Timor Leste Tolak Penjarahan Gas Alam Oleh Perusahaan Australia

Selasa, 1 Juni 2010 | 02.59 WIB | Dunia Bergerak

DILI, Berdikari Online: Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao, menolak tawaran perusahaan Australia, Woodside, untuk mengembangkan platform mengapung gas alam cair (LNG) di atas ladang gas Greater Sunrise, kawasan Laut Timor, Senin (31/5) karena dianggap tidak menguntungkan rakyat, kata Kantor berita Reuters.

Pada hari minggu, juru bicara Woodside berkomentar dalam suratkabar Australia, The Age: “Karena ladang Greater Sunrise terletak 80 persen di perairan Australia dan 20 persen di perairan bersama, maka Woodside berkomitmen bekerjasama dengan pemerintahan kedua negara untuk mengembangkan ladang ini.”

Sementara itu Kampanye Keadilan Laut Timor (Timor Sea Justice Campaign), yang berbasis di Australia, menginformasikan bahwa apabila mengacu pada hukum Internasional mengenai perbatasan maritime, maka sebagian besar, kalau bukan seluruhnya, ladangan gas tersebut dimiliki oleh Timor Leste, sebab ia terletak sekitar 170 Km dari Timor Leste dan 450 Km dari Darwin.

Empat tahun lalu, Australia dan Timor Leste mencapai kesepakatan 50/50 untuk pembagian royalti yang bernilai milyaran dolar, namun ini tak menyinggung garis perbatasan maritim menurut Hukum Internasional yang, karena berbagai alasan sejarah dan maneuver diplomatic Australia, belum pernah dinikmati oleh Timor Leste.

Bagi hasil ini lebih baik dari tawaran Australia sebelumnya, yang hanya memberikan royalty sebesar 18%. Dan, Timor Leste bersikeras agar gas tersebut dapat dipipakan ke Pantai Selatan Timor Leste, supaya dapat dipakai membangun industri petroleum sendiri dan membuka akses lapangan kerja.

Partner lain dalam pengembangan ladang gas tersebut adalah raksasa minyak AS ConocoPhillips, Shell dan Osaka Gas dari Jepang.

Minggu lalu, The Age melaporkan Woodside menarik diri (walked out) dari pertemuan dengan regulator Otoritas Petroleum Nasional di Dili, setelah rancangan pembangunan platform mengapungnya ditolak.

Otoritas Petroleum Nasional mendesak agar Woodside mengajukan dua tawaran rencana paralel berupa pipa gas ke Darwin dan Timor Leste.

Pada bulan Januari, Reuters mengutip pernyataan direktur komunikasi kementrian sumber daya alam Timor Leste, Manuel Mendonca. Dia berkata, “Pemerintah kami tak akan menyetujui proposal mereka (Woodside) karena mereka hanya memiliki dua opsi: satu untuk membawa gas tersebut melalui pipa ke Darwin dan lainnya dengan pengembangan di pantai. Kedua opsi ini tidak menguntungkan negeri dan rakyat kami.”

Pada awal Mei lalu, pemerintah Timor Leste juga mengirimkan surat protes ke Bursa Saham Australia (ASX) atas laporan akhir tahun Woodside yang mengesankan, bahwa kelanjutan proyek ladang gas Greater Sunrise sudah tidak memerlukan persetujuan dari pemerintah Timor Leste.

Sehubungan dengan meningkatkan tekanannya terhadap Woodside, Xanana mengatakan, “banyak negeri berkembang menjadi korban raksasa korporasi sumber daya alam yang mengeksploitasi dan menjarah sumber daya alam mereka yang berdaulat.”

“Timor Leste akan menjadi negeri yang tercatat dalam sejarah sebagai bangsa yang menghentikan itu,” Kata Xanana.

Pihak Woodside mengatakan, penolakan pemerintah Timor Leste terhadap rencana pengembangan tersebut adalah prematur, karena LNG mengapung, yang merupakan eksperimen baru, merupakan rencana yang paling menarik dan mendatangkan devisa bagi warga Timor Leste dibandingkan opsi lainnya.

Xanana, yang mantan pejuang gerilya, menegaskan bahwa negerinya tidak akan membiayai teknologi yang belum terbukti, sebagaimana diajukan Woodside, yang hanya menguntungkan perusahaan asing dan pemegang saham.

Pada awal tahun ini, Manuel Mendoca, sebagai salah satu negosiator Timor Leste, menyatakan bahwa perusahaan minyak Malaysia, Petronas, juga dapat diminta mengembangkan ladang gas tersebut. Petronas dianggap berkualifikasi, banyak menolong pengembangan sektor migas, dan siap membangun pabrik LNG.

Sebagaimana dikutip oleh The Age, Xanana menyatakan: “Di Timor-Leste ini kami berjuang keras dan panjang untuk kemerdekaan kami, di tanah ini bersimbah darah mereka yang berjuang untuk kemerdekaan, jadi kami menghormati hukum yang kami buat, kedaulatan kami dan institusi demokratik kami.”

“Hingga ada kesepakatan yang menguntukan dan membatu Rakyat Timor Leste untuk keluar dari kemiskinan. Kami menanti generasi-generasi mendatang untuk mengambil pelajaran, bahwa kemanusiaan lebih utama dari kenyataan komersil. Kami akan menjadi bangsa yang diikuti lainyya…raksasa-raksasa minyak akan dipaksa mengubah tingkah laku mereka yang tidak pantas,” ujarnya. (Data Brainanta)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • patricio

    saya mendukung Timor,karena saya adalah cucu tercita dari negara baru ini.Tetap semangat saudara-saudaraku,tidak akan ada negara mana pun yang akan mengambil kekayaan alam kita ini.Semangat dan semangat terus untuk menghadapi segalah macam \perubahan\.

  • Bung ROY

    wah kalau di indonesia tawaran perusahaan asing itu sudah pasti di setujui oleh para Pejabatnya karena pejabatnya bodoh dan mikirkan perutnya sendiri. … rakyat tambah miskin masa bodoh…. bravoo untuk pak xanana. smoga kalian smakin maju saudaraku di TL