Trisutji Djoeliati Kamal: Komposisi untuk Tanah Air

Tahun ini, 2016, Penghargaan Akademi Jakarta diberikan kepada Trisutji Djoeliati Kamal.

“Komponis perempuan pertama yang membawa dan mengangkat musik klasik Indonesia ke kancah dunia,”kata Maman Mahayana di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Kamis (29/12) dalam acara Penyerahan Penghargaan Akademi Jakarta. Maman Mahayana kali ini didapuk sebagai ketua dewan juri dengan anggota Karlina Supelli, Carla Bianpoen, Mudji Sutrisno dan Nirwan Dewanto. 

“Sebagai pianis, Trisutji Kamal tidak hanya piawai memainkan musik-musik klasik tetapi juga cerdas dalam menerjemahkan gagasannya dalam sebuah komposisi musik yang harmonis, canggih dan menyihir. Segalanya tentu tidak sekali jadi, tidak datang dari langit. Ada proses panjang perjuangan yang melatarbelakanginya dan visi serta tekad yang melatardepaninya. Mula-mula dibentuk oleh pendidikan keluarga dan latar belakang budaya Jawa yang melahirkannya. Tetapi masa kecilnya di luar rumah, ikut pula mempengaruhi dan mewarnai cara pandangnya dalam memaknai keberbagaian budaya. Pertumbuhan pada masa-masa sekolahnya yang dikepung kultur Melayu dan Batak, telah menjadikannya seorang multikulturalis yang memberi tempat yang sama dalam sikapnya memberi penghargaan pada kultur lain. Sikap budaya itulah yang kemudian coba diwujudkan dalam komposisi musik,” terang Maman Mahayana.

“Dengan kesadaran budaya yang berbagai-bagai itu, Trisutji coba mewujudkan dalam sejumlah karyanya, antara lain, mengeram dalam Sunda Seascapes, Persembahan, Indonesian Folk Melodies dan Balinese Percussion. Dalam karyanya yang lain, Trisutji juga coba menciptakan komposisi musik lewat usahanya menerjemahkan spiritualitas kejawen dalam penyatuan aku dan Sang Khalik yang lebur dalam manunggal ing kawula Gusti. Belakangan, masuk pula nafas Islam selepas ia menunaikan ibadah haji,” tambah Maman.

“Saya pribadi yang tidak terlalu ambisius, namun punya cita-cita untuk memiliki bahasa musik yang unik agar dapat mencerminkan latar belakang akar budaya nusantara di mana saya dilahirkan agar karya-karya dapat diterima di mana saja. Saya bersyukur sebagai orang Jawa dibesarkan di Binjai di lingkungan budaya Melayu, Batak, Islam dan etnik Tionghoa yang cukup kental,” kata Trisutji di tempat yang sama.

Sebagaimana kita ketahui, Trisutji lahir di Jakarta, 28 November 1936. Masa remajanya dihabiskan di Binjai, Sumatera Utara. Tahun 1955, Trisutji meninggalkan Indonesia pergi ke Eropa untuk studi musik dalam jurusan piano dan komposisi. Selama 12 tahun menekuni seni musik di Amsterdam, Paris dan Roma. Ia menyelesaikan studinya tidak hanya dalam piano dan komposisi namun termasuk wanita pertama di Italia yang lulus dalam Akustik Musik. Di Amsterdam pernah berguru pada komponis Belanda ternama: Henk Badings. Semasa mahasiswa di Roma, Trisutji memerkenalkan karya-karyanya di Wina, Praha, Moskow di Lomonosof University. Operanya Lorojonggrang merupakan opera Indonesia pertama dalam satu babak dan dua scena yang digelarkan di Castel St Angelo Roma, tahun 1956.

Malam Penghargaan pun kemudian dilanjutkan dengan menyajikan beberapa karya Trisutji.

Pada Nocturne untuk piano solo; dicipta tahun 1955 di Paris, yang dimainkan oleh pianis Hazim Suhadi beberapa kali terdengar nada-nada pentatonis bagaikan gamelan Jawa yang berlari  menyela dominasi  nada-nada khromatis Eropa seakan menyatakan: “Hai, aku ada!”

Lengkingan Soprano Aning Katamsi yang menggedor hati; diiringi pianis Ratna Katamsi yang  membawakan karya vokal  Aku, dari puisi Chairil Anwar seakan menegaskan keberpihakan dan keyakinan Trisutji   bahwa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika pasti …hidup seribu tahun lagi!

AJ Susmana

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut