Swasembada Gula dan Petani Tebu

Sejak bulan Maret tahun ini harga lelang gula terus menurun sehingga berimbas pada menurunnya penghasilan petani tebu. Masuknya gula rafinasi ke pasar konsumen rumah tangga disebut-sebut sebagai salah satu penyebab anjloknya harga lelang gula. Jenis gula ini telah membobol pasar konsumen rumah tangga (konsumsi langsung). Namun, persoalan kesejahteraan petani bukan sekadar pada jebolnya pasar konsumen rumah tangga oleh gula rafinasi. Lebih jauh, hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah agar berpihak kepada petani tebu.

Keberadaan gula rafinasi saat ini tak bisa dipisahkan dari kompromi terhadap kebijakan impor gula. Dengan alasan untuk melindungi produk gula lokal, pemerintah menjatahkan impor jenis gula rafinasi yang dikhususkan untuk industri makanan, minuman, dan farmasi. Tahun 2010 ini pemerintah mengalokasikan impor sebesar 2,21 juta ton gula impor untuk kebutuhan tersebut di atas. Dalam rangka memenuhi kebutuhan itu pula, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) telah memberikan izin produksi kepada delapan pabrik gula rafinasi dalam kurun beberapa tahun terakhir. Sementara gula lokal dijatahkan untuk kebutuhan konsumsi langsung atau kebutuhan rumah tangga, yakni sekitar 2,7 juta ton.

Kami merasa penting untuk mencermati ‘usulan’ Menteri Perindustrian, MS Hidayat, agar industri gula rafinasi dimasukkan ke dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) bila tidak terintegrasi dengan perkebunan tebu. ‘Usulan’ ini akan positif, sepanjang bentuk integrasi tersebut bermanfaat meningkatkan kemampuan/teknologi produksi petani tebu serta memperbaharui sarana dan pra sarana pengangkutan.

Tanpa usaha untuk mengurangi kandungan impor sebagai bahan baku utama, maka keberadaan industri ini akan semakin jauh dari kepentingan petani tebu. Di sini butuh ketegasan pemerintah untuk segera mewajibkan pabrik-pabrik rafinasi agar membeli bahan baku (raw sugar) sebanyak-banyaknya dari petani tebu, bukan dari impor.

Disadari, bahwa kepentingan antara pihak produsen gula asing, para spekulan di pasar komoditi, serta importir yang ada di dalam negeri, adalah mempertahankan kebijakan impor ini. Atau, mempertahankan kondisi ketidakmampuan produksi dalam negeri. Sebaliknya, kepentingan petani tebu dan pekerja di pabrik-pabrik gula adalah meningkatkan kesejahteraan yang antara lain dapat dicapai melalui meningkatkan kemampuan produksi.

Pemerintah, yang kembali menjanjikan pencapaian swasembada gula di tahun 2014, tidak ada pilihan yang lebih masuk akal kecuali berada di pihak petani dan pekerja di pabrik-pabrik gula yang ada. Masalah lahan, teknologi untuk menghasilkan randemen yang baik, pembaruan mesin-mesin peninggalan kolonial, pembangunan pabrik baru, dan berbagai persoalan lain sudah harus mewujud tindakan-tindakan kongkrit di lapangan. Sejak tahun 2002 pemerintah telah menjanjikan swasemda gula, namun target waktu yang ditetap selalu diundur sendiri oleh pemerintah tanpa alasan yang jelas. Semoga kali ini tak kembali sekadar janji.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut