masing. Dengan begini, kreativitas kesenian rakyat bisa dibangkitkan.

Bagi pejabat universitas, para siswa harus belajar dulu di kelompok-kelompok atau komunitas sebelum lulus. Mereka harus bisa merasakan apa artinya menjadi seorang Venezuela, katanya.

Proyek “misi budaya” ini juga didukung oleh Kuba. Setiap tahunnya Kuba mengirimkan instruktur seni, musisi, guru pusat budaya dan seniman-seniman untuk terlibat proses kebudayaan di Venezuela. Sebagian besar pekerja seni dari Kuba ini bekerja di komunitas, khususnya anak-anak, untuk membangkitkan semangat mereka membaca dan membuat karya novel.

Misi kebudayaan sudah berlangsung 7 tahun. Setidaknya, program ini telah melatih 12.000 orang sebagai seniman handal.

Menurut Menteri Kebudayaan Venezuela, misi ini telah melatih rakyat Venezuela untuk bisa menari, teater, literatur, dan seni lainnya. Program ini juga, katanya, sudah mendorong kegiatan kebudayaan di 98% negara bagian dan kotamadya di seluruh Venezuela. Di setiap kotamadya itu sudah ada agenda kebudayaan secara permanen.

Sekarang ini, pemerintah Venezuela sedang merancang misi seni tahap kedua. Tetapi belum jelas seperti apa dan bagaimana rencana lanjutan ini dilaksanakan.

Meski demikian, Venezuela sudah bergerak maju dalam bidang kebudayaan. Sedangkan kita, di Indonesia, masih disibukkan untuk membela diri dari klaim-klaim Malaysia atas produk kebudayaan kita. Padahal, dalam banyak aspek, banyak kesenian rakyat kita yang pelan-pelan menghilang dari tengah-tengah rakyat.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut