Tiga Syarat Pemimpin Jakarta

Bagi guru besar Universitas Indonesia (UI), Prof.Dr. M. Budyatna, MA, calon pemimpin Jakarta di masa depan memerlukan tiga syarat agar bisa memimpin dengan baik.

Ketiga syarat itu adalah jujur dan tidak korup, berani membuat kebijakan dan mengambil resiko atas kebijakannya itu, dan selalu memihak kepentingan rakyat.

Pernyataan itu dilontarkan Prof.Dr. M. Budyatna dalam sebuah diskusi bertajuk “Jakarta dan Kepemimpinan Masa Depan”, bertempat di rumah makan sunda Pancoran, siang tadi (11/4).

Dia mencontohkan tipe kepemimpinan yang bagus itu seperti Chavez. “Saya suka dengan Chavez, terutama program-program kerakyatannya.”

Dulu, katanya, Jakarta punya gubernur yang cukup bagus, yaitu Ali Sadikin. “Meskipun kebijakannya sempat kontroversial terkait judi, tetapi dia berani mengambil resiko dengan kepentingan rakyat.”

Dalam hal pembangunan, Prof Budyatna juga memuji kepemimpinan Bung Karno yang, ketika itu, berhasil membangun banyak gedung atau tugu bersifat monumental di ibukota Jakarta.

Berbeda dengan Gubernur Fauzi Bowo, meskipun punya slogan “serahkan kepada ahlinya”, tetapi terbukti kedodoran mengurus Jakarta. Di penghujung pemaparannya, Prof Budyatna menegaskan bahwa Jakarta memerlukan pemimpin tegas dan pro-rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • IBRAHIM ISA
    Selasa, 12 April 2011
    ———————

    Syarat-syarat kepemimpinan untuk menjadi calon gubernur Jakarta, dinyatakan oleh guru besar Universitas Indonesia (UI), Prof.Dr. M. Budyatna, MA adalah jujur dan tidak korup, berani membuat kebijakan dan mengambil resiko atas kebijakannya itu, dan selalu memihak kepentingan rakyat.

    Selain itu juga calon gubernur tsb harus berani menangani masalah pelanggaran HAM terbesar yang terjadi di Jakarta sekitar Peristiwa 1965, dimana puluhan ribu warganegara tak bersalah diboyong ke penjara, disiksa dan dibunuh. Sebagian terbesar dibuang ke Buru. Tanpa proses hukum apapun. Penguasa militer di bawah Jenral Suharto, seperti dinyatakan oleh Prof Magnis Suseno, adalah yang bertanggungjawab.

    Selamat berjuang!