Surat Anak Korban Konflik Agraria Untuk Presiden Jokowi

Seorang anak petani korban konflik agraria di Karawang, Jawa Barat, mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo. Surat tersebut mewakili jeritan pedih anak-anak korban konflik agraria di Karawang dan di tempat lain.

Anak tersebut bernama Indriyani Hidayati. Dia adalah satu dari puluhan anak-anak yang terpaksa mengungsi bersama orang tuanya ke Jakarta guna mencari perlindungan. Mereka datang ke Jakarta sejak pertengahan Oktober lalu. Dan sekarang menginap dengan kondisi memperihatinkan di kantor LBH Jakarta.

Indriyani adalah murid SDN Wanajaya 3, desa Wanajaya, Kabupaten Karawang. Sejak mengungsing ke Jakarta, Indriyani dan puluhan temannya terpaksa meninggalkan sekolah. Nasib pendidikan mereka pun terkatung-katung.

Jumlah petani Karawang yang mengungsi ke Jakarta mencapai 200-orang. Mereka mengaku diteror dan dikejar-kejar oleh Kepolisian Resort (Polres) Karawang dan PT Pertiwi Lestari.

Berikut isi suratnya:

Kepada Yang Terhormat :
Presiden Republik Indonesia
Bapak Joko Widodo
Di
Istana Negara

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarokatuh.

Bersama ini saya dan kawan kawan ingin menyampaikan kepada Bapak. Sudah lebih dari satu bulan saya dan teman teman berada di jakarta dan tidak bisa sekolah, karena mengikuti orang tua kami yang terusir oleh PT Pertiwi Lestari dan beberapa orang tua teman saya juga di penjarakan oleh polisi karawang. Kampung saya dan teman teman saya dirusak oleh PT PL.  

Kami ingin segera pulang ke kampung halaman dan juga ingin kembali dapat bersekolah dan belajar seperti teman teman yang lainnya. Kami mohon kepada Bapak Prediden untuk menolong kami. Tolong kembalikan kami ke kampung halaman dan mohon agar kami bisa hidup dan belajar dengan aman dan tidak ada pengusiran lagi kepada kami dan orang tua kami.

Sekian dari kami anak anakmu yang merindukan kedamaian dan ketentraman.

LBH Jakarta, 02 November 2016
INDRIANI HIDAYATI dan Kawan Kawan

Sebelumnya, pada 11 Oktober 2016, pihak PT Pertiwi Lestari mengerahkan alat berat yang dikawal oleh security perusahaan, preman dan Brimob. Perusahaan berdalih akan melakukan pengerasan jalan.

Namun, alat berat itu menerjang dan merusak perkebunan warga. Melihat situasi itu, petani tidak tinggal diam. Mereka mencoba menghalau alat berat. Bentrokan tidak dapat dihindarkan setelah beberapa petani ditarik dan dipukuli oleh pihak keamanan perusahaan.

Karena kalah jumlah, pihak keamanan perusahaan lari tunggang-langgang karena dikejar oleh petani. Beberapa diantranya yang terjatuh dan membentur batu. Ada juga yang terjatuh di lubang galian.

Ironisnya, paska bentrokan itu, pihak Polres Karawang datang ke desa-desa dan menangkap 45 orang petani. Beberapa diantaranya adalah masih kategori anak-anak.

Setelah menjalani pemeriksaan, sebagian petani yang ditangkap dibebaskan. Sedangkan 11 orang ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di penjara Polres Karawang.

Konflik antara petani Teluk Jambe dengan Pertiwi Lestari sudah berlangsung sejak 1997. Saat itu, PT Pertiwi Lestari langsung mengklaim tanah yang tengah dikuasai dan digarap oleh petani.

Tentu saja, petani tidak terima. Pasalnya, mereka sudah bermukim dan bertani di lahan itu sejak lama dan turun-temurun. Sebagian warga mengaku punya bukti berupa girik dan SPPT.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut