Tantangan Bagi Kaum Kiri Amerika Latin di Tahun 2016 dan Sesudahnya

Pengantar Redaksi: Selama 10-15 tahun terakhir Amerika Latin mengalami “pasang naik” politik Kiri yang dimulai dengan terpilihnya Hugo Chavez sebagai presiden di Venezuela (1999), kemudian diikuti oleh kemenangan Evo Morales di Bolivia (2006), Rafael Correa di Ekuador (2007), Daniel Ortega di Nikaragua, Jose Mujica di Uruguay, Nestor Kirchner dan Christina Fernandez-Kirchner di Argentina, dan Lula da Silva di Brazil. 

Namun di tahun 2015 ini terjadi “pasang surut” dengan terpilihnya presiden sayap kanan di Argentina, kemenangan sayap kanan Venezuela dalam pemilu parlamen, serta terancam di-impeach-nya Delima Roussef dari posisi presiden Brasil.

Guna memahami perkembangan di kawasan tersebut Berdikari Online menurunkan artikel analitis yang diterjemahkan dari situs teleSUR. Artikel ini tentu belum dapat dikatakan lengkap mengingat faktor penting lain belum disertakan untuk mengembangkan analisa. Namun setidaknya artikel ini memberikan gambaran tentangbeberapa tantangan penting yang dihadapi Kaum Kiri di Amerika Latin yang dapat menjadi rujukan bagi gerakan Kiri di belahan dunia lain, termasuk Indonesia.


Kiri Amerika Latin: Tantangan Di Tahun 2016 dan Sesudahnya

Tahun 2015, Kiri Amerika Latin mengalami kemunduran signifikan dalam pemilihan umum, dengan latar belakang situasi menurunnya harga minyakdankomoditas. Akibatnya, perubahan hasil pemilu ini dapat membalikkan keadaan menjadi bahaya bagi banyak hal menguntungkan yang telah dicapai oleh pemerintahan progresif dan gerakan rakyat selama satu setengah dekade terakhir.

Dalam beberapa pekan terakhir banyak di kalangan gerakan kiri Amerika Latin yang menggaruk-garuk kepala mencari jawaban untuk mengatasi kekhawatiran dan rasa frustrasi masyarakat.

“Persepsi yang terbentuk adalah bahwa capaian-capaian yang ada merupakan hasil dari kebajikan pikiran rakyat, mengganti mereka yang berkuasa akan tetap menjamin capaian-capaian tersebut, ” kata Miguel Stedile, anggota komite koordinasi nasional Gerakan Pekerja Tak Bertanah Brazil kepada teleSUR.

Harapan politik dari warga yang sangat diberdayakan dan kritis di kawasan ini antara lain membawa kemenangan elektoral bagi sayap kanan di Venezuela, Argentina, serta di Brazil dan Boliviapada tingkat yang lebih rendah. Lebih lanjut,hasil pemilu ini merupakan indikasi bahwa ada beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh kaum Kiri Amerika Latin di tahun 2016, termasuk menyikapi tuntutan pemilih secara memadai.

Melihat ke depan di tahun 2016, sektor-sektor progresif Kiri Amerika Latin menghadapi perubahan demografi sosial-ekonomi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi, yang tidak diragukan lagi akan menyebabkan hambatan struktural pada kemampuan pemerintah untuk melaksanakan reformasi sosial ekonomi yang populer dan diperlukan.

Berlarutnya Ketidaksetaraan dan Memuaskan Kelas Menengah

Salah satu sumber utama ketidakpuasan di kalangan rakyat Amerika Latin adalah tingginya ketimpangan tingkat penghasilan. Meski ada prestasi mengesankan di bidang pengentasan kemiskinan, ketimpangan penghasilan tetap tinggi dan kefrustrasianatas lambatnya kemajuan di lini ini sekarang tampaknya bertambah akibat pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, dengan ketakutan kelas menengah baru terhadap berbaliknya kemakmuran ekonomi yang baru mereka dapatkan.

Pada tanggal 25 September sebuah hasil jajak pendapat dirilis oleh Latinobarometro, kelompok riset berbasis Santiago yang telah melakukan surveisentimen publik di Amerika Latin sejak tahun 1995, mengungkapkan bahwa 60 persen orang Amerika Latin – sekitar 360 juta orang – merasa mereka tidak menerima bagian dari pembagian kue ekonomi.

Namun survei yang samamenemukan korelasi positif antara distribusi kekayaan dan peringkat persetujuan pemerintah. Misalnya, di Ekuador, Bolivia dan Nikaragua, negara-negara dengan peringkat persetujuan presiden tinggi, warga merasakan distribusi kekayaan yang paling adil – masing-masing 49 persen, 42 persen dan 38 persen.

Selama dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi yang dikombinasikan dengan kebijakan kesejahteraan sosial melalui program transfer pembiayaan, telah menguntungkan kalangan kurang mampu dan menumbuhkan kelas menengah dari seperlima menjadi sepertiga dari populasi, serta mendorong gelombang kedua tuntutan seperti kesetaraandan penyertaan ekonomi yang lebih luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelas menengah telah menjadi penerima manfaat utama dari program-program kesejahteraan sosial. Oleh karena itu, tuntutan masyarakat untuk belanja publik yang lebih tinggi dan tata kelola yang lebih partisipatif menggambarkan ciri khas dari keterlibatan masyarakat selama 15 tahun terakhir.

“Tampaknya bahwa penduduk di Venezuela, Brazil, dan Argentina—saya tidak tahu tentang Ekuador dan Bolivia, karena tidak mengikuti negeri-negeritersebut secara dekat—merasa bahwa mereka telah mendapatkan perbaikan besar dalam kualitas hidup, tetapi sekarang mereka inginkan lebih,”kata Stedile saat wawancara dengan teleSUR.

Munculnya kelas menengah di Amerika Latin telah memberikan jalan untuk munculnya tuntutan baru seperti reformasi diarahkan untuk menjamin kelanjutan mobilitas ekonomi mereka serta penyediaan pelayanan publik yang lebih efisien.

Namun para ahli memperingatkan bahwa dengan menyusut sumber daya fiskal maka sektor-sektor ekonomi rentan seperti kelas menengah yang baru terbentuk di Amerika Latin bisa kembali jatuh ke dalam kemiskinan.

“Saya berpikir bahwa (pemerintahan) Kiri harus kritis terhadap diri sendiri, karena mereka puas dengan program dengan capaian-capaian langsung, misalnya di Argentina dan Brazil … Tapi ini tidak berubah menjadi capaian yang lebih berjangka panjang,” kata Stedile kepada teleSUR.

Ketika pasar eksternal dan kondisi ekonomi global memburuk, pemerintahan-pemerintahandi Amerika Latin akan menghadapi tekanan lanjutan untuk memenuhi tuntutan kebijakan publik dari berbagai kelompok sosial demografis, mungkin memicu persaingan antara sektor-sektor masyarakat dalam mencari dukungan dari negara.

Mencari Bentuk Baru Pertumbuhan Ekonomi

Selama dekade terakhir, munculnya kelas menengah baru di Amerika Latin sebagian difasilitasi oleh lonjakan permintaan barang primer, termasuk mineral, hidrokarbon, kedelai dan komoditas pertanian lainnya.

Namun, menurut Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia, wilayah ini akan kembali menghadapi penurunan ekspor di tahun 2016.

Berakhirnya booming harga komoditas telah menciptakan tantangan struktural dalam model pertumbuhan ekonomi Amerika Latin, yang sebagian besar tergantung pada pendapatan dari ekspor barang primer.

Sekarang bahwa booming komoditas telah berhenti, banyak negara di wilayah ini putus asa mencari bentuk-bentuk alternatif dari pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, bagaimanapun, sebagian besar ekonomi Amerika Latin kekurangan alternatif sumber pendapatan karena ketergantungan terus mereka pada ekspor komoditas.

Sebagai contoh, selama boomingharga komoditas ketergantungan negara-negara Amerika Latin dan Karibia terhadap ekspor primer meningkat. Pada tahun 2014, mereka menyumbang 68 persen dari ekspor ke Asia dan Pasifik, naik dari 48 persen dibanding tahun 2000.

Pada saat negara memiliki sumber daya yang lebih sedikit untuk memenuhi tuntutan dari kelas menengah dan mereka yang termasuk sektor yang paling rentan dalam masyarakat, pemerintah tampaknya akan dipaksa untuk menavigasi medan rumit dari kepentingan kelas yang saling bertentangan.

Reformasi Media

Ke depan kaum kiri dapat mempertimbangkan strategi baru untuk beradaptasi dengan demografi sosial ekonomi yang berubah di wilayah ini dan memenuhi gelombang baru tuntutan. Salah satu dari prakarsanyaadalah penggunaan dan transformasi media sebagai alat kekuasaan.

Selama dekade terakhir, peningkatan akses ke Internet dan pendidikan telah menghasilkan masyarakat yang lebih kritis dan terinformasikansehingga mulai mempertanyakan atau meragukan narasi media yang dominan.

Sebuah survei 2015 di 19 negara yang dilakukan oleh Latinobarometro, mengungkapkan bahwa lebih dari 54 persen responden mengatakan mereka hanya sedikit atau tidak percaya kepada media massa. Sementara itu, kurang dari 10 persen orang yang disurvei mengindikasikan bahwa mereka percaya pada kebanyakan media.

Selama 15 tahun terakhir, pemerintahan progresif di Ekuador, Bolivia, Argentina, Venezuela, dan Uruguay telah menyetujui inisiatif pentinglegislatif, yang menantang struktur kepemilikan media dan menciptakan alternatif lain bagi model komunikasi yang hegemonik.

Di beberapa negara di kawasan itu, setidaknya sepertiga dari semua frekuensi penyiaran telah dirancang bagi sumber-sumber media alternatif atau media komunitas.

Namun demikian, dalam banyak kasus, kebijakan tersebut gagal memastikan peningkatan representasi dan visibilitas media independen, sebagian karena prosedur perizinan yang memberatkan serta hukum penyiaran yang kaku.

Dengan demikian, salah satu tantangan yang tersisa bagi banyak pemerintahan progresif adalah melanjutkan diversifikasi atas lanskap media di kawasan itu, yang telah menjadi ruang penting bagi para pembuat kebijakan untuk lebih memahami dan menanggapi kebutuhan, kepentingan, masalah dan harapan berbagai sektor masyarakat.

Namun, upaya untuk diversifikasi kepemilikan media telah menjadi rumit di negara-negara seperti Argentina dan Venezuela di mana sayap kanan mendapatkan kemenangan elektoral yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Hanya beberapa hari setelah disumpah, Presiden Argentina Mauricio Macri tidak membuang waktu untuk mengumumkan rencana pemerintahnya memperkuat konglomerasi media korporasi dengan melucuti badan pengawas media di negara itu yang dibentuk di bawah payung hukum Undang-Undang Media Tahun 2009.

Demikian pula di Venezuela, anggota parlemen yang baru terpilih berjanji untuk memodifikasi kerangka hukum hukum media negara itu.

Tidak mengherankan, serangan terhadap media alternatif merupakan tantangan langsung terhadap salah satu strategi terpenting yang digunakan oleh gerakan sosial untuk melawan pemerintahan neoliberal dan konservatif di kawasan ini  dalam tahun-tahun awal 2000-an.

Progresif Kiri Tidaklah Mati

Dari Brasil ke Venezuela telah terjadi pergeseran radikal dalam lanskap geopolitik kawasan. Dengan demikian, tidak diragukan lagi, tahun 2016 akan menjadi periode yang ditandai oleh refleksi, pengembangan kreativitas dan ketahanan. Hal-haltersebut harus dilakukanoleh kaum Kiri agar sanggup menghadapi tantangan dari gerakan sayap kanan di kawasan tersebut.

Di tengah skenario rumit ini, pemerintahan kiri di kawasan itu dan para anggota parlemennya harus fokus pada pelaksanaan kebijakan publik yang menjanjikan keuntungan terbesar untuk kebaikan yang lebih besar, serta mempertahankan capaian-capaian sosial ekonomi penting yang telah dimenangkan selama 15 tahun terakhir.

Nathan Singham/teleSUR 

*) diterjemahkan oleh Mardika Putra

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut