Venezuela Dan Nikaragua Tawarkan Suaka Ke Snowden

Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Nikaragua Daniel Ortega (kanan).

Dua negara progressif di Amerika Latin, yakni Venezuela dan Nikaragua, menawarkan suaka politik kepada Edward Snowden, pembocor rahasia pemantauan intelijen Amerika Serikat.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Presiden kedua negara pada hari Jumat, 6 Juli 2013, tak lama setelah keduanya menghadiri pertemuan darurat para pemimpin negara Amerika Selatan (UNASUR).

“Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan Republik Bolivarian Venezuela, saya memutuskan untuk menawarkan suaka kemanusiaan bagi pemuda AS Edward Snowden,” ujar Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, saat memimpin para kemerdekaan Venezuela di Akademi Militer Caracas.

Bagi Maduro, Snowden adalah pemuda pemberani yang memberontak melawan kejahatan dan kebohongan imperialisme AS terhadap bangsa-bangsa lain di dunia. Snowden sendiri sudah dua minggu terkatung-katung di bandara di Moskow untuk menghindari kejaran AS yang berusaha mengestradisi dirinya.

AS sendiri sudah meminta ekstradisi Snowden ke Venezuela. AS mengancam akan menangkap si pembocor rahasia itu jika terbang menuju atau transit di Venezuela. Namun, pemerintah Venezuela menolak permintaan ekstradisi itu.

“Siapa yang salah? seorang pria muda..yang mengutuk rencana perang, ataukah pemerintah AS yang mengirimkan bom dan senjata kepada teroris Suriah untuk melawan rakyat dan pemerintahan Suriah yang sah, Bashar al-Assad?” ujar Morales.

Sementara itu, Presiden Nikaragua Daniel Ortega juga menyatakan sikap pemerintahannya terkait suaka untuk Snowden. “Kami adalah negara yang terbuka, yang menghargai peminta suaka, dan jelas jika keadaan mungkinkan, kami dengan senang hati menerima Snowden dan memberinya suaka di Nikaragua,” kata Daniel Ortega.

Selain Venezuela dan Nikaragua, negara Amerika Latin lain yang mempertimbangkan suaka untuk Snowden adalah Bolivia dan Ekuador. Kedua negara itu menyatakan mendukung aksi Snowden melawan kejahatan imperialisme. Ekuador sendiri sudah memberikan suaka kepada pendiri Wikileaks, Julian Assange.

Sementara itu, pada hari Kamis (4/7), pemimpin Negara Amerika Selatan (Unasur) menggelar pertemuan darurat di Cochabamba, Bolivia. Mereka mengutuk tindakan sejumlah negara Eropa, yakni Perancis, Spanyol, Italia, dan Portugal, yang menghalangi penerbangan Presiden Bolivia Evo Morales yang baru pulang dari Moskow, Rusia.

“Amerika Selatan dan Amerika Latin meminta jawaban dan penjelasan pantas serta permintaan maaf…untuk memulihkan hubungan dan saling kepercayaan antar bangsa,” kata Maduro di pertemuan itu.

Menurutnya, tindakan negara-negara Eropa tersebut telah melanggar hukum internasional dan melecehkan bangsa Bolivia serta Amerika latin. Ia menganggap perlakuan terhadap Evo Morales bisa berlaku juga untuk pemimpin-pemimpin Amerika Latin lainnya.

Untuk diketahui, pada hari Rabu (3/7) lalu, penerbangan pulang Presiden Bolivia Evo Morales dari Moskow, Rusia, ke negerinya terhalang oleh keputusan empat negara, yakni Perancis, Spanyol, Italia, dan Portugal, yang menolak wilayahnya udaranya dilintasi oleh pesawat Evo.

Penolakan tersebut dipicu oleh ‘rumor bohong’ bahwa pesawat yang ditumpangi oleh Evo tersebut membawa serta Edward Snowden. Pihak pemerintah Bolivia sendiri sudah menanggapi rumor itu dan menyatakan bahwa Snowden tidak berada di dalam pesawat Kepresidenan Bolivia.

Akhirnya, gara-gara tindakan negara Eropa itu, pesawat Evo terpaksa mendarat di Bandara Internasional di Wina, Austria. Di sana Evo harus menunggu hingga 12 jam. Pihak berwenang Austria sendiri sudah memastikan bahwa Snowden memang tidak berada di dalam pesawat tersebut.

Tindakan Eropa itu mengundang kemarahan para pemimpin Amerika Latin. Presiden Argentina Cristina Fernandez menyatakan solidaritas dan dukungan terhadap Evo Morales. Ia menguntuk tindakan negara-negara Eropa yang selalu mendengungkan HAM tetapi melanggarnya sendiri.

Presiden Ekuador Rafael Correa menyebut tindakan tersebut sangat berbahaya dan merusak hukum internasional. Sementara Presiden Uruguay, Jose Pepe Mujica, menegaskan bahwa salah satu dari pemerintahan Amerika latin dihina berarti penghinaan terhadap seluruh Amerika Latin. “Kami bukan koloni lagi,” katanya.

 Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut