Tembok-tembok anti-Imigran di Eropa

Ketika rezim komunis membangun tembok Berlin di tahun 1960-an, bangsa-bangsa Eropa mengutuknya sebagai kemunduran dan pengekangan kemerdekaan manusia.

Dulu Amerika Serikat (AS) dan Eropa menertawai ide pembangunan tembok sebagai usaha merintangi pergerakan manusia melintasi sebuah wilayah atau negara.

Namun, hari ini AS dan Eropa harus menjilat ludah sendiri. Sekarang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, paling berambisi membangun tembok di perbatasan Meksiko.

Dan di Eropa, sejumlah negara membangun pagar pembatas untuk membendung arus imigran dan pengungsi. Tidak saja untuk menghalau pengungsi dari Asia dan timur tengah, tetapi juga dari sesama negara Eropa yang lebih miskin.

Padahal, Uni Eropa dibangun di atas nilai-nilai martabat manusia, kemerdekaan, demokrasi, kesetaraan, dan penghargaan terhadap hak azasi manusia (HAM). Dan di tahun 2012, Uni Eropa dihadiahi Nobel Perdamaian karena dianggap memajukan demokrasi dan hak azasi manusia.

Hungaria telah membangun pagar kawat berduri sepanjang 109 mil di sepanjang perbatasan dengan Serbia. Namun, Hungaria tidak sendirian. Slovenia juga berniat membangun pagar di perbatasannya dengan Kroasia. Dan Austria membangun pagar serupa di perbatasan dengan Slovenia.

Sebelumnya Yunani sudah membangun pagar kawat berduri sepanjang 12,5 kilometer di perbatasan dengan Turki. Bulgaria juga sudah mengumumkan rencana membangun pagar sepanjang 100 mil di perbatasan dengan Turki.

Di kota Calais, Perancis, pagar juga dibangun atas bantuan pendanaan dari Inggris. Pagar yang disering diplesetkan namanya menjadi “tembok besar Calais” ini juga dibangun untuk membendung arus pengungsi dan imigran.

Di tahun 2000-an, Spanyol sudah membangun pagar di Ceuta dan Melilla, guna membendung kaum imigran dari benua Afrika.

Di tahun 2005, ada 1,8 juta orang pengungsi yang berusaha mencari ruang hidup di Eropa. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), sebanyak 1.011.700 orang memilih jalur laut. Penyebanya, jalur darat sudah dihadang dengan pagar berduri dan aparat keamanan.

Padahal, jalur laut sangat beresiko. Banyak yang mati di tengah laut. Pada September 2015 lalu, dunia terpukul sedih ketika seorang bocah asal Suriah ditemukan tidak bernyawa dalam keadaan telungkup di pinggiran pantai di Turki. Bocah itu hanya satu dari puluhan ribu pengungsi Suriah yang tewas di tengah laut sebelum berhasil menyentuh daratan Eropa.

Jadi, negara-negara Eropa sedang berlomba-lomba membangun tembok untuk menghalau para pengungsi dan imigran. Lalu, dari manakah datangnya para pengungsi itu?

Sebagian besar pengungsi itu datang dari negara-negara yang ditengah dikoyak oleh perang, terutama di timur tengah (Suriah dan Irak), Asia Selatan (Afghanistan dan Pakistan) dan Afrika utara (Libya, Sudan). Dan jahatnya, tidak sedikit perang yang berkecamuk di negara-negara tersebut tidak lepas dari campur tangan Eropa. Dan lebih jahat lagi, hampir semua senjata yang dipakai dalam perang di negara tersebut diproduksi di negara-negara Uni Eropa.

Suriah misalnya. Dulu negeri ini aman sentosa. Namun, penguasa Suriah, yakni Bashar Al Assad dan partai Sosialis Ba’ath, tidak disukai oleh AS dan Eropa. Apalagi, Bashar menolak proyek pipa gas Qatar, yang rencananya akan mengalirkan gas alam langsung dari Qatar ke Eropa.

Sejak 2011, AS dan Eropa mendukung dan mendanai oposisi untuk menggulingkan Assad. Karena tidak berhasil dengan gerakan massa, AS dan Eropa mendorong milisi bersenjata, termasuk kelompok Jihadis-Sunni macam ISIS dan Al-Qaeda.

Begitu juga dengan Irak, Libya, Sudan, dan lain-lain. Singkat cerita, demi kepentingan ekonomi dan geopolitik, negeri itu diseret dalam perang. Namun, ketika rakyatnya berlarian keluar negeri untuk menghindari perang, termasuk ke Eropa, mereka disambut dengan pagar-pagar berduri. Jahat sekali, kan?

Selain itu, kebijakan neoliberal yang brutal di Eropa, yang paling banyak mengorbankan negara anggotanya yang lebih lemah, turut memicu arus imigran.

Tetapi, pagar-pagar di Eropa bukan hanya untuk menghalau pengungsi dan imigran. Di Ukranina, pagar sepanjang 200 mil dibangun untuk membendung pengaruh Moskow. Estonia juga berencana membangun pagar serupa di perbatasan Rusia.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut