Turki Dilanda Pemogokan Pasca Kecelakaan Tambang

Turki.jpg

Rasa duka dan marah menyelimuti seluruh Turki. Ledakan di sebuah lokasi tambang di Soma, Turki Barat, menyebabkan hampir 300 orang tewas. Sementara sekitar 100-an orang masih terperangkap di bawah tanah.

Protes meletus di sejumlah kota besar di Turki, seperti Istanbul, Ankara, İzmir dan Zonguldak. Serikat buruh turut melancarkan pemogokan umum sebagai bentuk protes terhadap buruknya standar keselamatan kerja para pekerja tambang di Turki.

Di Istambul, massa aksi meneriakkan yel-yel anti-pemerintah. Sebuah spanduk bertuliskan “Ini bukan kecelakaan, melainkan pembunuhan” dibentangkan oleh massa aksi.

Di Izmir, kota terbesar ketiga di Turki, sebanyak 20.000-an massa aksi bentrok dengan aparat keamanan. Polisi melepaskan tembakan gas air mata dan water canon untuk membubarkan massa.

Sebelumnya, pada hari Rabu (14/5) kemarin, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdoğan mengunjungi lokasi ledakan. Namun, kedatangannya justru disambut aksi protes. Iring-iringan mobil yang membawa Erdoğan dilempari batu oleh massa yang marah.

Kemarahan publik makin memuncak setelah Erdoğan mengeluarkan pernyataan, kecelakaan merupakan sesuatu yang tak terhindarkan dalam industri pertambangan. Ia mengambil contoh pada ledakan di industri pertambangan Inggris pada abad ke-19.

Sejumlah media Turki juga melaporkan bahwa Erdoğan sempat memukul seorang remaja perempuan yang meneriakinya ‘pembunuh’. Namun, pejabat Turki membantah laporan tersebut.

Lebih parah lagi, seorang pembantu Perdana Menteri Erdoğan, Yusuf Yerkel, tertangkap kamera wartawan saat menendang seorang demonstran yang sedang dibekap oleh dua tentara. Gambar tersebut tersebar di jejaring sosial.

Gambar itu memicu kemarahan lebih luas. Yerkel berjanji akan memberikan penjelasan mengenai kejadian itu. Namun, dalam hitungan 24 jam, ia tidak muncul memberikan penjelasan.

Pemerintah sendiri telah menolak proposal yang hendak mengajukan persoalan ledakan Tambang ini ke parlemen. Juru bicara Partai Rakyat Republik (CHP), Faruk Logoglu, menganggap kejadian ledakan semacam ini sudah berulangkali terjadi di Turki. Namun, kejadian kali ini merupakan yang terburuk dalam sejarah Turki.

Kani Beko, pimpinan Konfederasi Serikat Buruh Progressif Turki (DISK), menyalahkan privatisasi dan penerapan sistim kerja kontrak dalam kasus ledakan tambang ini. “Kesehatan dan keselamatan para pekerja diabaikan,” katanya.

Pihak berwenang mengklaim bahwa bencana diikuti ledakan dan kebakaran terjadi di unit distribusi daya. Selain itu, sebagian besar korban tewas akibat gas karbon monoksida.

Pemerintah mengklaim sebanyak 787 orang pekerja berada di lokasi saat kejadian. Sebanyak 383 diantaranya sudah berhasil diselamatkan. Sebagian besar mengalami luka-luka.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut