Tuntutan Pendidikan Gratis Jelang Pemilu Chile

Aksi massa ratusan ribu mahasiswa Chile menuntunt pendidikan gratis dan berkualitas (Foto: Mark Teiwes)

Kamis, 11 April lalu, lebih dari 150.000 mahasiswa dan rakyat Chile berbaris di jalan-jalan Ibukota Santiago. Mereka menuntut pendidikan gratis dan berkualitas.

Mereka memulai aksinya dari Plaza Italia, sekitar pukul 11.00 waktu setempat, menuju ke Estación Mapocho. Meski aksi berjalan secara damai, tetapi polisi telah menggunakan gas air mata untuk membubarkan aksi ketika tiba di  Estación Mapocho.

Serangan polisi itu menyebabkan 109 orang ditangkap, termasuk seorang pemuda berusia di bawah 24 tahun, dan meluka sedikitnya 6 orang. Pimpinan gerakan mahasiswa mengutuk tindakan brutal kepolisian tersebut.

“Jika kami tidak melakukan aksi ini, kami tidak bisa berbicara tentang pendidikan, kesehatan, dan keadilan,” kata Nito Rojas, seorang peserta aksi, kepada Santiago Times.

Selain mengusung banyak spanduk dan poster, sebagian massa aksi juga ada yang menggelar teatrikal, menarik, dan memukul drum. Sebagian besar mahasiswa ini terafiliasi dalam Konfederasi Mahasiswa Chile (Confech).

“Kami berbaris di jalan karena ingin pendidikan gratis dan berkualitas,” kata Valentina Ibañez, mahasiswa semester pertama Universidad Alberto Hurtado. Menurutnya, pendidikan harus sama bagi setiap orang dan harus gratis.

Isu Pendidikan Menjelang Pemilu

Banyak yang beranggapan, gerakan mahasiswa Chile sudah mencapai puncaknya pada 2011 lalu, ketika jutaan mahasiswa dan rakyat Chile turun ke jalan-jalan. Demonstrasi tahun 2011 dianggap terbesar sejak berakhirnya kediktatoran.

Namun, beberapa saat kemudian, gerakan seakan memperlihatkan kelesuan. Jumlah mobilisasi pun mulai menurun. Akan tetapi, menjelang pemilu Chile tahun ini, gerakan mahasiswa kembali ke jalan.

Menurut Camila Vallejo, salah satu tokoh pemimpin gerakan mahasiswa Chile, jumlah mobilisasi memperlihatkan penguatan gerakan mahasiswa menjelang pemilu.

“Ini memperlihatkan bahwa gerakan mahasiswa dan gerakan sosial tidak kembali ke rumah dan mereka masih ada di sini (jalan),” katanya.

Menjelang pemilu Chile, pemerintahan sayap kanan Sebastian Pinera memang terjepit. Popularitasnya terus merosot. Di mata gerakan mahasiswa, Pinera dianggap gagal mengurus pendidikan Chile.

Menurut OECD, biaya pendidikan di Chile, khususnya perguruan tinggi, termasuk yang termahal di dunia.

Perbandingannya: keluarga di Skandinavia membayar 5% untuk pendidikan, sedangkan keluarga di AS membayar 40%, tetapi keluarga di Chile membayar 75%.

Selain menuntut nasionalisasi terhadap perusahaa tambang, mahasiswa juga menuntut pajak yang lebih tinggi bagi kaum kaya sebagai jalan membiayai pendidikan agar gratis.

Mereka juga menuntut agar pemerintah mengambil-alih kembali universitas yang sudah pernah diprivatisasi. Mereka yakin, pendidikan hanya bisa terjangkau apabila negara turun tangan langsung dalam mengelola sumber daya alam dan menggunakannya untuk pendidikan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut