Tidak Penuhi Janji Pemilu, Presiden Peru Digoyang Aksi Mogok Pekerja

Terpilihnya Ollanta Humala, seorang bekas kolonel, sebagai Presiden Peru pada pemilu Juli 2011 lalu, sempat melambungkan mimpi-mimpi rakyat Peru akan datangnya perubahan.

Maklum, Humala dianggap tentara kiri. Ia digadang-gadang mengikuti jejak Hugo Chavez di Venezuela. Seperti Chavez, ia juga pernah memimpin kudeta terhadap Alejandro Toledo, Presiden Peru yang dianggap menjual negerinya kepada pihak asing.

Pada saat kampanye pemilu, Humala berjanji akan mendistristribusikan kekayaan Peru kepada kaum miskin. Tak hanya itu, ia menjanjikan akan mengubah orientasi ekonomi dari pro-neoliberal menjadi memihak kepentingan bangsanya.

Namun, sejak terpilih hingga sekarang, Humala tidak menepati janjinya. Janji-janji redistribusi kekayaan nasional tidak kunjung dipenuhi. Ia tetap mempertahankan politik upah murah untuk menyenangkan investor yang berlomba-lomba masuk ke Peru. Ia juga terus mengobral kekayaan tambangnya kepada korporasi asing, yang menyebabkan penggusuran terhadap masyarakat adat dan ancaman kerusakan ekologis.

KHumalaarena itu, pada tanggal 26 September lalu, serikat buruh di Peru melancarkan pemogokan nasional selama 48 jam. Pemogokan ini diorganisir langsung oleh serikat buruh terbesar di negeri itu, yakni Konfederasi Umum Pekerja Peru (CGTP).

Menurut Sekretaris Jenderal CGTP,  Mario Huamán, aksi pemogokan ini dimaksudkan untuk menolak rancangan undang-undang (RUU) perburuhan yang memudahkan PHK bagi pekerja di sektor publik.

“Kami ingin mengingatkan Presiden Ollanta Humala bahwa ia banyak berbicara perubahan. Ia berbicara tentang perubahan besar di bidang ekonomi, sosial, dan politik. Namun tak satupun perubahan terjadi. Karena itu, kami mengingatkan agar dia memenuhi janjinya,” kata Huaman.

Di Lima, Ibukota Peru, demonstran berbaris menuju ke gedung Kongres Nasional (DPR) dan kantor Kepresidenan. Mereka ingin menyampaikan penolakan terhadap kebijakan ekonomi Presiden Humala. Namun, barisan massa buruh dihadang oleh polisi anti huru-hara sebelum mencapai pusat kota.

Di kota Trujillo, yang terletak 500 kilometer dari Ibukota Lima, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran. Sementara demonstran membalas dengan lemparan batu dan membakar ban bekas di tengah jalan.

Bentrokan juga terjadi di kota-kota lain seperti Ancash , Ayacucho , Cusco dan Iquitos. Namun polisi belum mengkonfirmasi adanya korban ataupun demonstran yang ditangkap.

Menteri Ketenagakerjaan Peru, Nancy Laos, menuding aksi mogok ini tidak beralasan. Ia juga menganggap aksi mogok ini tidak mengikuti prosedur yang resmi.

Sekjend CGTP Mario Huamán mengklaim ada 350 ribu orang dari beragam sektor sosial yang bergabung dalam aksi mogok nasional ini di seantero Peru. Para pekerja tambang, terutama yang tergabung dalam Federasi Pekerja Tambang dan Metalurgi, juga berpartisipasi dalam mogok besar ini.

Ironisnya, pada saat para buruh di negerinya sedang melancarkan pemogokan, Presiden Ollanta Humala malah mendapat kehormatan sebagai pemencet bel tanda berakhirnya transaksi di bursa Wall Street. Di sana, dengan bangga Humala menyebut Peru sebagai tempat penuh harapan dan paling menjanjikan bagi investasi.

Aksi protes ini bukan pertama kalinya. Pada bulan Agustus lalu, para dokter dan perawat di seluruh Peru juga menggelar aksi pemogokan. Mereka menuntut janji Presiden Humala terkait perbaikan kesejahteraan pekerja sektor kesehatan.

Tak hanya itu, para petani dan masyarakat sudah turun ke jalan-jalan sejak Presiden Humala melanjutkan kebijakan obral kekayaan alam, terutama tambang, kepada perusahaan asing. Ironisnya, seperti juga pendahulunya dari sayap kanan, Alan Garcia, Humala juga mengirim tentara dan polisi untuk menumpas perlawanan petani. Akibatnya, di 100 hari pertama pemerintahannya, kebijakan Humala telah menyebabkan belasan petani tewas.

Baru-baru ini sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Ipsos menunjukkan bahwa tingkat penerimaan terhadap pemerintahan Ollanta Humala jatuh drastis hingga 27%. Situasi ini kian diperparah dengan hilangnya dukungan dari sektor-sektor sosial, terutama buruh dan petani, yang berjasa bagi kemenangan Ollanta Humala.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut