Venezuela, Bangsa Berdaulat dan Martabat Kemanusiaannya

Akhir-akhir ini Venezuela sedang menghadapi situasi sulit. Dari pemberitaan yang merujuk media massa Barat kita dapatkan gambaran betapa kacaunya situasi di sana. BBC memberitakan orang-orang mengemis untuk bertahan hidup. Kompas, mengutip Las Vegas Sun, menuliskan rakyat yang kelaparan mulai mencari barang bekas di sungai-sungai untuk dijual. Liputan6.com, mengutip Reuters, mengatakan rakyat mulai memungut sisa makanan dari sampah karena saking miskinnya. Berita tentang aksi demonstrasi yang menjurus kerusuhan dikapitalisasi sedemikian rupa untuk menunjukkan keadaan sudah benar-benar gawat, baik ekonomi maupun politik.

Situasi yang digambarkan di atas ada benarnya tapi menjadi penuh distorsi karena memaksa bingkai yang terlalu sempit atas potret realitas ekonomi-politik Venezuela. Maksud dari pembingkaian (framing) ini adalah mendiskreditkan pemerintah Venezuela, dan tujuan besarnya adalah penggantian pemerintahan sesuai keinginan tuan-tuan imperialis.

Ada dua hal yang tidak pernah masuk dalam bingkai pemberitaan media massa jenis ini. pertama, bahwa kesulitan ekonomi yang dialami rakyat Venezuela sekarang, selain dampak anjloknya harga minyak dunia, sebagian lagi merupakan akibat dari sanksi ekonomi yang dikenakan Amerika Serikat secara ilegal atau melanggar hukum internasional.

Sanksi ini mengakibatkan Venezuela kesulitan memperoleh banyak bahan kebutuhan seperti pangan dan obat-obatan. Selain itu juga, sanksi keuangan membuat negara ini tidak dapat merestrukturisasi utangnya. Rencana pertemuan pemerintah Venezuela dengan kreditor asal AS batal terjadi karena pemerintahan Trump mengancam para kreditor tersebut dengan penjara 30 tahun dan denda 10 juta dolar apabila menghadiri undangan Maduro.

Sanksi ini telah diprotes keras oleh 150 akademisi serta aktivis asal Amerika Serikat dan Kanada, termasuk di antaranya Noam Chomsky, Danny Glover, Medea Benjamin, dan Alfred De Zayas. Alfred De Zayas, yang juga merupakan pelapor khusus PBB untuk meninjau persoalan di Venezuela, menyatakan bahwa sanksi yang dilakukan oleh Amerika Serikat merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Tindakan AS membawa akibat, yang utama, bukan bagi pemerintah, tapi penderitaan bagi mayoritas rakyat Venezuela.

Kedua, hal yang tidak diduga, meskipun mengalami tekanan krisis yang sangat kuat, pemerintahan Nicolas Maduro masih mendapat dukungan politik yang besar. Dalam pemilu presiden mendatang Maduro diprediksi masih akan mendapatkan suara mayoritas. Oposisi yang awalnya menuntut pilpres dipercepat, kemudian menjadi gamang. Mereka kembali menuntut penundaan pilpres dengan ancaman boikot bila tetap dilanjutkan tanggal 22 April 2018. Tuntutan ini kembali dikabulkan dengan perubahan menjadi tanggal 20 Mei 2018.

Faktor apa yang membuat dukungan pada pemerintah justru menguat di tengah krisis? Duta Besar Venezuela untuk Indonesia, Gladys F. Duran, dalam suatu kesempatan menjelaskan dua alasan. Pertama, protes dan demonstrasi yang digalang oposisi disertai kekerasan yang intens pada akhirnya menjadi kontra produktif. Rakyat mulai jenuh pada aksi-aksi kekerasan yang justru semakin membuat kehidupan mereka sulit. Kedua, posisi politik Nicolas Maduro cukup jernih di mata mayoritas rakyat Venezuela, yakni fokus mengatasi persoalan tekanan imperialisme AS sembari berupaya membangun dialog damai dengan oposisi di dalam negeri. Selain itu jelas, Maduro adalah pewaris politik Hugo Chavez yang telah memberikan banyak hal kepada rakyat selama hampir 20 tahun.

Kondisi di Venezuela ini kembali memberikan pelajaran tentang upaya luar biasa suatu bangsa berdaulat untuk hidup sejahtera dan menegakkan martabat kemanusiaannya. Upaya itu tidak pernah mudah, terutama ketika tantangan datang dari negara adi kuasa yang berpengalaman mengganti pemerintahan-pemerintahan di dunia yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi-politiknya. Penggantian pemerintahan ini dilakukan dengan menghalalkan segala cara, mulai dari boikot, fitnah, kabar bohong (hoax), sampai dengan perang dan pertumpahan darah.

Tapi sejarah membuktikan bahwa tidak semua upaya keji itu berhasil. Sampai saat ini kita melihat beberapa negara seperti Kuba, Iran, Syria, Korea Utara, dan Venezuela sendiri, masih tegak dan menolak hegemoni mereka.

Kuba bahkan pernah mengalami keadaan yang tak kalah genting dibandingkan Venezuela sekarang, ketika Uni Soviet runtuh dan berbagai pasokan kebutuhan dasar berhenti mengalir ke negara pulau itu. Banyak orang Kuba memilih eksodus ke Amerika Serikat. Saat itu, di ujung hidungnya imperialis AS, Fidel Castro berkata kepada rakyat Kuba:

Kita berada dalam situasi khusus, salah suatu periode yang paling sulit dalam sejarah kita. Kenapa? Karena kita sendirian (di dunia) melawan imperium. Jadi apa yang dibutuhkan? Bersatu, berani, semangat patriotisme dan revolusioner. Hanya orang yang lemah, kaum pengecut, yang menyerah dan mundur ke perbudakan. Seorang yang terhormat, berani, seperti kita ini, tidak akan menyerah atau mundur ke perbudakan.

Kita tahu, saat ini rakyat Venezuela tidak sendirian menghadapi imperium. Tapi keadaan tidak bisa dibilang mudah. Rakyat Venezuela sedang benar-benar diuji untuk memperkuat persatuannya, mempertebal patriotisme revolusionernya, dan menemukan solusi-solusi segera bagi kegentingan yang sedang dihadapi. Sementara sebagai bangsa yang cinta kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial, sepantasnya berdiri bersama rakyat Venezuela dan rakyat mana saja di dunia dalam perlawanan atas penindasan.

Dominggus Oktavianus

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut