Headlines  »  Suluh

Buku Dan Revolusi

Selasa, 26 Maret 2013 | 19:17 WIB 0 Komentar | 157 Views

Festival Buku (Filven) di Venezuela

Festival Buku (Filven) di Venezuela

Saya adalah seorang pencinta buku. Hampir setiap akhir pekan saya menyisipkan waktu untuk berburu buku-buku terbaru di toko buku. Sayang, tak selamanya keinginan saya berjalan mulus. Maklum, dengan gaji pas-pasan, tak semua buku terbaru bisa dijangkau oleh kantong saya.

Menurut anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Reni Marlinawati, harga buku di Indonesia termasuk yang termahal di dunia. Penyebabnya, selain harga kertas dan pajak yang tinggi, ada persoalan tata-niaga buku yang berlapis-lapis.

Selain itu, toko buku juga terkadang meminta diskon sangat tinggi. Akibatnya, harga buku pun melambung tinggi. Tapi, ya, memang begitulah hukum kapitalisme. Si penerbit dan distributor (toko buku) sama-sama berkeinginan meraup keuntungan.

Suatu hari, saya membaca artikel tentang pameran buku di Kuba dan Venezuela. Baru-baru ini, tepatnya 14 – 22 Februari 2013, Kuba menggelar pameran buku Internasional yang bertajuk “Havana International Book Fair”. Dahsyatnya, pameran buku ini menampilkan lebih dari 5 juta buku. Tak ketinggalan, 37 negara dan 390 penulis juga ikut memamerkan buku sastra terbaru mereka di pameran ini.

Untuk tahun ini, acara International Book Fair ini—rupanya sudah yang ke-22—sengaja diperuntukkan untuk menghormati Republik Angola dan 160 tahun kelahiran Jose Marti.  Daniel Chavarría, penulis revolusioner dari Nikaragua, menjadi bintang tamu khusus dalam pameran kali ini.

Yang menarik dari pameran buku ini, pemerintah Kuba mendorong harga buku semurah mungkin. Maklum, sebagian besar penerbitan buku tersebut disponsori oleh negara. Tak mengherankan, acara ini selalu “diserbu” banyak pengunjung. Harian pemerintah Kuba, Granma, menyebutkan, pameran ini dikunjungi sedikitnya 320.000 orang.

Jakarta Book Fair saja hanya dikunjungi tak lebih 200 ribu orang. Penduduk Havana tidak melebihi 3 juta orang. Sedangkan penduduk DKI Jakarta hampir mencapai 10 juta orang. Memang, minat membaca bangsa Kuba lebih tinggi dari bangsa Indonesia.

Tradisi pameran buku Kuba ini sudah berlangsung sejak 1992. Supaya seluruh rakyat di seantero negeri bisa merasakannya, maka acara pameran buku ini dibuat bergilirian di seluruh pelosok Kuba.

Kuba memang berada di barisan terdepan dalam perjuangan mensosialisasikan pengetahuan. Di Kuba, pengetahuan dianggap milik rakyat, bukan monopoli segelintir orang. Untuk itu, pemerintah Kuba menggratiskan seluruh jenjang pendidikannya kepada rakyatnya.

Dalam urusan buku, peranan pemerintah Kuba juga sangat kuat. Pemerintah Kuba mendorong penerbitan negara untuk memproduksi buku sebanyak-banyaknya. Tak hanya itu, supaya buku bisa terbeli oleh rakyatnya, harga bukunya dibuat semurah mungkin. Alhasil, hampir setiap orang Kuba bisa membeli buku dan membacanya.

Venezuela, setelah di bawah pemerintahan Hugo Chavez, juga mengikuti jejak Kuba. Pada tanggal 8-17 Maret lalu, Venezuela juga akan menyelenggarakan pameran buku bertema “International Book Fair of Venezuela (FILVEN)”.

Pada International Book Fair (Filven) ke-8 tahun 2012 lalu, jumlah pengunjung mencapai 235.000 orang. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, 2011, yang hanya menghadirkan 180.000 pengunjung.

Sejumlah negara juga berpartisipasi di Filven Venezuela, seperti Argentina, Brazil, Meksiko, Ekuador, Colombia, Chile, Kuba, Hungaria, Iran, Nigeria, Uruguay, Peru, Spain, Australia dan Turki.

Pada Filven 2012, jumlah penerbit yang berpartisipasi, baik nasional maupun internasional, berjumlah 254. Namun, pada Filven 2013 baru-baru ini, jumlah penerbit yang hadir mencapai 300-an.

Pada Filven 2012, jumlah buku yang terjual mencapai 74,144 buah. Buku berjudul “Bolivar, Action and Utopia: The Man of Difficulties”, karya Miguel Acosta Saignes, termasuk yang terlaris.

Selain memamerkan buku-buku, acara Filven Venezuela juga disertai dengan workshop yang menawarkan diskusi dan kursus menulis, pembacaan puisi, grafiti, teater, lokakarya dan pemutaran film,  pementasan seni, dan tari-tarian.

Ide penyelenggaran Filven tidak terlepas dari inisiatif Hugo Chavez. Chavez sendiri dikenal sebagai pembaca buku. Ia selalu memerintahkan rakyatnya untuk rajin membaca. Ada dua judul buku yang selalu direkomendasikan oleh Chavez untuk dibaca oleh rakyatnya, yakni “Les Miserables” karya Victor Hugo dan “Don Quixote” karya Miguel de Cervantes. Pemerintahan Chavez kemudian mencetak ulang jutaan eksemplar kedua buku itu untuk didistribusikan kepada rakyatnya.

Proyek Filven sejalan dengan visi revolusi Bolivarian untuk merevolusionerkan pengetahuan. Maksudnya, pengetahuan tidak boleh lagi dimonopoli segelintir orang, melainkan harus dikembalikan sebagai milik bersama seluruh rakyat.

Tak pelak lagi, di bawah pemerintahan Chavez, Venezuela berubah menjadi “negeri pembaca buku”. Menurut Pusat Buku Nasional Venezuela, sepanjang tahun 2006 hingga 2011, pemerintah Venezuela telah mendistribusikan 37 juta buku dengan berbagai topik.

Saat ini, Kementerian Kebudayaan Venezuela punya 33 institusi yang bertugas mendemokratiskan budaya, mencetak buku, dan menumbuhkan minat membaca. Dengan begitu, buku bukan lagi barang ekslusif di tangan klas tertentu, tetapi milik seluruh rakyat.

Revolusi memang sangat luar biasa. Tanpa revolusi, tidak mungkin pengetahuan bisa diakses oleh rakyat. Karena itu, Indonesia pun membutuhkan revolusi, untuk mendemokratiskan pengetahuan kepada rakyat. Amien!

Rudi Hartono

Tags: , , , , , , ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :