Headlines  »  Tokoh

Makcik Saripoh (Sarifah), Pejuang Pembebasan Nasional Malaya

Selasa, 11 Februari 2014 | 15:24 WIB 0 Komentar | 386 Views

Siti Norkiah 6

Perjuangan rakyat Malaya (Malaysia) menghadapi kolonial Inggris juga mengandung banyak kisah menarik di dalamnya. Kisah-kisah ini bisa tentang banyak orang, sedikit orang, atau orang per orang; tentang pribadi-pribadi yang mengabdikan diri dalam perjuangan itu. Dengan sumber bacaan yang terbatas, penulis ingin berbagi sedikit kisah tentang Siti Norkiah, alias Tun Minah, alias Makcik Saripoh, wanita mulia yang baru wafat tanggal 4 Februari 2014 lalu.

Terlahir tahun 1922 sebagai Siti Norkiah binti Mahmud Baginda, dengan ayah Mahmud Baginda dan ibu Saleha Binti Mat Yosuf. Mahmud Baginda, ayah Siti, sempat menjadi kader Kesatuan Melayu Muda (KMM), organisasi yang didirikan oleh Ibrahim Yaakob untuk menentang Kolonial Inggris, sekaligus memperjuangkan penyatuan Semenanjung Malaya dengan Republik Indonesia menjadi Panji Melayu Raya.

Sementara kakeknya bernama Baginda Abdullah Murah, meninggalkan Sumatera setelah gagalnya pemberontakan di Indonesia. Dari referensi yang penulis temui, tidak begitu jelas apakah yang dimaksud adalah pemberontakan tahun 1926-1927 yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), atau ada pemberontakan lain sebelumnya.

Tapi akar sejarah keluarga seperti disebutkan di atas telah berpengaruh besar bagi kiprah politik Siti Norkiah. Sejak kanak-kanak, Siti dan Zainab Mahmud, adiknya, sering mendapat tuturan Mahmud Baginda tentang perjuangan kakeknya; apa dasarnya sang kakek menentang kolonial Belanda, bagaimana perjuangan itu dilakukan, dan sebagainya. Ketika tumbuh remaja ia sudah dilibatkan dalam berbagai kegiatan KMM dan turut mengatur organisasi di tingkat lokal. Kegiatan ini terus berlangsung secara tertutup selama masa pendudukan Jepang, sampai berakhirnyaPerang Dunia II tahun 1945.

Latar belakang pergerakan

Jepang yang kalah pergi, Inggris sang pemenang kembali. Organisasi-organisasi perjuangan yang berada di tanah Malaya segera melakukan konsolidasi-konsolidasi dan penyusunan kembali kekuatan. Spektrum politik di Malaya menguat pada penolakan kehadiran kolonial Inggris.

Di bulan Oktober 1945 Parti Kebangsaan Melayu Melaya (PKMM) didirikan. PKMM dikategorikan sebagai partai nasionalis kiri yang dekat dengan Partai Komunis Malaya (PKM). Partai ini kemudian mulai membentuk sayap-sayap organisasi seperti AWAS (Angkatan Wanita Sedar), Angkatan Pemuda Insaf (API), dan kemudian mendirikan sebuah front persatuan bernama PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) di tahun 1948.

Selain itu, Partai Komunis Malaya (PKM) mengembangkan sayap organisasi sektoral, yakni Barisan Tani Malaya (BTM) dan Kesatuan Buruh Melayu. PKM juga menyertakan kekuatan pasukan yang sebelumnya sempat dibantu oleh Inggris untuk menghadapi Jepang. Organisasi tersebut adalah Malayan People Anti Japanese Army (MPAJA) yang awalnya berbasis di Singapura.

Ketika AWAS mendirikan cabang di negara bagian Pahang, Siti Norkiah terpilih sebagai ketua. Ia  merangkap pula sebagai ketua di kota Benta (kota terbesar di Pahang). Siti semakin tenggelam dalam perjuangan rakyat negeri Malaya. Ia hampir selalu hadir dalam rapat-rapat umum, memberikan pendidikan-pendidikan politik kepada massa, membangun struktur organisasi, sampai mengatur jalannya organisasi.

Gelombang politik menentang kehadiran kembali kolonial Inggris semakin tinggi, pihak Inggrispun kelabakan. Mereka menjalankan siasat politik pecah belah dengan upaya mendirikan negara boneka, merangkul unsur-unsur di tanah Malaya yang pro-penjajah.

Di pihak lain, PKMM bersama PKM terus melakukan aksi-aksi menentang kolonial Inggris, mulai dari pemogokan buruh sampai dengan aksi-aksi sabotase. Reaksi pemerintah kolonial Inggris tidak tanggung-tanggung. Tanggal 16 Juni 1948 negara ditetapkan dalam keadaan darurat. Para pengurus PKMM dan PKM ditangkap, ribuan dari mereka dihukum mati, sebagian lain dipenjarakan.

Dalam situasi itu Siti Norkiah memilih hidup berpindah-pindah di basis-basis massa yang umumnya pendukung AWAS dan API. Ia seperti ikan di dalam air. PKMM, partai yang selama ini menjadi alat pengabdiannya, porak-poranda dengan berlakunya keadaan darurat. Hanya PKM yang bertahan berkat pengalamannya mengorganisasikan diri di bawah tanah. Pada tahun akhir tahun 1948 Siti Norkiah segera bergabung ke PKM lewat perantara Kamarulzaman Teh, seorang pimpinan PKM yang pernah bertugas membantu pengorganisiran PKMM.

Perjuangan bersenjata

Dalam keterlibatannya di perjuangan bersenjata, pada awalnya Siti Norkiah bergabung dengan resimen ke-VI Tentara Pembebasan Nasional Malaya (TPNM) yang terdiri dari para prajurit berlatar etnis Tionghoa. Ia kemudian bergabung dengan regu yang berisi kawan-kawan berlatar etnis Melayu di bawah pimpinan Musa Ahmad. Baru pada tahun 1953 mereka bertemu dengan resimen ke-X (ke sepuluh) yang merupakan satu-satunya resimen khusus berisi prajurit berlatar etnis Melayu diantara 12 (dua belas) resimen TPNM.

Anggota resimen ke-X (ke sepuluh) yang merupakan satu-satunya resimen khusus berisi prajurit berlatar etnis Melayu diantara 12 (dua belas) resimen TPNM.

Anggota resimen ke-X (ke sepuluh) yang merupakan satu-satunya resimen khusus berisi prajurit berlatar etnis Melayu diantara 12 (dua belas) resimen TPNM.

Di Resimen ke-X inilah Siti Norkiah mendapat julukan baru, yakni Tun Minah. Tun dalam bahasa Melayu merupakan gelar, seperti tuanku atau tunku. Kala itu TPNM telah melakukan gerak mundur strategis ke bagian utara semenanjung Malaka, di perbatasan antara Malaysia dan Thailand.

Tahun 1957 Inggris terpaksa memberi kemerdekaan kepada Malaya yang diwakili oleh UMNO, tapi bidang ekonomi dan kemiliteran tetap dipegang oleh Inggris. Tentang kemerdekaan ini, seorang mantan gerilyawan, Samsiah Fakeh, dalam memoarnya menyebutkan pengakuan seorang veteran UMNO, Sri Abdul Samad Idris: “Satu sebab lain yang memaksa Inggris mengalah kepada UMNO ialah adanya pemberontakan bersenjata dicetuskan oleh Komunis di hutan-hutan”.

Tidak kurang dari 400.000 tentara commonwealth (persemakmuran Inggris)dikerahkan untuk menumpas gerilyawan PKM. Mereka terdiri dari tentara Inggris, Fiji, Selandia Baru, Australia, dan Nepal.

Dalam kondisi ini Tun Minah mendapat tugas mengorganisir rakyat di kampung-kampung di sekitar perbatasan untuk dijadikan “basis merah” yang membantu perbekalan maupun sokongan lainnya kepada TPNM. Konon, Siti sangat dicintai oleh rakyat yang diorganisirnya sehingga ia kemudian mendapat panggilan sayang, Makcik Saripoh. Belasan sampai puluhan kampung berhasil diorganisir Mak Saripoh untuk mendukung gerilya, sebelum ia ditugaskan mengikuti pasukan penggempur Resimen X pada tahun 1969.

Hari-hari setelahnya Siti Norkiah terlibat dalam perjalanan berat pasukan tempur ini. Berulangkali mereka menghadapi serangan pasukan koalisi persemakmuran, dan juga menghadapi berbagai kampanye hitam oleh penguasa yang mengibliskan PKM. Dampak dari kampanye hitam ini jelas, berkurangnya pasokan barang, terutama makanan, dari rakyat kepada gerilyawan. Perjuangan gerilyawan PKM semakin terdesak, tapi tidak menyerah.

Perdamaian

Setelah bergerilya selama lebih dari empat puluh tahun, perundingan damai antara pemerintah Malaysia dengan PKM diadakan. Perundingan tingkat rendah diadakan sejak tahun 1988, dan Siti Norkiah turut serta dalam putaran kedua perundingan tersebut sebagai rombongan Resimen Kesepuluh. Sampai tanggal 22 Desember 1989 perjanjian damai ditandatangani di Hotel Lee Gardens, Hadyai, Thailand.

Siti Norkiah tercatat sebagai satu di antara 1.188 bekas gerilyawan yang meletakkan senjata. Mereka dibebaskan dari berbagai tuntutan hukum Malaysia dan diberikan sejumlah fasilitas (seperti tanah, rumah, dan modal/uang) oleh pemerintah Malaysia dan Thailand. Sebagian kecil diantara mereka kembali ke Malaysia, dan sebagian besar yang lain memilih menetap di sebuah perkampungan di perbatasan Thailand-Malaysia yang khusus dibangun oleh pemerintah kerajaan Thailand.

Siti Norkiah sendiri pilih menetap di Kampung Perdamaian Sukhirin di Thailand bersama kawan-kawannya seperti mantan komandannya Abdullah C.D., Rashid Maidin, serta suaminya, Abu Samah Mohd. Kassim. Di tahun 1999 Siti Norkiah bersama Abu Samah Mohd. Kassim sempat menunaikan ibadah haji. Beberapa kali juga ia sempat kembali ke tanah Malaysia untuk bertemu keluarga dan juga bertemu Sultan Pahang di tahun 2002.

Tanggal 4 Februari 2014,kawan-kawan seperjuangan di Kampung Perdamaian Sukhirin menghantar kepergian Siti Norkiah, Srikandi Dari Pahang, yang telah berusia 92 tahun. Ia dimakamkan di samping pusara suaminya di pemakaman Sungai Golok, Thailand.

Dominggus Oktavianus

Tags: , , ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :