Surat Eva Bande Dari Penjara Untuk Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Eva BandeCatatan Pinggir untuk Kawan-kawan Seperlawanan….!!!

Dirgahayu Partai Rakyat Demokratik (PRD)! Delapan belas tahun sudah PRD ikut mencatat sejarah pertumbuhan bangsa ini mencapai kedewasaan berdemokrasi. Tetapi sejarah untuk PRD sendiri oleh Negara dipandang sebagai duri dalam daging. PRD lebih sering dikucilkan, diwaspadai, sekaligus dirindukan ketika ormas, orsospol, politisi, maupun para oportunis membutuhkan “pemicu” dibaris depan untuk menggempur kekuasaan yang sedang goyah. Setelah itu, PRD menjadi kambing hitam, begitulah dan itulah fakta yang direkam sejarah berulang-ulang kali.

PRD sudah sangat sering dikhianati kadernya sendiri, meski yang bersangkutan tanpa malu-malu selalu menyebut dirinya di hadapan publik “saya juga mantan aktivis PRD”. PRD telah melahirkan kader-kader yang sangat berkualitas. Di antara mereka telah menjadi bagian integral dari kekuasaan atau di dalam lingkar kekuasaan dalam posisi berlawan maupun sebaliknya, menjilat. Kader-kader PRD yang terkenal militansinya telah membuat Partai ini disegani oleh semua partai dan semua golongan, sekaligus dicemooh dari belakang maupun terang-terangan. Jatuh bangunnya organisasi kecintaan aktivis pro-rakyat ini, sudah kita tahu dan alami getir-pahitnya, toh kita tahu Dia (PRD) selalu di hati dan pikiran kita…!

Sejak berdirinya, PRD dengan tegas menolak dan melawan rezim pemerintahan yang telah menghalalkan kapitalisme dengan segala bentuk dan perangai hidup subur di negeri ini. Penolakan dan perlawanan itu bukan sekadar dinyatakan dalam forum-forum diskusi maupun debat, melainkan justru melalui pengorganisasian basis-basis massa rakyat, membangun kesadaran kritis mereka, supaya bisa ikut menegakkan demokrasi kerakyatan.

Kawan-kawan… kita adalah ahlinya bicara soal-soal kerakyatan, penindasan, eksploitasi manusia atas manusia. Sudah sangat sering, hampir pada setiap putaran waktu kita berteriak di jalan, di forum-forum, di media-media cetak dan elektronik, untuk menyadarkan para pemangku kuasa politik, kuasa modal, kuasa hukum, bahwa penindasan dan ketidakadilan semakin meluap-luap, kemiskinan rakyat menjadi-jadi. Ya…kaum miskin saat ini bahkan merasa tidak dalam kemiskinan karena kebal dengan derita puluhan dekade yang telah diwarisi dari generasi ke generasi. Standard hidup layak semakin tinggi, sementara kelayakan hidup kaum tani, buruh, nelayan, semakin surut. Lantas memaksakan diri untuk berebut makanan di medan-medan kerja alam kapitalisme tanpa kepemilikan alat produksi. Kalau tak malu menyebut bosan dan jenuh, kita selalu harus menyampaikan berulang-ulang kalimat-kalimat yang bermakna sama tentang realitas. Konsentrasi alat-alat produksi, terutama tanah, di tangan kuasa modal lokal, regional, nasionaldan yang paling buruk sindikat kapitalis internasional yang pongah nan rakus. Pencerabutan petani dari lahan-lahan garapan, mengubah mereka menjadi buruh di tanah sendiri, sungguh merupakan teriakan harian kita. Kekerasan demi kekerasan, kriminalisasi, bahkan pembantaian sudah pula menjadi kalimat-kalimat wajib seluruh kader PRD di manapun dia berdiri untuk berlawan. Toh penindasan-perampasan-peminggiran-kriminalisasi terus saja meningkat intensitasnya. Ada apa ini…? Apa yang salah dengan kita…? Atau apakah lawan yang terlalu kuat…?

Kawan-kawan… siapa yang tak tahu bahwa kader-kader PRD adalah ahli-ahli STRATAK(strategi dan taktik); Organiser-organiser handal dan militan. Berbalik dengan itu, orang-orang juga tahu atau belakangan semakin yakin, PRD dan perjuangannya akan tenggelam juga dan segala sesuatunya akan berjalan normal dalam kendali kuasa-kuasa modal dengan kawalan senjata.

Refleksi dan evaluasi atas kerja-kerja sudah kita lakukan dengan daur yang cukup intens. Juga kaderisasi terus berjalan meski tertatih-tatih. Hampir selalu kita menemukan penyakit yang menghambat pencapain cita-cita demokrasi kerakyatan itu adalah INKONSISTENSI. Kita juga terlalu cepat merasa lelah, padahal perkerjaan masih bertumpuk-bertumpang tindih, repotnya urusan rumah tangga, urusan perut pun sudah menjadi persoalan yang membuat “yang sedang berdiri tegakpun” terpaksa merangkak untuk melanjutkan pekerjaan, setidaknya untuk menghindari hukuman sejarah.

Kalau usia 18 tahun PRD saat ini harus kita terima sebagai usia remaja, maka kita harus bersegera mendewasakannya. Saat ini juga, jangan menunda, karena lawan-lawan kita semakin ganas saja, tak peduli derita rakyat semakin menjadi-jadi, karena rakyat telah menjadi pengikut “kapitalisme” di alam bawah sadar mereka. Pekerjaan kita semakin berat, sangat berat…. Ini harus disadari untuk disikapi. Pengorganisasian di sector-sektor rakyat harus lebih massive lagi dilakukan oleh PRD. Tidak boleh tunduk oleh rasa lelah, jumlah yang sedikit, dana yang minim, karena tumbuh dan meningkatnya kesadaran rakyat secara kuantitatif maupun kualitatif adalah imbal paling berharga dari hasil kerja keras kita. Kemurnian perjuangan di atas amanah penderitaan rakyat mesti dijunjung-teguhkan menjadi iman bagi kader-kader PRD sekarang dan kemudian. Visi dan misi kader-kader partai bukan sekadar basic ideology yang dimiliki, lebih dari itu jiwa dan pikiran kita harus penuh dengan dengan semangat kemanusiaan, serta tunduk patuh terhadap hukum pergumulan hidup manusia, bahwa penindasan manusia atas manusia harus dienyahkan sekecil apapun itu dalam kadar maupun takarannya.

Bangkitlah kawan-kawan…! kobarkan api perlawanan dalam jiwamu, terhadap setiap bentuk penistaan terhadap harkat dan martabat manusia, termasuk melawan bibit inkonsistensi dalam dirimu sendiri. Bacalah setiap keadaan, bacalah setiap literatur, hitunglah setiap kemungkinan kawan-lawan-menang-kalah-menunggu, cerdaslah mengambil tindakan meski himpitan hidup sedang menghakimimu, buang ragu sejauh mungkin sekecil apapun itu. Ideologisasi harus terus menerus dilakukan baik pada kader maupun kawan-kawan baru, perdalam-pertajam, rebut pula penguasaan informasi media cetak-elektronik. Kemenangan sedang menunggu kita….!

Bersatu-teguh pantang bersurut, berpaling adalah pantang, mundur adalah khianat…!

Penjara (Lapas II) Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah20 Juli 2014

Salam dari balik Jeruji

Eva Bande

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut