Tentang Perompak dan Praktek Keji Imperialisme Di Somalia

Kabar mengenai pembajakan MV Sinar Kudus tersiar luas di tanah air. Meskipun pemerintah awalnya bersikap acuh, tetapi tekanan luas dan gencaranya pemberitaan media massa akhirnya memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan.

Selain membayar uang tebusan Rp 40 milyar kepada perompak Somalia, pemerintah Indonesia juga mengirim tiga kapal perang, satu pesawat, satu helikopter dan 800 personel TNI. Kita patut merasa senang dan bersuka-cita dengan pembebasan 20 ABK kapal Sinar Kudus itu, dan juga memberikan apresiasi atas pemberitaan tak kenal menyerah dari media massa.

Sayang sekali, tidak sedikit pengamat dan media arus utama yang menguraikan hubungan antara perompak Somalia dan imperialisme. Seolah-olah ramainya aksi perompakan oleh orang-orang Somalia tidak ada hubungannya dengan imperialisme itu sendiri.

Sebagian besar media arus utama menyebut tindakan para perompak Somalia sebagai tindakan “kriminal internasional”, bahkan sering dihubungan dengan bisnis internasional. Sedikit sekali media arus utama itu yang berkomentar mengenai kemiskinan akut yang melanda negeri itu, sehingga rakyatnya hampir tidak punya pilihan untuk bertahan hidup.

Somalia, yang dulunya bernama Republik Demokratik Somalia, adalah negara sebenarnya punya syarat-syarat untuk menjadi negara sukses: situasi geografis yang menguntungkan, punya minyak dan sumber daya alam melimpah. Selain itu, berbeda dengan banyak negara Afrika lainnya, Somalia hanya punya satu bahasa dan agama untuk seluruh rakyatnya.

Akan tetapi, syarat-syarat itu tidak membuat Somalia menjadi negara sukses, tetapi justru membawa negeri ini dalam kehancuran: perang, penjarahan, kelaparan, pembajakan, serangan bom, dan lain sebagainya.

Mohamed Hassan, ahli geopolitik dari Addis Ababa, Ethiopia, menceritakan bagaimana kapal-kapal Eropa dan Asia memancing di kawasan pantai Somalia tanpa ijin dan penghormatan terhadap kedaulatan bangsa lain. Saat itu, tahun 1990, Somalia kekosongan pemerintahan dan hanya dikendalikan panglima perang.

Bukan itu saja, memanfaatkan kekosongan pemerintahan dan kekacauan di Somalia, perusahaan-perusahaan dari Eropa membuang limbah nuklir di sepanjang pantai Somalia. Nelayan-nelayan Somalia, yang tidak memiliki alat tangkap ikan modern, mulai kehilangan harapan sejak saat itu.

Lalu, pada tahun 1992, dengan memanfaatkan kekacauan yang sengaja diciptakan, AS mulai melancarkan operasi militer untuk mencari sumber-sumber minyak negeri itu. Operasi itu diberi-nama “Operasi Pemulihan Harapan” dan menjadi titik awal untuk marinir Amerika dalam mengontrol negeri Afrika tersebut.

Akan tetapi, operasi “pemulihan harapan” ini mengalami kegagalan dan gerakan nasionalis Somalia berhasil mengusir Amerika Serikat. Tetapi Amerika Serikat tidak meninggalkan Somalia begitu saja: dibuatnya pemerintahan Somalia itu begitu lemah dan terpecah belah. Dengan teori pecah belah ini, Amerika Serikat selalu punya kesempatan untuk melakukan “misi militer” di negeri ini.

Dengan demikian, melihat kasus perompak Somalia ini tidak bisa dengan satu kacamata saja: dari media arus utama dan pemangku kepentingan (negeri-negeri imperialis dan perusahaan besar). Kita harus melihat kasus ini dari sejarah panjang kolonialisme dan imperialisme di negeri itu, yang telah menyebabkan kehancuran dan kemiskinan sedemikian rupa, sehingga sebagian penduduknya rela menjadi perompak.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut