Sekilas Tentang Slogan Politik

Pemilu seharusnya menjadi ajang pertarungan gagasan dan cita-cita politik dari berbagai partai politik. Pertarungan itu, antara lain, seharusnya terwujud dalam pertarungan slogan politik.

Slogan politik sangat terhubungan dengan program dan ideologi partai. Karena itu, slogan politik setiap partai harusnya mencerminkan program dan ideologinya. Persoalannya, hampir semua partai di Indonesia tidak punya program dan ideologi yang jelas.

Akibatnya, dalam setiap momentum pemilu, parpol-parpol gagal merumuskan slogan politik yang tepat. Di sana-sini kita melihat baliho Calon Legislatif (Caleg), yang notabene mewakili politik partai masing-masing, tetapi isinya kosong dan tak bermakna.

Kebanyakan slogan-slogan itu disusun dengan kata-kata indah, bombastis, dan mengiba-iba. Tetapi kata-kata itu tidak punya makna dan tidak sanggup menggerakkan massa secara politik. Lihat saja contohnya: jujur, bersih, dan amanah. Slogan ini memang sangat indah, apalagi jika dilaksanakan, tetapi sangat umum, pasif dan abstrak.

Lebih parah lagi, ada banyak caleg yang tidak punya slogan. Tetapi hanya dengan kata mengemis-ngemis dukungan: “Mohon Doa Restu”, “Pilihlah Saya..”, dan lain-lain.

Tidak sedikit pula caleg-caleg yang tidak kreatif langsung mengcopy-paste slogan politisi-politisi terkenal, seperti slogan politik Barack Obama saat kampanye Capres AS: “Yes We Can”. Ada juga yang mengadopsi jingle atau slogan dari merek-merek dagang terkenal.

Apa Itu Slogan?

Slogan merupakan hal mutlak dalam politik. Setiap partai harus punya slogan politik. Apalagi jika partai tersebut berkepentingan untuk meraih dukungan luas massa-rakyat. Tanpa slogan yang tepat, tidak mungkin bisa meraih dukungan politik dari massa luas.

Slogan politik adalah perumusan yang singkat, padat dan jelas dari suatu tujuan/tuntutan atau persoalan, yang diajukan pada saat-saat tertentu dan keadaan tertentu, untuk menyatukan massa-rakyat dalam aksi politik tertentu.

Slogan politik diajukan untuk memudahkan massa rakyat mengenal, memahami, dan mengikuti tujuan/garis politik partai. Karena slogan mengaju pada tujuan, maka slogan biasanya dikategorisasi menjadi: slogan taktis dan slogan strategis. Slogan taktis mengacu pada tujuan taktis dari partai. Sedangkan slogan strategis mengacu pada tujuan strategis partai. Kendati demikian, slogan taktis harus mendekatkan atau meretas jalan menuju tujuan strategis dari partai.

Slogan politik harus bisa membangkitkan, memobilisasi, dan mengorganisasikan massa dalam sebuah tindakan atau aksi politik. Atau sederhananya: slogan politik harus bisa menarik massa dalam sebuah tindakan politik. Karena itu, benar dan tidaknya slogan tidak diukur dari keindahan semantik, atau betapa radikalnya slogan tersebut, tetapi sejauh mana massa menangkap, memahami, dan termobilisasi secara politik mengikuti makna slogan tersebut.

Menyusun Slogan

Dalam menyusun slogan, ada empat hal yang harus diperhatikan: pertama, slogan harus menjawab persoalan-persoalan mendesak rakyat saat itu; kedua, slogan harus disesuaikan dengan perkembangan situasi aktual; ketiga, slogan tidak boleh mengisolir diri atau aksi politik dari massa atau pendukung potensial; dan keempat, pengajuan slogan harus memperhatikan pandangan dan kesadaran massa.

1) slogan harus menjawab persoalan-persoalan rakyat yang mendesak saat itu

Sebuah slogan yang tepat harus berpijak pada kebutuhan pemenuhan persoalan-persoalan rakyat yang mendesak. Karena itu, dalam menyusun slogan, harus ada pembacaan terhadap persoalan-persoalan rakyat yang mendesak dan bagaimana menyelesaikannya.

Dalam konteks pemilu, setiap caleg mestinya mengusung slogan yang berbasiskan persoalan rakyat di Daerah Pemilihannya dan dihubungkan dengan solusi politik dari partainya. Namun kenyataannya, kebanyakan caleg sekarang ini mengusung slogan yang jauh dari realitas masyarakat di Dapilnya. Akibatnya, slogan itu tidak “nyambung” dengan suasana hati dan kehendak rakyat di dapilnya.

2) Slogan harus disesuaikan dengan perkembangan situasi aktual

Karena slogan diajukan dalam saat/momen dan keadaan tertentu, maka perlu pembacaan yang mendalam terhadap setiap perkembangan atau perubahan situasi. Sebuah slogan bisa tidak efektif atau tidak relevan karena situasi sudah berubah. Slogan yang sifatnya taktis tidak mungkin berlaku umum/jangka panjang, Karena itu, dalam konteks slogan yang sifatnya taktis, harus ada penyesuaian dengan perkembangan keadaan yang berubah.

3) slogan tidak boleh mengisolir diri dan aksi politik dari massa luas atau pendukung potensial

Dalam banyak kasus, seringkali orang mengajukan slogan politik yang justru mengisolir diri. Misalnya, dalam konteks pemilu, ada slogan: “Perempuan Pilih Perempuan”. Slogan ini sangat tidak tepat karena seolah-olah persoalan perempuan bisa teratasi hanya dengan memilih caleg perempuan. Slogan ini juga mengisolasi persoalan perempuan menjadi hanya tugas manusia berkelamin perempuan. Selain itu, seorang legislator dituntut memperjuangkan aspirasi seluruh rakyat di Dapil-nya, bukan hanya perempuan.

4) slogan harus memperhatikan pandangan dan kesadaran massa

Hal yang juga tak kalah penting untuk diperhatikan adalah, bahwa bisa saja sebuah slogan itu benar, tetapi karena kurang sesuai dengan cara pandang dan kesadaran massa, menjadi tidak tepat.

Tidak semua orang, apalagi massa luas, punya kesadaran politik yang sama. Karena itu, supaya slogan bisa menjangkau massa luas, perlu penyusunan slogan yang dipahami pula oleh massa luas. Bukan hanya oleh massa yang berkesadaran maju.

Sebagai misal, bisa saja mayoritas rakyat tidak setuju dengan dominasi asing dalam pengelolaan SDA di sebuah daerah. Namun, belum tentu mayoritas itu setuju dengan solusi radikal, seperti slogan “Ambil Alih Perusahaan Asing”. Bisa saja diantara mereka banyak yang masih percaya dengan solusi moderat, seperti negosiasi ulang perjanjian kontrak.

‘Membumikan’ Slogan

Slogan yang tepat saja tidak cukup, apabila tidak dipopulerkan dan dibumikan di tengah-tengah massa. Di sini, kita harus merumuskan langkah-langkah untuk mempopulerkan slogan:

Pertama, penciptaan pangung-panggung politik sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya untuk memassalkan slogan partai. Panggung-panggung ini juga berguna untuk memperkenalkan program dan agenda politik partai.

Kedua, memassalkan slogan politik partai/caleg melalui alat-alat propaganda partai yang menjangkau massa rakyat di gang-gang sempit, di rumah-rumah, dan lain-lain.

Ketiga, memanfaatkan setiap ruang dan aktivitas sosial yang memungkinkan kita berkampanye dan mempopulerkan slogan politik dan agenda politik partai kepada massa luas.

Rudi Hartonopengurus Komite Pimpinan Pusat – Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD); Pimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut