Teliti Soal Ideologi dan Basis Sosial PRD dan PK(S), Arie Sujito Raih Gelar Doktor

Debat tentang ideologi memang tidak pernah usai, dengan kadar dan variasi perspektif, yang masih cukup menarik dalam ranah akademik maupun sosial. Terjadi tarik-menarik antara pandangan pesimisme yang memvonis terjadinya “kematian ideologi”, dengan mereka yang optimistik bahwa ideologi masih ada dengan presentasi yang berbeda dan mengalami transformasi dalam praktik sosial dan politik.

Hal ini ditegaskan oleh Arie Sujito dalam ujian terbuka Program Pascasarjana FISIPOL UGM, Sabtu (17/10). Dalam kesempatan itu Arie Sujito mempertahankan disertasinya berjudul Ideologi Politik dan Basis Sosial Studi tentang Keterbatasan Ideologi dalam Perluasan Dukungan Partai Kiri PRD dan Partai Islam PK(S) di Era Pasca Orde Baru.

Ia mengatakan, fenomena kebangkitan ideologi dalam ranah politik pada awal-awal demokratisasi Indonesia, sebagaimana direpresentasikan oleh partai politik yang memilih jalan ideologi, masih terbatas di kalangan elit intelektual dan aktivis politiknya.

“Penelitian ini berhasil menelusuri bahwa upaya PRD membangun kembali sosialisme sebagai ideologi, dan PK (S) dengan Islamisme, masih terbatas nalar dan keyakinan para elit politiknya,”tutur Arie.

Menurutnya, pelajaran penting dari corak kedua parpol ini menarik. Perbedaan antara Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Partai Keadilan (Sejahtera), diantaranya adalah para aktivis PRD memiliki militansi kuat, terutama dalam memproduksi simbol, jargon, dan alat propaganda didalam mengembangkan organisasinya dengan memegang teguh “ideologi”. Sementara PK(S) memiliki kekuatan pada kelola dan perluasan jaringan pada segmen kelas menengah kota dengan mesin-mesin politik di kampus berwujud organisasi kemahasiswaan dan kerja praksis ekonomi.

“Disini PK(S) relatif berhasil signifikan dalam penguasaan organ-organ kampus,”jelas dosen Jurusan Sosiologi UGM ini.

Di akhir paparan Arie Sujito menilai, struktur masyarakat sebagai habitat bagi berprosesnya nilai-nilai, keyakinan atau kultur tidak sepenuhnya mampu menjadi ladang tumbuh dan eksisnya membangun ideologi politik.

Menurut dia, ideologisasi mengalami fase di persimpangan jalan: disatu sisi bagi parpol demokrasi telah menghadirkan ruang keterbukaan sebagai kesempatan yang memungkinkan ideologi politik tumbuh dan berkembang, namun disisi lain parpol juga mengalami “kebingungan” pada saat membangun basis sosial yang kuat dan mengakar sebagai basis pijak keyakinannya.

“Alih-alih membentuk ideologi pada masyarakat, yang terjadi justru kesempatan itu gagal dimanfaatkan,”katanya. (Humas UGM/Satria)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut