TNI Dan Polri Belum “Melek” Berdemokrasi

Kasus penyerbuan Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, Kamis (7/3) pagi, oleh oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI), mendapat kritikan banyak pihak.

“Kejadian itu menunjukkan bahwa TNI dan Polri belum melek berdemokrasi. Seharusnya, kalau terjadi persoalan diantara kedua belah pihak, mereka mengedepankan dialog. Bukannya menggunakan fisik dan kekerasan,” kata Staff Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), Alif Kamal, di Jakarta, Kamis (7/3).

Menurut Alif, sebagai alat negara, kedua institusi itu seharusnya memberikan contoh bagaimana mereka menghormati hukum dan proses demokrasi. “Kalau ada ketidakpuasan soal proses hukum, kan ada prosedur hukum lain yang bisa ditempuh,” ujarnya.

Alif juga menyayangkan tindakan para penyerang yang kabarnya membawa bendera merah putih saat melakukan penyerangan. “Saya lihat foto yang tersebar di jejaring sosial, itu ada yang membawa bendera merah-putih. Saya kira, itu tidak tepat. Mereka tidak sedang berjuang melawan penjajah atau musuh yang mengancam negara kita,” ungkap Alif.

Alif mengingatkan, sebagai institusi keamanan negara, TNI dan Polri mestinya tunduk pada UUD 1945 dan Pancasila, bukan pada superioritas dan semangat korps masing-masing.

Dia menganggap kejadian penyerbuan Mapolres Oku, juga kasus serupa di berbagai tempat di Indonesia, menandai bahwa TNI dan Polri gagal melakukan reformasi secara internal.

Alif pun berharap, TNI dan Polri lebih menekankan pendidikan demokrasi dan HAM pada anggotanya. “TNI dan Polri harus lebih menghargai HAM. Juga, ketimbang saling serang-menyerang, lebih baik keduanya melawan imperialisme yang sekarang merusak bangsa ini,” tegasnya.

Lagi pula, ungkap Alif, dalam setiap kali terjadi bentrok antara TNI dan Polri, rakyat sipil-lah yang banyak dirugikan. “Bayangkan, kalau dua kekuatan bersenjata bentrok, ya, rakyat akan mengalami trauma dan ketakutan,” katanya.

Berdasarkan catatan Komisi untuk Orang Hilang (Kontras), kata Alif, setidaknya sudah terjadi 26 kali bentrok antara TNI dan Polri, yang menewaskan 11 orang, tujuh dari Polri dan empat dari TNI.

Untuk diketahui, seperti diberitakan banyak media, aksi penyerangan itu dipicu oleh kasus penembakan anggota TNI, Pratu Heru Oktavianus, hingga tewas oleh oknum polisi Brigadir Wijaya pada 27 Januari 2013

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut