Ujung Soal Dugaan Pencatutan Nama PMKRI

Penelurusan Berdikarionline soal dugaan manipulasi dan pencatutan stempel, nama, dan tandatangan PMKRI Kupang dalam Seruan Bersama Gubernur NTT dan sejumlah organisasi masyarakat, terkait penyambutan kedatangan SBY, akhirnya menemui titik terang. Persoalan ini bersumber pada miskomunikasi di internal pengurus PMKRI Kupang, antara Ketua Presidium PMKRI Odorikus G. Owa dan Ketua Germasnya, Bedi Roma.

Stempel organisasi dan nama ketua Presidium PMKRI Kupang dalam Seruan Bersama yang dipublikasi Pos Kupang itu ternyata memang asli, tidak dimanipulasi Pemprop NTT. Kepada Berdikarionline, Owa menyampaikan bahwa dirinyalah yang menandatangi Seruan Bersama tersebut dalam pertemuan di Kesbangpol NTT pada 2 Februari lalu. Menurut Owa, ia menandatangi pernyataan tersebut karena menilai itu hanyalah pernyataan biasa. “Urusan seruan menjaga ketenangan itu wajar, tidak ada hubungannya dengan unjukrasa. Lagi pula, sebelum menandatangani itu, saya telah sampaikan kepada kepala Kesbangpol bahwa PMKRI bersama organisasi-organisasi lainnya akan tetap berujukrasa saat kedatangan SBY nanti.” Pasca pertemuan tersebut, Owa tidak sempat menyampaikannya kepada pimpinan PMKRI lainnya karena libur Imlek, dan kesibukan menghadiri undangan dari berbagai organisasi masyarakat ataupun dari pihak pemerintah. Pagi tadi, ketika seruan bersama itu dipublikasikan di Pos Kupang, ia tidak sempat membaca, karena menghadiri acara seminar pada pembukaan dies natalis sebuah organisasi mahasiswa di Kota Kupang.

Sementara Bedi Roma, Presidium Gerakan Kemasyarakatan (Germas) PMKRI Kupang, yang selama ini sibuk terlibat dalam berbagai rapat Front Rakyat Anti-Imperialisme Neoliberal (FRAIN) dan tidak tahu menahu tentang penandatanganan seruan bersama itu, mengaku terkejut ketika membaca Pos Kupang pagi tadi. Roma telah mencoba menelepon Owa, tetapi karena sedang menghadiri acara organisasi lain, Owa tidak menghidupkan telepon genggamnya. Memandang seruan bersama itu bernada menghalangi upaya unjukrasa, Roma mengambil inisiatif mengundang sejumlah wartawan yang bisa ia hubungi untuk mengklarifikasi berita tersebut. Tidak heran jika pada konferensi pers pada pukul 09.00 pagi tadi itu, para pimpinan PMKRI–selain Owa–sempat menduga pihak Pemprop memanipulasi dan mencatut tandatangan ketua PMKRI, dan stempel organisasi PMKRI.

Atas kesalahpahaman ini, melalui Berdikarionline, PMKRI Kupang menyampaikan permintaan maaf kepada Gubernur NTT Frans Leburaya dan jajarannya.***

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut