Terjadi Kudeta Di Republik Afrika Tengah

Di tengah gonjang-ganjing kudeta di Indonesia, sebuah kudeta yang benar-benar serius terjadi Republik Afrika Tengah. Tanpa diduga-duga sebelumnya, kelompok pemberontak Seleka berhasil merebut Istana Kepresidenan Afrika Tengah.

Tak hanya itu, kelompok pemberontak juga berhasil menguasai total Ibukota Afrika Tengah, Bangui. Presiden Afrika Tengah, Francois Bozize, yang sudah mencium gerak laju pemberontak, berhasil menyingkir ke Kamerun.

Sebelum Istana Kepresidenan jatuh ke tangan pemberontak, tembak-menembak berlangsung sengit di Bangui, pada hari Minggu (24/3) lalu. Sementara sejumlah tokoh dan pusat bisnis dijarah oleh massa.

Afrika Tengah punya cadangan emas, intan dan uranium yang melimpah. Namun, sejak merdeka dari Perancis tahun 1960, negeri ini tidak pernah lepas dari kediktatoran dan konflik bersenjata.

Presiden Afrika tengah terguling, Francois Bozize, adalah bekas pejabat militer di era kediktatoran Jean-Bédel Bokassa. Bokassa sendiri berkuasa melalui kudeta 1965. Begitu berkuasa, ia membersihkan lawan-lawan politiknya dengan brutal.

Namun, setelah Bokossa terguling, posisi Bozize justru menanjak naik. Ia menjadi pejabat Kementerian Pertahanan (1979-1981) dan Menteri Penerangan (1981-1982). Ia terlibat dalam kudeta yang gagal terhadap Presiden André Kolingba. Setelah itu, ia melarikan diri ke luar negeri.

Ia kembali setelah pemerintahan baru, Ange-Félix Patassé, terbentuk. Namun, sejak tahun 2001, Bozize memulai pemberontakan terhadap pemerintahan Patassé.

Tahun 2003, dengan dukungan Chad, Bozize berhasil menggulingkan pemerintahan Patassé. Ia kemudian resmi terpilih sebagai Presiden melalui pemilu 2005.

Ia terpilih kembali pada tahun 2011. Namun, banyak faksi-faksi regional menudingnya tidak bisa berbagi kekuasaan. Faksi regional ini kemudian membentuk “Seleka”—dalam bahasa Sango berarti “Aliansi”. Kelompok Seleka ini kemudian melancarkan pemberontakan.

Pada Desember 2012 lalu, pemberontak Seleka nyaris menguasai Ibukota Bangui, namun berhasil diatasi setelah pemerintah dan pemberontak duduk bersama di Libreville, Ibukota Gabon.

Inilah yang disebut perjanjian Libreville, yang mengatur soal transisi kekuasaan dalam dua-tiga tahun mendatang. Namun, dalam perjalanannya kemudian, pemberontak Seleka menuding Presiden Bozize menghianati perjanjian itu.

Setelah perjanjian Librevile, tentara dari Kongo, Perancis, Gabon dan Afrika Selatan didatangkan ke Afrika Tengah untuk menjaga keamanan dan mengawal proses transisi politik. Mereka disebut Konsolidasi Perdamaian di Republik Afrika Tengah (Micopax).

Thierry Vircoulon, dari International Crisis Group, mengeritik efektifitas pasukan koalisi tersebut. Dari sekian banyak negara dalam koalisi, hanya tentara Afrika Selatan yang benar-benar bertempur mempertahankan Ibukota dari gempuran pemberontak.

“Micopax tidak melakukan apa-apa, padahal mereka seharusnya melindungi Bangui. Hanya tentara Afrika Selatan yang benar-benar berjuang,” kata Vircoulon.

Salah seorang pimpinan pemberontak Seleka, Michel Djotodia, telah memproklamirkan diri sebagai Presiden menggantikan Bozizi. Begitu merebut kantor Kepresidenan, pemberontak juga telah menangguhkan konstitusi dan membubarkan parlemen.

Kejadian di Afrika tengah ini benar-benar kudeta. Tidak seperti gonjang-ganjing di Indonesia. Presiden SBY menduga akan terjadi kudeta tanggal 25 Maret kemarin, tetapi ternyata tidak terbukti.

Presiden SBY terlalu paranoid dan suka bersandiwara. Kalau belajar dari berbagai kudeta di berbagai negara, kalau seorang Presiden terancam akan dikudeta, ia seharusnya menggunakan nalar politik secara tenang dan merancang upaya kontra-kudeta. Bukan berteriak-teriak di media bahwa dirinya akan dikudeta.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut