Headlines  »  Suluh

Ludruk Adalah Perlawanan Itu Sendiri..

Minggu, 1 Juli 2012 | 17:36 WIB 1 Komentar | 471 Views

Ludruk Kartolo-Sarip Tambak Oso

Tugas kesenian bukanlah sekedar menghidangkan hiburan. Tetapi, lebih dari itu, kesenian harus menjadi sarana membebaskan rakyat dari ketertindasan. Tidak terkecuali dengan kesenian rakyat yang bernama “Ludruk”.

Dalam derap langkah revolusi Indonesia yang menggemuruh, peranan ludruk tidak bisa dipandang sepele. Ludruk punya andil dalam menyemai perlawanan rakyat dari kampung ke kampung. Ludruk juga melahirkan sosok-sosok pejuang revolusi: Cak Durasim, Cak Urip Hartojo, dan Cak Bowo.

Di kancah kesenian, kesenian ludruk juga punya aktor-aktor hebat. Sosok Cak Durasim dan Cak Bowo disejajarkan dengan nama-nama besar seperti WR Soepratman, Cornel Simandjuntak, Kartolo, Rukiah, dan Kotok Sukardi.

Cuplikan Sejarah Ludruk

Ludruk lahir dari rahim berkesenian rakyat Indonesia. Tentang asal-usul Ludruk ini, ada beberapa versi penjelasan. Ada yang bilang ludruk lahir di Jombang. Namun, ada pula yang bilang ludruk dilahirkan di Surabaya. Yang jelas, ludruk lahir di Jawa Timur.

Ada versi yang menyebutkan, ludruk sudah muncul tahun 1890. Penggagasnya bernama Gangsar, seorang tokoh yang berasal dari desa Pandan, Jombang. Gangsar pertama kali mencetuskan kesenian ini dalam bentuk ngamen dan jogetan.

Versi lain menyebutkan, ludruk dipelopori oleh orang bernama Santik, petani dari Desa Ceweng, Kecamatan Goda, Kabupaten Jombang, pada 1907. Waktu itu, Santik bersama dua kawannya, Pono dan Amir, mengamen dari desa ke desa.

Ludruk kemudian berkembang senafas dengan perjuangan rakyat. Tahun 1920an, tokoh-tokoh pergerakan mulai melirik ludruk sebagai sarana penyadaran dan pengorganisasian massa rakyat. Sebut saja: Dr Sutomo dan Bung Karno.

Pada tahun 1933, Cak Durasim mendirikan  Ludruk Organizatie (LO). Kelompok ini aktif menentang fasisme Jepang. Anggotanya sekitar 60-an orang. Setiap pertunjukan mereka diawali dengan kidung jula-juli: bekupon omahe doro, melok Nipon soyo sengsoro (bekupon rumah burung dara, ikut Jepang makin sengsara). Cak Durasim ditangkap dan disiksa oleh Jepang.

Contoh lainnya: Bintang Merah. Kelompok ini berdiri semasa berkobarnya Revolusi Agustus 1945. Pimpinannya adalah Matekram. Ia gugur saat mempertahankan Bojonegoro dari serbuan Belanda. Bintang Merah membangkitkan perlawanan rakyat melalui pementasan di kampung-kampung, pabrik-pabrik, pegunungan, dan lain-lain.

Tak lama kemudian, Bintang Merah berganti nama menjadi “Suluh Massa”. Filosofinya: hiburan adalah obor massa untuk mendekatkan massa dengan revolusi. Dalam membangkitkan semangat revolusioner rakyat, kelompok Suluh Massa mengangkat cerita-cerita rakyat: Pak Sakerah, Sawunggaling, Bontotan Surabaya, dan lain-lain.

Di tahun 1950-an, ludruk makin berkembang pesat. Lahir kelompok-kelompok Ludruk seperti Irama Massa (Banyuwangi), Madju Trisno, Sinar Baru, Suluh Massa (Bojonegoro), dan Marhaen (Surabaya). Ini kelompok ludruk yang berdiri di barisan revolusi.

Pihak tentara juga membina kelompok ludruk. Namanya Tresna Enggal. Visinya adalah mengimbangi pengaruh kiri dalam kesenian Ludruk. Pada kenyataannya, Tresna Enggal kalah jauh dari ludruk di barisan kiri. Marhaen, misalnya, diketahui tampil 16 kali di istana negara. Juga pernah tampil beberapa kali di TVRI.

Peristiwa G.30/S mengubah segalanya. Kelompok ludruk kiri dikejar-kejar dan anggotanya ditangkapi. Banyak diantara mereka dibunuh. Juga, saat itu, muncul stigma: Ludruk adalah komunis! Setelah itu, barulah tentara mengorganisir ulang kelompok-kelompok ludruk non-kiri untuk kepentingan mereka.

Lelucon satire tapi melawan

Ludruk adalah kesenian rakyat. Bahasa yang dipergunakan ludruk adalah bahasa rakyat jelata: egaliter, tegas, lugas, dan sederhana. Umumnya pemain ludruk mengenakan kostum merah dan putih. Ini dianggap perlambang sikap anti-kolonial.

Kekuatan ludruk juga terletak pada interaksi langsung dengan penonton. Bahasa yang humoris, sesuai dengan bahasa keseharian rakyat, makin mendekatkan kesenian ini selera berkesenian rakyat.

Selain itu, improvisasi aktor secara spontan membuat suasana panggung menjadi hidup, mengalir, dan dinamis. Inilah coraknya kebebasan rakyat.

Namun, apa yang lebih penting dari ludruk adalah budaya perlawanannya. Bisri Effendy, seorang peneliti LIPI, menyebut ludruk sebagai perlawanan itu sendiri. Katanya,  ludruk muncul karena protes orang Jawa Timur terhadap ketoprak Mataram yang cerita-ceritanya menjunjung hubungan vertikal. Ludruk ingin sebaliknya: cerita-cerita rakyat.

Ludruk adalah drama satiris. Bagi Njoto, salah seorang pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI), satire-satire ludruk merupakan tembakan-tembakan yang bisa kena menyusur kepincangan masyarakat.

Pementasan ludruk banyak berisi dagelan-dagelan yang berisi kritik sosial. Tanpa berputar-putar, dagelan itu berupakan “tembakan langsung” kepada objek: tuan tanah, kapitalis, imperialis, kolonialis, dan penindas rakyat lainnya.

Kisah-kisah yang diangkat ludruk menyentuh langsung kehidupan rakyat. Kisah “pak Sakerah”, misalnya. Pak Sakerah adalah seorang mandor pabrik gula. Ia tak rela kaum buruh diperas dan disiksa semena-mena. Karena itu, pak Sakerah melawan. Ia ditangkap dan dipenjara. Sekeluarnya dari penjara, ia menuntut gajinya selama di penjara. Tetapi si tuan kapitalis menolak dengan kasar. Sakerah lantas membunuh pengusaha Belanda itu. Ia diganjar hukuman 20 tahun penjara. Tak sampai 20 tahun dipenjara, ia kabur dan menyusun perlawanan. Ia membunuh kepala desa dan carik yang menjadi kaki-tangan belanda. Hingga akhirnya pak Sakerah ditangkap secara licik.

Cerita lainnya, Sarip Tambak Yoso, berkisah tentang bocah kampung sakti mandraguna yang melawan penjajah Belanda. Kata Sindhunata, Tak ada ludruk tanpa kisah semacam Sarip Tambak Yoso. Artinya: “Tak ada ludruk tanpa protes orang kecil.”

Kalau begitu, selama masih ada penindasan, selama rakyat masih terus menggelar protes, maka (mestinya) ludruk masih terus hidup. Sayang, kenyataan berbicara lain: ludruk makin tersingkir. Generasi sekarang makin gandrung dengan komedi kontemporer: opera van java, stand up comedy, dan lain-lain. Padahal, isi komedi kontemporer itu lebih banyak mengumbar seksualisme, abstrakisme (kekosongan dan tak bertema), dan eskapisme (tak sadar atau terbius sehingga lupa kenyataan). Atau, seperti dikatakan Sindhunata, lakonnya kebanyakan fantasi di awang-awang, penuh gebyar dan ilusi.

Rudi HartonoPimred Berdikari Online

Tags: , ,

  • Tari Adinda

    Ludruk…haruskah punah tergerus jaman?…

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :