Tupamaros

State of Siege (État de Siège)

Sutradara: Costa-Gavras
Penulis : Franco Solinas dan Costa-Gavras
Durasi : 120 menit
Tahun produksi: 1972
Pemain: Yves Montand, Renato Salvatori, dan O.E. Hasse

Ini terjadi tahun 1970-an di Montevideo, Uruguay. Sekelompok pemuda pemuda menculik pejabat asing. Ada tiga pejabat yang berhasil diculik, yakni Fernando Campos (konsulat Brazil), Anthony Lee (Sekretaris Kedutaan AS), dan Philip Michael Santore (warga AS yang bekerja di Agency for International Development/AID).

Proses penculikan disusun sangat rapi. Awalnya, mereka “meminjam paksa” sejumlah kendaraan. Pemiliknya diturunkan dan dibolehkan melaporkan kehilangan setelah 24 jam. Setelah itu, mobil hasil rampasan itu diserahkan kepada anggota lain yang ditugaskan melakukan penculikan. Saya kira, metode ini untuk menghilangkan jejak.

Setelah itu, proses penculikan pun dijalankan. Semuanya nyaris berjalan sempurna tanpa celah. Kecuali grup yang ditugaskan menculi Anthony Lee. Karena panik dan takut aksinya tercium polisi, mereka membebaskan Anthony Lee dalam keadaan terbungkus.

Itulah aksi dari sekelompok pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pembebasan Nasional Tupamaros (MLN-Tupamaros). Organisasi ini menempuh metode gerilya kota, yakni perjuangan bersenjata dalam skala terbatas di kota-kota.

Tupamatos sendiri berdiri tahun 1960-an. Pendirinya bernama Raúl Sendic, seorang marxis dan pernah menjadi aktivis partai sosialis. Saat itu, Uruguay sedang terjerembab dalam krisis ekonomi. Rakyat melakukan perlawanan di mana-mana. Namun, Presiden Uruguay saat itu, Jorge Pacheco Areco, justru memberlakukan ‘Hukum Darurat’. Pemogokan buruh ditindas habis. Banyak surat kabar dibredel. Partai sosialis dinyatakan terlarang.

Salah strategi Tupamaros adalah penculikan politik. Sasarannya adalah anggota kabinet yang korup, pengusaha asing, dan mereka yang punya pengaruh. Namun, penculikan bukanlah tujuan pokok, melainkan hanya salah satu cara untuk menyampaikan pesan politiknya kepada rakyat luas.

Pembuat film Perancis, Costa Gavras, mengangkat sepak-terjang Tupamaros ke layar kaca melalui film berjudul “State of Siege, yang diproduksi tahun 1972. Film ini khusus mengangkat aksi Tupamaros menculik seorang warga AS, Philip Santore.

Ada yang menarik soal Philip Santore ini. Publik mengenal ia bekerja di lembaga AS bernama Agency for International Development (AID). Sekilas tampak ia orang biasa. Dalam “state of siege” diperlihatkan, setelah melalui proses interogasi dan penyeledikan Tupamaros, Santore adalah pejabat penting AS yang memberi nasehat kepada kepolisian di berbagai negara Amerika Latin tentang tatacara melumpuhkan gerakan rakyat.

Sebelum bekerja di Uruguay, Santore ditugaskan di Brazil dan Republik Dominika. Di kedua negara itu Santore melakukan tugas yang sama: memberikan latihan dan nasehat kepada kepolisian setempat tentang cara menangani gerakan rakyat. Diantaranya: diajarkan cara melakukan penyiksaan dengan menggunakan aliran listrik.

Yang menarik, selama melakukan interogasi terhadap tahanannya, anggota Tupamaros tidak pernah melakukan penyiksaan. Tupamaros juga rajin memeriksa kondisi kesehatan tahanannya. Ketika tahanannya sakit, Tupamaros membawanya ke Rumah Sakit secara sembunyi-sembunyi. Tupamaros juga mengumumkan kondisi kesehatan tahanannya secara detail melalui komunike mereka.

Selain itu, ketika proses dialog dengan pemerintah sudah buntu, Tupamaros tidak serta merta mengeksekusi tahanannya. Inilah tradisi gerilyawan kiri: nasib tahanan diputuskan secara demokratis. Sebelum memutuskan Santore dieksekusi, Tupamaros menanyakan kepada seluruh anggotanya. “Kau tau perkembangan situasi. Ini bukan persoalan sentimental, tidak sama sekali. Ini persoalan politik. Kau setuju atau tidak?” itulah pertanyakan Tupamaros kepada setiap anggotanya.

Tupamaros terkenal tahun 1960-an dan 1970-an. Berbeda dengan gerakan serupa di Eropa, Baader Meinhof/Red Army Faction (Jerman) dan Brigade Merah (Italia), Tupamaros menghindari kekerasan sebisa mungkin. Mereka tidak pernah melakukan pengeboman. Tupamaros melakukan aksi-aksi yang diharapkan berdampak ke massa rakyat, seperti merampok makanan dan membagi-bagikannya ke rakyat miskin, menculik CEO perusahaan dan memaksa pemerintah memenuhi tuntutan pekerja, membongkar korupsi pejabat, merampok Bank untuk mendanai gerakan, menyerbu gudang senjata, dan lain-lain.

Meski begitu, tak sedikit kaum marxis yang mengeritik Tupamaros. Bagi mereka, metode perjuangan Tupamaros tak ubahnya bentuk terorisme individual. Metode perjuangan tersebut sangat mengecilkan peranan massa dan hanya menjadikan rakyat pekerja sebagai penonton. Selain itu, bagi sebagian kaum marxis, metode penculikan politik ala Tupamaros bisa menekan pemerintah, tetapi gagal menciptakan dukungan dan mobilisasi massa rakyat.

Akhir tahun 1970-an, Tupamaros terus melemah akibat represi. Uruguay sendiri jatuh ke dalam kediktatoran militer. Kediktatoran ini baru berakhir tahun 1985. Beberapa tahun kemudian, beberapa aktivis Tupamaros mendirikan partai politik, yakni Gerakan untuk Partisipasi Kerakyatan (MPP). Kelak, MPP ini bergabung dengan sejumlah organisasi kiri lainnya membentuk Frente Amplio. Jose “Pepe” Mucija”, Presiden Uruguay saat ini, adalah bekas aktivis Tupamaros. Ia pernah dipenjara selama 14 tahun karena aktivitasnya bersama Tupamaros.  (Anda bisa menontonnya di sini)

Kusno

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut