Tolak WTO, LMND Yogyakarta Gelar Aksi ‘Tutup Mulut’

Puluhan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kota Yogyakarta menggelar aksi massa menolak pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Bali. Mereka menggelar aksinya di titik nol kilometer, Malioboro, Selasa (3/12/2013) malam.

Yang menarik, seluruh peserta aksi LMND ini melakukan aksi ‘tutup mulut’. Tak hanya itu, tiga orang peserta aksi bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Sementara satu peserta aksi mengenakan kostum ‘pocong’.

Menurut Ardy Syihabuddin, Ketua LMND Yogyakarta, aksi ini dilakukan untuk menarik simpati masyarakat terkait isu tuntutan mereka, yakni penolakan terhadap KTM WTO di Bali. “Ini merupakan aksi simpatik agar rakyat melihat tuntutan kita,” katanya.

Lebih lanjut Ardy menjelaskan, pertemuan WTO yang sedang berlangsung di Bali tidak untungnya bagi Indonesia. Pasalnya, menurut dia, proses liberalisasi pasar yang dimulai dengan ratifikasi WTO di tahun 1995 telah menyebabkan Indonesia semakin tergantung dengan berbagai produk impor.

Ia mencontohkan, di sektor pertanian, nilai impor pangan Indonesia di 2012 telah mencapai Rp 125 triliun (sekitar US$ 13 milyar). “Celakanya, berbagai produk pangan impor tersebut merupakan jenis komoditas yang sesungguhnya dapat dengan mudah ditanam dan dibiakkan di Indonesia,” tuturnya.

Tidak hanya di sektor pertanian, kata Ardy, agenda liberalisasi yang dipaksakan oleh WTO menyebabkan rendahnya daya-saing industri nasional, terbatasnya ketersediaan lapangan pekerjaan, hingga besarnya jumlah buruh migran dan kekerasan yang dialami oleh buruh migran perempuan Indonesia.

“Petani tidak butuh WTO, nelayan tidak butuh WTO, Buruh tidak butuh WTO, pedagang tidak butuh WTO, rakyat tidak butuh WTO. Yang dibutuhkan rakyat sekarang adalah terjaminya hak-hak ekonomi yang menjadi cita-cita proklamasi 17 agustus 1945 dengan cara menegakkan pasal 33 UUD 1945,” tandasnya.

Dalam aksinya, LMND Yogyakarta juga mengajukan lima tuntutan, yakni: pertama, LMND meminta delegiminasi WTO secepatnya; kedua, penghapusan keberadaan WTO di dunia; ketiga, pembatalan semua Free Trade Agreement (FTA); keempat, mengharapkan Indonesia kembali pada filosofi dan UUD 1945; kelima, perumusan model alternatif perdagangan Internasional berdasarkan keadilan sosial.

Ardy Punk 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut