Tolak Penutupan, Pekerja Duduki Stasiun Radio-TV Publik Yunani

Puluhan ribu rakyat Yunani berkumpul di sekitar halaman Stasiun Radio dan Televisi Yunani (ERT) sebagai bentuk protes atas keputusan pemerintah menutup stasiun Radio-Televisi milik publik tersebut.

Sejak Selasa (11/6) malam lalu, tepatnya pukul 23 .11 waktu setempat, polisi Yunani memutus semua siaran stasiun Radio-TV milik publik  Ellinikí Radiofonía Tileórasi (ERT).

Sebelumnya, pemerintah Yunani memutuskan untuk menutup stasiun TV dan Radio milik publik ini. Perdana Menteri Yunani Antonis Samaras menggambarkan ERT sebagai bentuk perusahaan sektor publik yang boros, tidak transparan, dan tidak efisien. “Kami menghapuskan ketidaan transparansi dan sampah,” kata Samaras.

Namun, kebijakan ini tidak hanya merugikan 2600 pekerja di ERT, tetapi hampir seluruh rakyat Yunani yang merasa memiliki ERT. “ERT adalah milik rakyat Yunani. ERT adalah satu-satunya pembawa suara publilk yang independen dan ERT harus tetap seperti itu. Kami mengecam pemerintah atas putusan ini,” demikian dinyatakan oleh Konfederasi Serikat Buruh Terbesar di Yunani, GSEE, dalam siaran persnya.

Sementara pemimpin utama oposisi di Yunani, Alexis Tsipras, mengganggap langkah Perdana Menteri Samaras sebagai sebuah kudeta. Menurutnya, TV publik biasanya ditutup hanya karena dua hal, yaitu sebuah negara diduduki pihak asing atau karena kudeta.

“Kita semua harus menolaknya, “ kata Alexis Tsipras, yang juga Ketua Partai kiri radikal Syriza. Ia meminta Presiden Yunani Karolos Papoulias untuk turun tangan mengatasi persoalan ini.

Alexis juga mengajak kaum pekerja di seluruh Eropa untuk mendukung perjuangan pekerja ERT. “Apa yang terjadi hari ini bukan hanya akan terjadi di Yunani, tetapi di seluruh Eropa,” tegasnya.

Merespon penutupan itu, para pekerja ERT tetap bertahan dan menyatakan bahwa stasiun TV tersebut dijalankan oleh kaum pekerja. Mereka sekarang mengudara 24 jam untuk mencegah Polisi datang mengambilalih stasiun TV tersebut. Untuk tetap bisa siaran, pekerja ERT meminjam frekuensi radio milik parta kiri Syriza, Partai Komunis (KKE), dan kelompok independen lainnya.

Sementara lebih dari 10 ribu rakyat Yunani berkumpul di halaman stasiun TV tersebut untuk memberikan dukungan. Jurnalis seluruh Yunani juga sudah menyatakan dukungan terhadap para pekerja ERT yang sedang menggelar aksi pendudukan dan menjalankan sendiri ERT.

Pekerja ERT Maria Kodaxi mengatakan, “mereka punya banyak jurnalis, teknisi, dan kru kameramen yang masih bertahan.” Selain itu, kata dia, mereka punya serikat pekerja yang kuat dan menikmati dukungan luas dari berbagai sektor masyarakat Yunani.

“Kami akan tetap bekerja energi dan semangat untuk menunjukkan bahwa TV publik adalah milik rakyat–bukan milik pemerintah,” katanya, seperti dikutip oleh media kiri, Socialist Workers.

Anastasia Zigou, salah seorang anggota serikat pekerja di ERT, menegaskan bahwa ERT bukanlah stasiun TV swasta yang dimiliki oleh satu orang yang dapat seenaknya mengambil keputusan penutupan. “Hal semacam ini tidak akan terjadi di negeri-negeri demokratis,” katanya.

Ia menegaskan, berbekal dukungan dan solidaritas dari rakyat Yunani, juga jurnalis dari seluruh Yunani, para pekerja ERT akan tetap bekerja 24 jam untuk menghadirkan siaran kepada rakyat Yunani.

Kafe dan ruang publik di Athena, Ibukota Yunani, penuh dengan orang yang menyaksikan siaran ERT via online.

Tiga serikat buruh terbesar di Yunani, yakni GSEE, ADEDY, dan PAME (sayap buruh Partai Komunis-KKE), telah melancarkan pemogokan umum sebagai bentuk dukungan terhadap pekerja ERT. “Kami mengajak setiap pekerja dan warga negara untuk menggulingkan pemerintahan pembawa bencana,” demikian seruan yang dibuat oleh ADEDY.

Dengan begitu, hampir semua layanan transportasi publik, seperti kereta api, bus, dan penerbangan, akan berhenti beroprasi. Layanan rumah sakit juga akan bekerja terbatas.

ERT memulai siaran radio-nya tahun 1930-an. Lalu, pada tahun 1960-an, ERT meluncurkan siaran Televisi. Stasiun radio-TV publik ini pernah ditutup di bawah kediktatoran militer tahun 1967 hingga 1974.

Keputusan pemerintah Yunani menutup ERT tidak lepas dari desakan dari persekongkolan jahat “Troika”, yakni IMF, Uni Eropa, dan Bank Sentral Eropa. Pemerintahan Yunani saat ini, yang didominasi oleh partai kanan “Demokrasi Baru”, sangat patuh menjalankan kebijakan penghematan yang disodorkan oleh kelompok Troika tersebut.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut