Revolusi, Cinta, Dan Harapan

Darah Dan Doa (1950)

Produser: Perfini (Usmar Ismail)
Sutradara: Usmar Ismail
Penulis: Usmar Ismail, Sitor Situmorang
Pemeran: Del Juzar, Farida, Aedy Moward, Sutjipto, Awal, Johana,Suzanna, Rd Ismail, Muradi, Muhsjirsani, Ella Bergen, dan A Rachman.
Tahun Produksi: 1950

Inilah jaman ketika arus revolusi sudah tak terbendung. Banyak manusia Indonesia ikut atau terseret dalam arus revolusi ini. Mereka rela berkorban apapun, termasuk berkorban nyawa, demi cita-cita kemerdekaan. Mereka sering disebut sebagai “manusia Revolusi”.

Salah satunya adalah Sudarto (Del Juzar). Sebelum revolusi Agustus, ia bekerja sebagai seorang guru sekolah. Begitu revolusi Agustus berkobar, Sudarto memilih bergabung dalam perjuangan bersenjata. Sampai akhirnya Sudarto berpangkat Kapten di sebuah kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pasca perjanjian Renville, pasukannya ditempatkan di Sarangan, sebuah daerah di kaki gunung Lawu, Jawa Timur. Pada saat itulah meletus “peristiwa Madiun”. Bagi Sudarto, peristiwa Madiun adalah perpecahan di kalangan kekuatan revolusi. Ia pun mengalami tekanan bathin.

Tidak hanya itu, peristiwa Madiun jadi ajang balas dendam pihak tertentu. Kapten Sudarto bertindak tegas: ia memecat orang-orang yang menjadikan tentara sebagai ajang balas dendam.

Tetapi Kapten Sudarto juga “manusia biasa”. Ia tak bisa menutupi keadaan keluarganya yang berantakan. Di tengah-tengah gemuruh revolusi, ia terkadang merasa “kesepian”. Ia pun jatuh cinta dengan seorang gadis Jerman, Connie, yang baru saja ditinggal oleh ayahnya.

Tetapi “hubungan asmara” itu jadi omongan banyak orang. Maklum, revolusi punya hukumnya sendiri: tidak ada tempat selain perjuangan. Adam, kawan seperjuangan Sudarto, juga tak setuju dengan hubungan itu. Adam merupakan tipe manusia Indonesia yang sepenuhnya mengabdi untuk revolusi.

Pasukan Sudarto mendapat perintah ke Jawa Barat. Inilah perjalanan (longmarch) yang penuh darah dan air mata itu. Setiap saat mereka harus bersiap-siap diberondong oleh musuh. Itulah revolusi! Darah dan air mata memang penting untuk membangun harapan dan cita-cita.

Di perjalanan ini, Sudarto bertemu dengan seorang petugas palang merah. Namanya Widya. Keduanya pun segera saling jatuh-cinta. Sayang, hubungan keduanya kembali ditentang oleh kawan-kawannya. Gara-gara ini, Sudarto kembali bertentangan dengan Adam. Bahkan, Adam sempat mengadukan kasus ini ke markas besar militer di Jogjakarta.

Tetapi rintangan tak berhenti. Di sebuah desa, Sudarto dan pasukannya diserang oleh pasukan DI/TII. Sudarto tertembak di bagian lengan. Belum lagi serangan pasukan Belanda. Dalam sebuah pertempuran, Adam dan Widya tertembak. Keduanya gugur dalam perjuangan bagi negerinya.

Inilah film “Darah Dan Doa”, karya Usmar Ismail. Film ini dibuat tahun 1950, ketika gelora revolusi masih membakar. Tampak sekali Usmar Ismail ingin menonjolkan patriotisme dan nasionalisme melalui film ini. Bagi Usmar Ismail, revolusi bukan hanya soal darah dan air mata, tetapi juga tentang harapan: kemerdekaan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Meski demikian, Usmar Ismail tetap kritis sebagai pembuat film. Di film ini digambarkan seluk-beluk kehidupan dalam revolusi. Tentang seorang pejuang yang harus mengeksekusi bapaknya sendiri—karena menjadi mata-mata. Juga, keteguhan pejuang di tengah ketidakpastian.

Tetapi Usmar Ismail juga menyuguhkan sisi lain. Ia menyelipkan pesan: tak semua orang yang terseret revolusi punya idealisme sempurna. Diceritakan, misalnya, seorang prajurit yang kerjanya hanya mencari perempuan setiap memasuki desa atau perkampungan. Juga, tentang seorang perwira yang tega makan sendiri di tengah pasukannya yang kelaparan.

Di dalam revolusi banyak cobaan. Tidak sedikit yang goyah jiwa revolusionernya. Mereka pun mengalami demoralisasi. Kejadian-kejadian ini juga diselipkan oleh Usmar Ismail dalam film ini.

Yang menarik adalah sosok manusia revolusi ala Sudarto. Ia tak pernah menyerah dalam memperjuangkan cita-citanya. Pada upacara penguburan kawan-kawannya yang gugur, Sudarto berucap, “marilah kita lanjutkan perjuangan mereka dengan penuh keyakinan. Masih jauh jalan sebelum sampai pada apa yang kita cita-citakan: kemerdekaan, kemakmuran, dan kebahagiaan seluruh rakyat.”

Pada suatu ketika Sudarto ditangkap. Ia dijebloskan ke penjara. Di dalam penjara, Sudarto menyaksikan pejuang-pejuang yang tertangkap bersiap menghadapi hukuman mati. Sekeluarnya dari penjara, situasi sudah berubah: Belanda sudah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Begitu bebas, ia mendapat panggilan petinggi militer Jogja. Karena menolak panggilan, Sudarto mendapat sanksi pemecatan. Sudarto, si “manusia Revolusi” itu, harus menerima nasib berbeda. Ia menyaksikan beberapa anak-buahnya sudah berubah pasca pengakuan kedaulatan.

Ironisnya lagi, menjelang penyambutan Bung Karno di Jakarta, Sudarto justru menemui panggilan Tuhan. Ia tertembak oleh seorang bekas kawannya—seorang aktivis komunis yang diperanginya di Sarangan, Jawa Timur, saat meletus peristiwa Madiun.

Konon, ini merupakan film pertama pasca revolusi. Hari pertama syutim film ini, 30 Maret 1950, ditetapkan sebagai Hari Perfilman Nasional. Namun, film “Darah Dan Doa” bukanlah film pertama dalam sejarah Indonesia. Pada tahun 1926, orang Indonesia sudah memproduksi film berjudul “Loetoeng Kasaroeng”.

Film ini memang film tentang revolusi. Meski demikian, tidak ada penonjolan tentang perang dan pertempuran di dalamnya, melainkan dialog dan pergulatan perasaan diantara manusia-manusia revolusi.

Film ini sangat berkualitas. Banyak sekali nilai-nilai ideologis, khususnya patriotisme dan nasionalisme, yang bisa dipungut dari film ini.

Rudi Hartono Pimred Berdikari Online.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut