Tahun Emas Hubungan Tiongkok-Afrika

Di tahun 1963, saat melakukan perjalanan perdana nan bersejarah ke benua Afrika, Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai menekankan enam prinsip kerjasama antara Tiongkok dengan negeri-negeri Afrika. Terkandung dalam prinsip-prinsip tersebut antara lain; kesetaraan dan saling menguntungkan, Tiongkok tidak membuat syarat-syarat atau meminta hak untuk diistimewakan (priveladge), serta menolong negara-negara Afrika yang menerima bantuan untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan pembangunan yang mandiri. Kunjungan ini menjadi babak pembuka hubungan Tiongkok-Afrika.

Di tahun ini, atau setengah abad lebih sejak Enlai menyampaikan pesannya tersebut, yang tampak jelas bagi kita, pertama sekali, adalah dasar situasi dunia yang sudah mengalami pergeseran-pergeseran. Era perang dingin telah berakhir lebih dari dua dekade. Landasan baru dalam hubungan antara negara tercipta dengan menempatkan peran kapital sebagai penentu segala sesuatu. Tiongkok telah mundur selangkah dari ‘kiri’ ke tengah sejak tahun 1978 ketika Deng Xiaoping mereformasi perekonomian Tiongkok menjadi lebih ‘ramah’ terhadap modal dan memanfaatkan modal asing yang masuk untuk kepentingan nasionalnya.

Konstelasi dunia dari bipolar, yang kemudian bergerak ke usaha AS untuk menjadikan dunia unipolar (dirinya sebagai single superpower), kini bergeser ke arah multipolar dengan sekian banyak pemeran yang ingin menempatkan kepentingan nasional masing-masing sebagai yang utama. Perimbangan ini tidak terhindarkan seiring kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Tiongkok, pulihnya Rusia dari keterpurukan pasca bubarnya Uni Soviet dan menggeloranya semangat anti neokolonial di Amerika Latin.

Di atas situasi ini, Tiongkok dan Afrika mencatatkan perkembangan kerjasama yang spektakuler selama 12 bulan di tahun 2015. Menurut Asia Times tercatat pada tahun ini Tiongkok menandatangani 245 kesepakatan bantuan ekonomi dan membebaskan 156 daftar hutang dari 31 negara Afrika. Tiongkok juga menandatangani kesepakatan bantuan kesehatan dengan 41 negara Afrika. Sebagai imbal baliknya, negara-negara Afrika tersebut memberikan akses kepada Tiongkok atas bahan mentahnya, mengekspor produk jadi, serta mendorong pengembangan proyek infrastruktur untuk memfasilitasi perdagangan.

Hubungan Tiongkok-Afrika tahun ini 2015 diawali dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MOU) tentang peningkatan sistem transportasi Afrika dan infrastruktur industri, dan ditutup dengan Johannesburg Summit yang merupakan Forum Kerjasama Tiongkok-Afrika (Forum on China-Africa Cooperation – FOCAC) awal Desember lalu di Afrika Selatan. Pertemuan ini dihadiri oleh Presiden RRT, Xi Jingping, dan 41 pemimpin negara-negara Afrika.

Hubungan Tiongkok-Afrika ini mendapat dukungan dari banyak akademisi dan periset di Afrika. Sabelo Gatsheni-Ndlovu, Diektur sebuah lembaga think-tank pasca-kolonial Afrika Selatan, menanggapi positif kerjasama yang terjalin. Menurut Sabelo, Tiongkok menunjukkan komitmen untuk membantu pembangunan infrastruktur di Afrika. Hal ini bagi Sabelo bermakna  pemenuhan komitmen jangka panjang Tiongkok dalam membantu modernisasi, pertanian dan industrialisasi Afrika.

Yazini April, peneliti dari Human Science Research Council Afrika Selatan, mengatakan, “Tiongkok membuktikan dirinya sebagai mitra yang dapat diandalkan. Ketika Tiongkok berjanji akan melakukan suatu hal di tahun ini, mereka benar-benar melakukannya. Tidak seperti Bank Dunia atau Amerika Serikat yang banyak bicara tapi memakan waktu banyak untuk merealisasikan janji.”

Pada kesempatan ini Presiden Xi Jinping menggelontorkan paket bantuan senilai 60 miliar dolar AS kepada Afrika untuk tiga tahun ke depan. Anggaran ini akan digunakan untuk memodernkan produksi pertanian Afrika, meningkatkan keterampilan pekerja, membangun infrastruktur, serta peningkatan kesehatan.

Di tahun lalu, perdagangan Tiongkok-Afrika mencapai angka 220 miliar dolar dan investasi sebesar 32,4 miliar dolar. Pada tahun ini perdagangan akan menyentuh 300 miliar dolar. Presiden Xi Jinping mengatakan kerjasama ini akan membawa kebaikan bagi 2,5 miliar penduduk bumi (penjumlahan penduduk Tiongkok dan Afrika).

Selain itu, tercatat sejumlah kerjasama ekonomi penting yang sudah terjalin selama ini dengan angka yang signifikan, seperti sepertiga pasokan minyak Tiongkok yang diperoleh dari Afrika, 20 persen pasokan bahan katun untuk industri Tiongkok, dan terdapat lebih dari 800 perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Afrika. Bank-bank asal Tiongkok mengambil-alih dominasi bank Barat dengan menawarkan kredit tanpa jaminan serta bunga rendah.

Di tengah optimisme yang mengemuka, muncul pula kritik atas kerjasama ini, terutama dari negara-negara Barat. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa hubungan ini menunjukkan model kolonialisme baru dari Tiongkok terhadap Afrika. Sebagian lain mengkritik hubungan Tiongkok dengan negeri-negeri yang dipandang masih bermasalah dalam persoalan penegakan HAM.

Terlepas apakah kritik terakhir tadi hanya berdasarkan kecemburuan post power syndrom Barat ataukah benar-benar nyata, yang pasti Tiongkok menegaskan prinsip non-intervensi mereka terhadap persoalan dalam negeri negara lain. Sementara terkait kecurigaan praktek neokolonial oleh Tiongkok, penting untuk dicatat bahwa sejak tahun 1960-an sampai 1970-an Tiongkok banyak menyokong gerakan pembebasan nasional negeri-negeri Afrika.

Tentunya banyak hal yang telah berubah sejak itu, namun melihat antusiasme negara-negara Afrika menyambut kehadiran Tiongkok, kita hanya berharap prinsip-prinsip yang telah ditekankan oleh Zhou Enlai 52 tahun silam tetap dipraktekkan oleh pemerintahan Xi Jinping, dan kemajuan serta perdamaian akan semakin dicapai oleh rakyat di daratan yang dijuluki benua hitam itu.

Mardika Putera

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut