Terusan Kra Tidak Mengancam Proyek Maritim Indonesia

Proyek Terusan Kra, yang akan menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan, tentu mengancam keberadaan Selat Malaka sebagai jalur lalu-lintas pelayaran internasional.

Pasalnya, kanal baru ini akan mempermudah kapal atau transportasi laut dari Samudera Hindia ke Laut Cina Selatan tanpa harus melewati Selat Malaka. Begitu juga sebaliknya. Jalur ini juga akan menghemat waktu perjalanan hingga 72 jam dan menghemat penggunaan bahan bakar sebesar 350 ribu USD.

Apakah keberadaan Terusan Kra itu akan berdampak pada ambisi besar Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia?

Menurut Direktur Maritim Research Institute (MARIN Nusantara), Makbul Muhammad, kehadiran Terusan Kra tidak akan serta merta mengalihkan semua pelayaran internasional yang melalui Selat Malaka.

“Dengan jumlah 209 kapal yang melewati Selat Malaka per hari, tentu Selat Malaka masih menjadi pilihan jalur pelayaran Internasional. Tidak semua beralih ke Terusan Kra,” kata Makbul dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (20/3/2017).

Menurut dia, Indonesia harus melihat Selat Malaka dari dua dimensi, yakni dimensi ekonomi dan geopolitik. Secara ekonomi, ada 80.000 kapal yang melintasi jalur Selat Malaka per tahunnya.

“Apakah itu memberi efek ekonomi kepada Indonesia?” ujar Makbul.

Faktanya, ungkap dia, selama ini tidak ada aktivitas ekonomi Indonesia di Selat Malaka. Artinya, Indonesia tidak punya ketergantungan ekonomi terhadap Selat Malaka. Berbeda dengan Singapura yang dapat memfasilitasi berbagai kebutuhan pelayaran dengan pelabuhan transhipment berstandar ISPS Code.

“Selat Malaka bisa dianalogikan semacam tol darat. Nah, Singapura ini rest area-nya. Jadi, secara ekonomi Singapura bergantung pada Selat Malaka,” terangnya.

Secara geopolitik, lanjut Makbul, selama ini ada kesan Indonesia memiliki bargaining position dalam percaturan geopolitik global karena faktor geografis dengan Selat Malaka.

Namun, ujar dia, kekuatan ekonomi dan politik suatu negara justru yang paling menentukan bargaining position negara tersebut dalam percaturan geopolitik global.

“Bagaimana negara tersebut mapan dan mandiri secara ekonomi dan sejauh mana negara tersebut mampu menggalang kekuatan dalam beraliansi dipanggung internasional,” terangnya.

Bagi Makbul, kekuatan geopolitik Indonesia justru terletat pada bonus geografi dan demografi. Dua hal ini juga yang seharusnya menjadi modal Indonesia untuk mewujudkan Poros Maritim Dunia.

Di tempat terpisah pengamat intelijen dan pertahanan, Susaningtyas NH Kertopati, juga berpendapat yang sama. Menurutnya, proyek Terusan Kra yang melibatkan Cina itu tidak akan berdampak banyak bagi Indonesia.

“Dengan jalur kapal langsung yang ke Cina, kan bagus saja. Berarti kita bebas externalities. Kapal jurusan Tanjung Priok ya bisa langsung bablas ke pelabuhan tanpa harus singgah lagi,” paparnya.

Menurut dia, jika proyek Terusan Kra jadi terbangun, yang jelas merugi adalah Singapura dan Malaysia. Sementara Indonesia justru diuntungkan oleh berkurangnya polusi laut di Selat Malaka.

Dia melanjutkan, jika terusan Kra benar-benar terbangun, Pulau Sabang akan hidup karena terletak di pintu masuk Terusan Kra dari laut Andaman.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut