Sumatera Thawalib, Sekolahan Kaum Radikal Di Sumatera Barat

Anda sudah nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk? Konon kabarnya, film ini berhasil menguras air mata sebagian penontonnya. Terutama karena kisah percintaaan dua tokoh utamanya, Zainuddin dan Hayati, yang berakhir tragik.

Tetapi saya tidak bermaksud mengulas film itu. Apalagi kisah percintaannya. Saya hanya tertarik dengan sepintas adegan dalam film itu, yakni saat Zainuddin masuk sebuah sekolah ternama di Padang Panjang. Sekilas terucap nama sekolah itu: Thawalib. Lengkapnya bernama Sumatera Thawalib.

Pada saat itu, kira-kira 1910-an dan 1920-an, Padang Panjang memang menjadi pusat pendidikan. Juga menjadi pusat pergerakan politik. Sumatera Thawalib menjadi sekolah ternama di Padang Panjang kala itu. Haji Abdul Malik Karim Amrullah aka Hamka, sang penulis novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, adalah jebolan Sumatera Thawalib.

Sekolah ini berdiri pada 15 Januari 1919. Para pendirinya adalah kaum reformis islam, yang berusaha memadukan antara pendidikan islam dan model sekolah modern. Menurut Audrey Kahin, dalam bukunya Dari Pemberontakan Ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, perguruan Sumateran Thawalib merupakan penerus dari perguruan agama tradisional bernama Surau Djembatan Besi.

Sekolah itu didirikan oleh Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)–ayahanda dari Hamka. Zainuddin Labai el-Junisiah, seorang guru berpikiran maju, mengajar di Surau Djembatan Besi pada tahun 1913. Dialah yang mengubah sistem pendidikan Surau itu menjadi Sumatera Thawalib. Ciri menonjol sekolah ini adalah model sekolahnya yang modernis, menggunakan meja, kelas-kelas, dan kurikulum.

Zainuddin Labai menjadi guru paling dihormati di Thawalib. Padahal, ia bukan jebolan Mekah maupun Kairo. Dia murni didikan Sumatera Barat. Ia lahir di Padang Panjang tahun 1890. Pernah mengenyam sekolah dasar pemerintah, tetapi dikeluarkan lantaran terus bersilang pendapat dengan guru-gurunya. Dia kemudian berguru pada ayahnya.

Yang menarik, Zainuddin sempat jadi Parewa–sebutan bagi anak muda yang suka pergi hilir-mudik, suka berpetualang, dan biasanya punya kemampuan ilmu silat. Namun demikian, keyakinan agamanya sangat kuat. Tak hanya itu, Zainuddin juga banyak dipengaruhi oleh ajaran nasionalis Turki, Mustafa Kamal Attaturk. Dia-lah yang menerjemahkan biografi Kamal Attaturk dan menyebarkannya di kalangan anak muda Sumatera Barat.

Selain mendirikan Sumatera Thawalib, Zainuddin juga mendirikan Sekolah Diniyah. Sekolah ini menekankan pendidikannya pada pelajaran umum, seperti menulis, membaca, matematika, ilmu falak, ilmu bumi, kesehatan, ilmu tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain. Sumatera Thawalib dan Diniyah ibarat saudara. Kalau Thawalib dibuka pada pagi hari, maka Diniyah dibuka pada malam hari.

Zainuddin berfikiran radikal. Ia menolak subsidi dari Asisten Residen Belanda untuk sekolahnya. Tak hanya itu, ia tidak melarang murid-muridnya menghirup pemikiran radika. Termasuk ajaran marxisme dan komunisme. Saat itu ajaran Karl Marx disebut “Ilmu Kuminih”.

Tahun 1918, Zainuddin mendirikan jurnal Islam, Al-Munir, yang dikelola oleh murid-muridnya. Kantor redaksi Jurnal ini menjadi tempat diskusi para pelajar-pelajar Thawalib dan Diniyah. Di sanalah para pelajar membaca koran dan memperluas jangkauan pengetahuannya. Kadang-kadang juga digelar acara “debating club”, yang menyedot minat para pelajar Thawalib dan Diniyah yang haus pengetahuan.

Tak hanya itu, pelajar Thawalib dan Diniyah juga mendirikan Koperasi. Selain menjual alat-alat belajar, Koperasi itu juga punya kantin yang disebut “Kantin Merah” atau juga sering disebut “Bofet Merah”. Djamaludin Tamim, salah seorang guru di Sumatera Thawalib, mengisahkan kantin merah itu dalam buku stensilan “Sedjarah PKI”: Di Padang Pandjang, sebuah kota ketjil di Sumatera Tengah tempat berkumpul dan pusatnja pesantren Agama/Mahasiswa Ilmu Gaib dari seluruh Sumatera, sudah sedjak awal tahun 1920 di sanapun sudah mulai menjebut2 tentang Sosialisme-Komunisme Sarikat Merah, walaupun pada permulaannja makanja Padang Pandjang menjadi pusat kaum merah, menjadi kota merah di Sumatera, hanjalah mendirikan BOPET MERAH sebagai tjabangnja Koperasi kaum Merah di sana, jakni lima enam bulan sebelumnja lahir PKI di Semarang tahun 1920.

Tetapi tidak semua guru Thawalib senang dengan ajaran marxisme yang digeluti muridnya. Salah satu penentangnya adalah Haji Rasul. Dia pula yang menjadi Kepala Sekolah saat itu. Haji Rasul sering terlibat dalam perdebatan keras dengan dua muridnya yang berpikiran radikal, Djamaluddin Tamin dan Haji Datuk Batuah. Kelak, Djamaluddin Tamin dan Haji Datuk Batuah menjadi tokoh pendiri PKI di Padang Panjang.

Pada tahun 1920-an, Haji Datuk Batuah ditugasi oleh Haji Rasul untuk meninjau keadaan sekolah Thawalib di Aceh. Tak disangka, di sana ia bertemu dengan Natar Zainuddin, seorang propagandis VSTP–serikat buruh berhaluan kiri yang berpusat di Semarang. Keduanya lantas berkawan akrab.

Tahun 1923, keduanya berangkat ke Jawa. Kebetulan bertepatan dengan penyelenggaran Kongres PKI/SI Merah di Bandung, Jawa Barat. Datuk Batuah dan Natar jadi peserta kongres itu.

Suasana kongres sangat berkesan bagi Haji Datuk Batuah. Di kongres itu, seorang Haji dari Surakarta, Haji Misbach, berpidato. Ia memaparkan pandangannya terkait sinergitas antara ajaran Islam dan Komunisme. Menurut Misbach, prinsip komunisme, yakni anti-penindasan, juga menjadi prinsip di dalam ajaran Islam.

Singkat cerita, pidato Haji Misbach itu meninggalkan kesan bagi Datuk Batuah. Begitu kembali ke Padang Panjang, ia menyebarkan pemahaman Misbach itu ke murid-muridnya di Thawalib. Tak hanya itu, ia menerbitkan koran bernama “Pemandangan Islam”. Tak pelak lagi, ilmu kuminih makin menyebar luas di kalangan murid-murid Thawalib.

Pada tanggal 20 November 1923, berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Batuah (Ketua), Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara), Natar Zainuddin (anggota), dan Dt. Machudum Sati (anggota). Dengan Haji Datuk Batuah sebagai propagandisnya, PKI Padang Panjang berkembang pesat. Saat itu Padang Panjang dikenal sebagai “Kota Merah”.

Perkembangan pesat PKI/SR Padang Panjang mencemaskan penguasa kolonial dan golongan konservatif. Abdul Muis, seorang pimpinan Sarekat Islam (SI) yang konservatif dan anti-komunis, juga cemas dengan perkembangan itu. Karena itu, Abdul Muis–yang kebetulan juga orang Minangkabau–rajin mengunjungi Padang Panjang.

Pada September 1923, Abdul Muis menggelar Rapat Akbar (Vargadering) di Padang Panjang, yang dimaksudkan untuk membendung pengaruh PKI/SR di kota tersebut. Haji Rasul, sang Kepala Sekolah Thawalib, turut menyokong rapat itu. Sayang, rapat itu gagal mencapai tujuannya: menjelek-jelekkan komunisme. Sebab, sejumlah aktivis komunis hadir di rapat itu dan membantah Abdul Muis.

Kendati demikian, aktivitas Haji Datuk Batuah tidak berlangsung lama. Pada 11 November 1923, Belanda mengirim satu detasemen Polisi untuk menangkap Datuk Batuah dan Natar Zainuddin. Keduanya dituduh berkomplot dengan penghulu Adat guna menyiapkan pemberontakan terhadap penguasa kolonial. Sehari kemudian, aktivis PKI Padang Panjang juga mulai ditangkapi. Djamaluddin Tamin, yang memprotes penangkapan itu di Pemandangan Islam, juga turut ditangkap sebulan kemudian.

Tetapi penangkapan Datuk Batuah dan Haji Rasul tidak menyusutkan dukungan rakyat terhadap PKI. Termasuk dukungan murid-murid dari Perguruan Thawalib. Siswa-siswa Thawalib memprotes penangkapan tokoh-tokoh PKI itu, yang notabene guru-guru mereka. Tak hanya itu, siswa Thawalib juga memaksa Haji Rasul, sang kepala sekolah, untuk mengundurkan diri.

Tahun 1924, aktivis PKI yang tidak tertangkap mendirikan Sekolah Rakyat di Padang Panjang. Sekolah ini meniru Sekolah Rakyat-nya Tan Malaka di Semarang. Yang menarik, selain belajar di Sekolah rakyat, murid-muridnya juga belajar di sekolah Diniyah pada malam hari. Sekolah Rakyat inilah yang terus mencetak “kader-kader merah”. Hingga meletus pemberontakan PKI di tahun 1927 di Sumatera.

Pasca pemberontakan PKI tahun 1927, Thawalib terus mencetak kader-kader untuk pergerakan kemerdekaan. Banyak jebolan Thawalib menjadi aktivis nasionalis. Sebagian kemudian mendirikan partai lokal bernama Partai Muslim Indonesia (Permi). Permi sangat anti-kolonialisme. Salah satu aktivis Permi yang terkenal, yakni Rasuna Said, yang kelak menjadi tokoh pergerakan nasionalis.

Rudi Hartono Pimred Berdikari Online.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut