Tahun 2012

Manusia seantero dunia merayakan datangnya tahun baru: tahun 2012. Di Jakarta, tepatnya di Monas, puluhan ribu orang juga berkumpul. Saya adalah satu makhluk yang berada di tengah himpitan puluhan ribu orang itu.

Begitu jarum jam menunjuk angka 12, puluhan ribu orang itu pun larut dalam luapan kegembiraan, diselingi tiupan terompet dan letusan kembang api yang bertalu-talu. Tetapi, seiring dengan suara terompet dan letusan kembang api itu, seakan-akan sebuah pengharapan sedang disemai.

Orang-orang menitipkan harapan pada kereta nasib yang bakal mengantar mereka mengarungi tahun 2012. Ada yang menitipkan nasibnya sendiri, keluarga, kerabat, dan teman sekerjanya. Namun, ada pula yang menitipkan nasib jutaan orang: mulai dari menitipkan nasib bangsanya hingga menitipkan nasib seluruh umat manusia.

Beruntung, kereta pembawa nasib sangat baik: ia menampung semua harapan itu dengan sebaik-baiknya. Begitu keretanya sudah mau jalan, masinis keluar sebentar untuk menyampaikan pesan: tercapai dan tidaknya harapan anda sangat tergantung usaha masing-masing. Kereta nasib pun berangkat.

Banyak orang yang tak bisa menyembunyikan rasa khawatir. Hari kiamat, yang konon berasal dari ramalan Suku Maya, jatuh pada tahun 2012. Artinya, dalam 360 hari kedepan, kita akan selalu waspada dengan datangnya kiamat. Tapi, tunggu dulu, itu bagi yang percaya. Baru-baru ini, Apolinario Chile Pixtun, seorang tetua suku maya, menampik isu itu.

Tetapi ada pula kekhawatiran yang cukup berasalan. Bagi sebagian besar orang di belahan dunia barat sana, krisis ekonomi yang belum terselesaikan di tahun 2011 merupakan momok menakutkan di tahun 2012. Sementara beberapa persoalan-persoalan lain juga tak kalah mengkhawatirkan: krisis pangan, krisis ekologi, ancaman nuklir, perang dan agresi negeri-negeri imperialis, dan lain-lain.

Namun, ada pula perkembangan yang memberi harapan. Di negara-negara yang dulunya disebut “makmur”, sebuah gerakan protes sudah menyeruak dan menyebar kemana-mana. Gerakan “Duduki Wall Street” telah mendunia. Begitu juga dengan gerakan kaum “amarah”- los indignados– di Spanyol, kebangkitan gerakan reformasi di dunia arab, gerakan anti-privatisasi pendidikan di Chile dan Kolombia, dan lain-lain.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya terus terang kebingungan menjawab ini. Tetapi, jika tetap dipaksa harus menjawab, maka saya akan berkata lantang: selama rejimnya tidak diganti, sistimnya masih neoliberal, dan birokratnya masih berwatak komprador, maka sulit berharap perubahan.

Masalah terbesar bangsa kita adalah soal nahkoda: bukannya ia tidak faham kemana kita mau mengarah, tetapi ia memang sudah terbeli oleh “perompak”. Ia membiarkan para perompak membawa pergi semua bahan makanan, kekayaan, dan perlengkapan kita. Jadinya, kita terkatung-katung di tengah lautan, dengan perut kosong dan tanpa nasib yang jelas.

Saya malah curiga, pak SBY salah pilih kereta: ia tidak memilih kereta harapan, tapi malah memilih kereta menuju neraka. Pasalnya, ia doyan betul dengan sistim neoliberal. Padahal, kata Hugo Chaves, presiden Venezuela yang dikagumi banyak orang itu, “neoliberalisme adalah jalan menuju neraka”.

Neoliberalisme jelas tak memberi harapan. Belum ada negara di dunia yang sukses karena jalan neoliberalisme. Ada bisa melihat pengalaman negara-negara Amerika latin yang lebih dulu jadi korban neoliberal. Yang terjadi: semua negara yang mengadopsi neoliberal nyaris runtuh.

Jadi, untuk tahun 2012, sepanjang neoliberalisme masih berkuasa, saya agak ragu. Jangan-jangan, kita hanya menyambut: hutang baru, perampasan tanah baru, eksploitasi hutan baru, perampokan kekayaan alam baru, kehancuran industri baru, kekerasan baru, penggusuran baru, dst.

Karena itu, untuk menghilangkan segala yang mengkhawatirkan itu, marilah kita bergotong-royong membersihkan segala bentuk anasir dan praktek neoliberalisme dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut