Terjadi Lebih Dari 1000 Pembunuhan oleh Polisi AS Sepanjang 2015

Amerika Serikat menghadapi persoalan serius dengan tingginya angka pembunuhan oleh aparat kepolisian yang mencapai 1185 sampai akhir tahun ini. Dari jumlah ini sebanyak satu per sepuluh dari yang ditembak dan terbunuh adalah orang yang tidak bersenjata. Bahkan ada di antara mereka adalah orang difabel.

Data ini juga menyiratkan sikap kepolisian AS yang bias rasial karena hampir separuh dari jumlah yang terbunuh tersebut adalah orang ras kulit hitam. Proporsi angka ini sangat besar mengingat ras kulit hitam hanya enam persen dari total populasi AS.  Dari sekitar 100 orang tak bersenjata yang ditembak mati oleh polisi, 40 persen di antaranya adalah kulit hitam.

Sepanjang tahun 2015 ini telah banyak terjadi protes dari kalangan aktivis maupun warga kulit hitam atas tabiat buruk kepolisian. Baru-baru ini ribuan aktivis dan warga kulit hitam mengadakan aksi protes besar di Mall of America, Mineapolis, untuk memprotes pembunuhan atas seorang kulit hitam berusia 24 tahun, bernama Jamar Clark.  Clark ditembak di kepala setelah terlibat pertengkaran dengan polisi dan paramedic di utara kota itu. Protes ini menamakan diri “Black Live is Matter” dan mengangkat tema Black Christmas (Natal Hitam) telah memaksa mall terbesar di Amerika tersebut tutup.

Sebelumnya, bulan April lalu, protes besar lain yang berujung kerusuhan pecah di Baltimore setelah seorang kulit hitam, Freddie Gray, tewas dalam tahanan polisi. Sempat beredar rekaman suara Freddie yang berteriak kesakitan sebelum diangkut ke mobil polisi.

Dalam beberapa kasus aparat yang terlibat dalam pembunuhan ini telah diproses hukum melalui pengadilan. Namun  tindakan ini belum mengubah tabiat brutal kepolisian setempat yang semakin banyak terekam dan muncul ke permukaan.

Kasus yang paling memilukan dialami Jeremy McDole, 28 tahun, yang ditembak mati di atas kursi rodanya bulan September lalu. Polisi beralasan McDole membawa senjata api di kursi roda tersebut dan menolak melepaskannya. Namun rekaman video membuktikan alasan tersebut bohong belaka.

teleSUR/The Guardian/Mardika Putera

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut