Tanah Ulayak Dirampas, Petani “Pengadilankan” Pengusaha

Petani Tanjung Medang, Muara Enim, resmi mengajukan gugatan terkait perampasan tanah ulayak oleh seorang pengusaha bernama Burhan.

Melalui kuasa hukum petani, Yopi Bharata, SH., petani mendaftarkan gugatan tersebut di Pengadilan Negeri Muara Enim, Sumatera Selatan.

“Ini hanya salah satu taktik perjuangan petani untuk memperjuangkan haknya,” ujar Baharuddin, ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Muara Enim, organisasi yang menaungi perjuangan para petani.

Menurut Baharuddin, selain proses litigasi untuk penyelesaian sengketa, petani tetap akan menggunakan perjuangan aksi massa. Bahkan, metode litigasi dan aksi massa akan dikombinasikan.

Kasus perampasan tanah ulayak milik masyarakat Tanjung Medang ini terjadi sejak tahun 2006. Burhan, nama pengusaha yang merampas tanah itu, menanam kelapa sawit di atasnya.

Masyarakat tidak terima tindakan pengusaha itu. Mereka berusaha berunding dengan pengusaha, namun mengalami kegagalan. Bahkan, dua orang petani Tanjung Medang, Kosim dan Junaidi, sempat dikriminalisasi dan dipenjara.

Petani pun menggelar aksi massa. Hampir semua kantor pemerintah setempat, dari kepala desa hingga Gubernur, sudah pernah didatangi oleh petani. Para petani juga pernah menggelar aksi massa di Jakarta.

Akan tetapi, pemerintah kelihatannya kurang merespon perjuangan petani. Meski demikian, perjuangan petani membawa kemenangan kecil. Dua petani yang ditangkap berhasil dibebaskan.

FUAD KURNIAWAN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut