Headlines  »  Suluh

Prabu Siliwangi dan Mitos Maung Dalam Masyarakat Sunda

Minggu, 29 April 2012 | 10:09 WIB   ·   99 Komentar

Legenda Prabu Siliwangi

Dalam khazanah kebudayaan masyarakat tatar Sunda, maung atau harimau merupakan simbol yang tidak asing lagi. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat Sunda dikorelasikan dengan simbol maung, baik simbol verbal maupun non-verbal seperti nama daerah (Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi, hingga julukan bagi klub sepak bola kebanggaan warga kota Bandung (Persib) yang sering dijuluki Maung Bandung. Lantas, bagaimana asal-muasal melekatnya simbol maung pada masyarakat Sunda? Apa makna sesungguhnya dari simbol hewan karnivora tersebut?

Maung dan Legenda Siliwangi

Dunia keilmuan Antropologi mengenal teori sistem simbol yang diintrodusir oleh Clifford Geertz, seorang Antropolog Amerika. Dalam bukunya yang berjudul Tafsir Kebudayaan (1992), Geertz menguraikan makna dibalik sistem simbol yang ada pada suatu kebudayaan. Antropolog yang terkenal di tanah air melalui karyanya “Religion of Java” itu menyatakan bahwa sistem simbol merefleksikan kebudayaan tertentu. Jadi, bila ingin menginterpretasi sebuah kebudayaan maka dapat dilakukan dengan menafsirkan sistem simbolnya.

Sistem simbol sendiri merupakan salah satu dari tiga unsur pembentuk kebudayaan. Kedua unsur lainnya adalah sistem nilai dan sistem pengetahuan. Menurut Geertz, relasi dari ketiga sistem tersebut adalah sistem makna (System of Meaning) yang berfungsi menginterpretasikan simbol dan, pada akhirnya, dapat menangkap sistem nilai dan pengetahuan dalam suatu kebudayaan.

Simbol maung dalam masyarakat Sunda terkait erat dengan legenda menghilangnya (nga-hyang) Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran yang dipimpinnya pasca penyerbuan pasukan Islam Banten dan Cirebon yang juga dipimpin oleh keturunan Prabu Siliwangi. Konon, untuk menghindari pertumpahan darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam, Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya yang masih setia memilih untuk tapadrawa di hutan sebelum akhirnya nga-hyang. Berdasarkan kepercayaan yang hidup di sebagian masyarakat Sunda, sebelum Prabu Siliwangi nga-hyang bersama para pengikutnya, beliau meninggalkan pesan atau wangsit yang dikemudian hari dikenal sebagai “wangsit siliwangi”.

Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda adalah: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung[1]. Ada hal menarik berkaitan dengan kata-kata dalam wangsit tersebut: kata-kata itu termasuk kategori bahasa sunda yang kasar bila merujuk pada strata bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sunda Priangan (Undak Usuk Basa). Mengapa seorang raja berucap dalam bahasa yang tergolong “kasar”? Bukti sejarah menunjukkan bahwa kemunculan undak usuk basa dalam masyarakat Sunda terjadi karena adanya hegemoni budaya dan politik Mataram yang memang kental nuansa feodal, dan itu baru terjadi pada abad 17—beberapa sekian abad pasca Prabu Siliwangi tiada atau nga-hyang. Namun tinjauan historis tersebut bukanlah bertujuan melegitimasi wangsit itu sebagai kenyataan sejarah. Bagaimanapun, masih banyak kalangan yang mempertanyakan validitas dari wangsit itu sebagai fakta sejarah, termasuk penulis sendiri.

Wangsit, yang bagi sebagian masyarakat Sunda itu sarat dengan filosofi kehidupan, menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bermetamorfosa menjadi maung (harimau) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara. Yang menjadi pertanyaan besar: apakah memang pernyataan atau wangsit Siliwangi itu bermakna sebenarnya ataukah hanya kiasan? Realitasnya, hingga kini masih banyak masyarakat Sunda (bahkan juga yang non-Sunda) meyakini metamorfosa Prabu Siliwangi menjadi harimau. Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata.

Dari sini kita melihat terungkapnya sistem nilai dari simbol maung dalam masyarakat Sunda. Ternyata maung yang memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan sebelumnya menyimpan suatu tata nilai yang terdapat pada kebudayaan masyarakat Sunda, khususnya yang berkaitan dengan aspek perilaku (behaviour).

Kisah lain yang berkaitan dengan menjelmanya Prabu Siliwangi menjadi harimau adalah legenda hutan Sancang atau leuweung Sancang di Kabupaten Garut. Konon di hutan inilah Prabu Siliwangi beserta para loyalisnya menjelma menjadi harimau atau maung. Proses penjelmaannya pun terdapat dalam beragam versi. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, ada yang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi menjelma menjadi maung setelah menjalani tapadrawa. Tetapi ada pula sebagian masyarakat Sunda yang berkeyakinan bila Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menjadi harimau karena keteguhan pendirian mereka untuk tidak memeluk agama Islam. Menurut kisah tersebut, Prabu Siliwangi menolak bujukan putranya yang telah menjadi Muslim, Kian Santang, untuk turut memeluk agama Islam. Keteguhan sikap itu yang mendorong penjelmaan Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menjadi maung. Akhirnya, Prabu Siliwangi pun berubah menjadi harimau putih, sedangkan para pengikutnya menjelma menjadi harimau loreng.

Hingga kini kisah harimau putih sebagai penjelmaan Siliwangi itu masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat di sekitar hutan Sancang. Bahkan, kisah ini menjadi semacam kearifan lokal (local wisdom). Menurut masyarakat di sekitar hutan, bila ada pengunjung hutan  yang berperilaku buruk dan merusak kondisi ekologis hutan, maka ia akan “berhadapan” dengan harimau putih yang tak lain adalah Prabu Siliwangi. Tidak masuk akal memang, namun di sisi lain, hal demikian dapat dipandang sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang berhubungan dengan ekologi. Masyarakat leuweung Sancang telah menyadari arti pentingnya keseimbangan ekosistem kehutanan, sehingga diperlukan instrumen pengendali perilaku manusia yang seringkali berhasrat merusak alam. Dan mitos harimau putih jelmaan Siliwangi lah yang menjadi instrumen kontrol sosial tersebut.

Namun, serangkaian kisah yang mendeskripsikan korelasi antara Prabu Siliwangi dengan mitos maung itu tetap saja menyisakan pertanyaan besar, apakah itu semua merupakan fakta sejarah? Siapa Prabu Siliwangi sebenarnya dan darimanakah mitos maung itu muncul pertama kali?

Kekeliruan Tafsir

Bila kita telusuri secara mendalam, niscaya tidak akan ditemukan bukti sejarah yang menghubungkan Prabu Siliwangi atau Kerajaan Pajajaran dengan simbol harimau. Adapun yang mengatakan bahwa harimau pernah menjadi simbol Pajajaran adalah salah satu tokoh Sunda sekaligus orang dekat Otto Iskandardinata (Pahlawan Nasional), Dadang Ibnu. Tetapi, lagi-lagi, tidak ada bukti sejarah Sunda yang dapat memperkuat hipotesa ini, baik itu Carita Parahyangan, Siksakanda Karesian, ataupun Wangsakerta. Bahkan mengenai lambang Kerajaan Pajajaran pun masih debatable, dikarenakan ada beragam versi lain yang mengemuka menyangkut lambang Pajajaran.[2]

Problem lain yang muncul berkaitan dengan kebenaran sejarah “maung Siliwangi” tersebut ialah rentang waktu yang cukup jauh antara masa ketika Prabu Siliwangi hidup dan memerintah dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran yang dalam mitos maung berakhir dengan penjelmaan Siliwangi dan para pengikut Pajajaran menjadi harimau di hutan Sancang. Penting untuk diketahui bahwa secara etimologis, Siliwangi, yang terdiri dari dua suku kata yaitu Silih (pengganti) dan Wangi, bermakna sebagai pengganti Prabu Wangi. Menurut para pujangga Sunda di masa lampau, Prabu Wangi merupakan julukan bagi Prabu Niskala Wastukancana yang berkuasa di Kerajaan Sunda-Galuh (ketika itu belum bernama Pajajaran) pada tahun 1371-1475. Lalu, nama Siliwangi yang berarti pengganti Prabu Wangi merupakan julukan bagi Prabu Jayadewata, cucu Prabu Wastukancana. Prabu Jayadewata yang berkuasa pada periode 1482-1521 dianggap mewarisi kebesaran Wastukancana oleh karena berhasil mempersatukan kembali Sunda-Galuh dalam satu naungan kerajaan Pajajaran.[3] Sebelum Prabu Jayadewata berkuasa, Kerajaan Sunda-Galuh sempat terpecah. Putra Wastukancana (sekaligus ayah Prabu Jayadewata), Prabu Dewa Niskala, hanya menjadi penguasa kerajaan Galuh.

Dipersatukannya kembali Sunda dan Galuh oleh Jayadewata, membuat beliau dipandang mewarisi kebesaran kakeknya, Prabu Wastukancana alias Prabu Wangi. Maka, para sastrawan atau pujangga Sunda ketika itu memberikan gelar Siliwangi bagi Prabu Jayadewata. Siliwangi memiliki arti pengganti atau pewaris Prabu Wangi. Jadi, raja Sunda Pajajaran yang dimaksud dalam sejarah sebagai Prabu Siliwangi adalah Prabu Jayadewata yang berkuasa dari tahun 1482-1521.

Lalu kapan sebenarnya Kerajaan Pajajaran runtuh? Apakah pada masa Prabu Jayadewata atau Siliwangi? Ternyata, sejarah mencatat ada lima raja lagi yang memerintah sepeninggal Prabu Jayadewata.[4] Berikut ini periodisasi penerintahan raja-raja Pajajaran pasca wafatnya Jayadewata alias Siliwangi :

1.)   Prabu Surawisesa (1521-1535)

2.)   Prabu Ratu Dewata (1535-1543)

3.)   Ratu Sakti (1543-1551)

4.)   Prabu Nilakendra (1551-1567)

5.)   Prabu Raga Mulya (1567-1579)

Pada masa pemerintahan Raga Mulya lah, tepatnya tahun 1579, Kerajaan Pajajaran mengalami kehancuran akibat serangan pasukan Kesultanan Banten yang dipimpin Maulana Yusuf.[5] Peristiwa tersebut tercatat dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219, sebagai berikut :

Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa punjul siki ikang cakakala.

Artinya :

Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 Mei 1579 M.

Kemudian bagaimana nasib Prabu Mulya? Sumber yang sama menyatakan bahwa Prabu Raga Mulya beserta para pengikutnya yang setia tewas dalam pertempuran mempertahankan ibukota Pajajaran yang ketika itu telah berpindah ke Pulasari, kawasan Pandeglang sekarang. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa keruntuhan kerajaan Pajajaran terjadi pada tahun 1579 atau 58 tahun setelah Prabu Siliwangi wafat. Berarti Prabu Siliwangi tidak pernah mengalami keruntuhan Kerajaan yang telah dipersatukannya. Raja yang mengalami kehancuran Kerajaan Pajajaran adalah Prabu Raga Mulya yang merupakan keturunan kelima Prabu Siliwangi atau janggawareng[6] nya Prabu Siliwangi. Sementara Prabu Raga Mulya sendiri gugur dalam perang mempertahankan kedaulatan negerinya dari agresi Banten. Jadi, raja Pajajaran terakhir ini memang nga-hyang, namun bukan menjadi maung sebagaimana diyakini masyarakat Sunda selama ini melainkan gugur di medan tempur. Dari serangkaian bukti sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa mitos penjelmaan Prabu Siliwangi dan sisa-sisa prajurit Pajajaran menjadi harimau hanya sekedar mitos dan bukan fakta sejarah.

Bila bukan fakta sejarah, darimana sebenarnya mitos maung yang selalu melekat pada kisah Siliwangi dan Pajajaran itu berasal? Pertanyaan ini dapat menemukan titik terang bila meninjau laporan ekspedisi seorang peneliti Belanda, Scipio, kepada Gubernur Jenderal VOC, Joanes Camphuijs, mengenai jejak sejarah istana Kerajaan Pajajaran di kawasan Pakuan (daerah Batutulis Bogor sekarang). Laporan penelitian yang ditulis pada tanggal 23 Desember 1687 tersebut berbunyi “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort”, yang artinya: bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja “Jawa” Pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau. Bahkan kabarnya salah satu anggota tim ekspedisi Scipio pun menjadi korban terkaman harimau ketika sedang melakukan tugasnya.

Temuan lapangan ekspedisi Scipio itu mengindikasikan bahwa kawasan Pakuan yang ratusan tahun sebelumnya merupakan pusat kerajaan Pajajaran telah berubah menjadi sarang harimau. Hal inilah yang menimbulkan mitos-mitos bernuansa mistis di kalangan penduduk sekitar Pakuan mengenai hubungan antara keberadaan harimau dan hilangnya Kerajaan Pajajaran. Berbasiskan pada laporan Scipio ini, dapat disimpulkan bila mitos maung lahir karena adanya kekeliruan sebagian masyarakat dalam menafsirkan realitas.

Sesungguhnya, keberadaan harimau di pusat Kerajaan Pajajaran bukanlah hal yang aneh, mengingat kawasan tersebut sudah tidak berpenghuni pasca ditinggalkan sebagian besar penduduknya di penghujung masa kekuasaan Prabu Nilakendra—ratusan tahun sebelum tim Scipio melakukan ekspedisi penelitian.[7] Sepeninggal para penduduk dan petinggi kerajaan, wilayah Pakuan berangsur-angsur menjadi hutan. Bukanlah suatu hal yang aneh bila akhirnya banyak harimau bercokol di kawasan yang telah berubah rupa menjadi leuweung tersebut.

Kesimpulan

Mitos maung yang dilekatkan pada sejarah Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran pun sudah terpatahkan oleh serangkaian bukti dan catatan sejarah yang telah penulis uraikan. Memang sebagai sebuah sistem simbol, maung telah melekat pada kebudayaan masyarakat Sunda. Simbol dan mitos maung juga menyimpan filosofi serta berfungsi sebagai sistem pengetahuan masyarakat berkaitan dengan lingkungan alam. Hal demikian tentu harus kita apresiasi sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Sunda.

Namun sebagai sebuah fakta sejarah, identifikasi maung sebagai jelmaan Prabu Siliwangi dan pengikutnya merupakan kekeliruan dalam menafsirkan sejarah. Hal inilah yang perlu diluruskan agar generasi berikutnya, khususnya generasi baru etnis Sunda, tidak memiliki persepsi yang keliru dengan menganggap mitos maung Siliwangi sebagai realitas sejarah.

Kekeliruan mitos maung hanya salah satu dari sekian banyak ”pembengkokkan” sejarah di negeri ini yang perlu diluruskan. Hendaknya kita jangan takut menerima realitas sejarah yang mungkin berlawanan dengan keyakinan kita selama ini, karena sebuah bangsa yang tidak takut melihat kebenaran masa lalu dan berani memperbaikinya demi melangkah menuju masa depan akan menjelma menjadi bangsa yang memiliki kepribadian tangguh. Terima kasih.

Sampurasun..

HISKI DARMAYANA, Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang dan Alumni Antropologi FISIP Universitas Padjadjaran.



[1] Kisah mengenai wangsit ini telah menjadi semacam kisah yang sifatnya “tutur tinular” dari generasi ke generasi dalam masyarakat Sunda. Sehingga sulit dilacak dari mana sebenarnya cerita mengenai wangsit ini bermula.

[2] Sebagian kalangan berkeyakinan lambang Pajajaran adalah burung gagak (kini menjadi lambang salah satu perguruan silat di Jawa Barat, Tajimalela). Sementara ada pula yang berpendapat bahwa gajah adalah simbol Pajajaran yang sebenarnya.

[3] Nama Siliwangi sudah muncul di Kropak 630, semacam karya sastra Sunda berjenis pantun pada masa Prabu Jayadewata berkuasa. Seperti halnya nama Prabu Wangi, Siliwangi juga diciptakan oleh para pujangga Sunda sebagai julukan atau gelar bagi Prabu Jayadewata. Selain Siliwangi, Prabu Jayadewata juga mendapat gelar lain, yakni Sri Baduga Maharaja.

[4] Terdapat dalam  naskah Carita Parahyangan. Naskah ini mendokumentasikan kehidupan Kerajaan Sunda-Galuh hingga Pajajaran dari berbagai aspek, seperti politik dan ekonomi.

[5] Maulana Yusuf tiada lain adalah keturunan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subanglarang.

[6] Janggawareng merupakan istilah  bagi keturunan kelima dalam sistem kekerabatan Sunda.

[7] Hal ini diceritakan dalam naskah Carita Parahyangan. Migrasi besar-besaran tersebut dilakukan untuk menghindari serangan Pasukan Banten yang sangat gencar. Sementara strategi pertahanan Prabu Nilakendra amat lemah  dan tidak mampu membendung agresi Banten.

Tags: , , ,

URL Singkat:

  • Budi Ardiansyah

    boss ! bukannya prabu wangi itu julukan / sebutan bagi prabu lingga buana yang gugur mempertahankan kehormatan sunda dibantai si anjing pengkhianat-gadjah mada di pesanggarahan bubat ? so … silih-wangi I adalah prabu niskala wastu kencana en silih-wangi II adalah sri baduga maharaja (jayadewata, cucu wastu kencana).

  • Ricky Nurizky Tirtaatmadja

    Ass,hayu urang make akal sareng kayakinan agama,kahiji moal aya ruh nu maot tiasa balik deui ka dunia salaen Ijin 4JJI SWT,pan narungguan kiamat ka alam barzah,bade naon Keur d jagaan ku malaekat arek balik deui?kadua,jin2 teh umurna pararanjang,bisa wae aya nu hirup ti zman pajajaran,sarua2 hirup d dunia siga manusa,ngan beda dimensi,rek belokeun sejarah?bisa wae da manehna mah tiasa ningali sejarah,ngan ti tos nabi Sulaeman maot,teu bisa deui ningali masa depan,bisa ngajelma siga manusa,siga maung,siga naon wae sakahayangna,tinggal urangna,rek percaya ka 4JJI/daek dibobodo ku manehna?ujud fisik karajaan bisa wae kalebur ku naon,jdi teu katingali,da bareto ge borobudur sakitu gedena saacan d gali ngan ukur ujungna nu katingali babatuan wngkul,nu ngajieun bisa manusa bisa jin,tpi mun manusa sok tingali tapak nabi Ibrahim,sagede kumaha manusa zman sakitu,tnggina ge leuwih ti genep meter,nyieun piramid bisa wae sarua jeung nyieun imah,eta dinosaurus bisa jdi ngan sagede ucing zman ayeuna,panimuan2 fisik sjarah pan tulisan2 cacarita jelma zman sakitu,acan bisa d pastikeun validitasna,da saha manusa nu hirup nepi ayeuna salaen jin?da bisa beda carita nu nyieun sesat,fisik sejarah nu valid mah ngan Al quran wngkul,eta 30S PKI ge bisa beda carita,pdhal ngan 30thn,ku naon teu d jadikeun Prabu Siliwangi teh tkoh panutan urang Sunda d palebah kebijaksanaan sareng keadilana?sifat gagah berani sekaligus pnyayang ti maung urang jdikeun sifat urang Sunda,tpi sok ngagegel ka mangsa jeung msuh mah ulah,da urang teh nagara hkum,beda pandangan urusan sjarah mah wajar,da kabeh ge nebak2 ti bukti fsik nu aya,eweuh jalma nu hirup nepi ayeuna,aya ge jin nu sok ngabobodo,sok ayeuna naon deui nu rek didebatkeun?da mun iraha2 katimu bukti2 nu sejen mah bisa beda bisa henteu eta carita sjarah teh,tinimang debat teu puguh mah mnding urang nyatuan ngabangun parahiyangan d dsarkeun smangat siliwangi,sifat maung nu alusna urang terapkeun dina kahirupan,nu goreng urang hindarkeun,tawakal sareng istiqomah ka 4JJI SWT,kumaha dulur2 sadayana?

  • Didi zunaedi

    Tahh perang Bubat intina. cenah siGajah mada ngabantai orang sunda jeung rajana d bongohan,apah enya..?da pasukan sunda can sariap pakakas perangna jadi eleh.Mun siap mah moal eleh pisan JAWARA sunda mah.eta teori perang siGajah mada cerdas otakna,krajaan jawa hayang ngelehkn krajaan sunda apa bener?.nepi k ayeuna sunda jeung jawa haghog wae.. jawa kowek.. jawa kowek..cenah.ngarasa jawa kolot,kawin ge jadi masalah mun lalakina sunda awewena jawa moal maju seureut rejeki cenah,moal repok2.Uwing korbanna pamajikan uwing orang jawa nepi k cerai deui,carita eta nepi k ayeuna d jawa ge mercayakn mitos kitu.raja nu pasea uwing kababawa.Di kota jawa barat euweuh ngaran jalan Gajah mada apa bener?.eta kakesel nenek moyang urang d tularkn k anak incuna.gusti allah teu ngabedakn jawa sunda. cing kokolot orang jawa jeung sunda cobi pang luruskn.paribahasa jawa kolot sunda ngora.sigana eta mah politik kakuasaan.sok luruskn cerdas2kn amang,uwa,aki orang sunda teh.anak incu urang ulah d racunan ku siloka nu nyesatkn umat islam moal maju…Hapunten mun aya kata kata teungenah k hate k karuhun.Uwing teu aya niat nu awon.hayang ngabuka hate jalma anu buta ku agama.

  • Oded Walangsungsang

    Cigana memang kitu ari nulis sajarah mah sakumaha anu ditulis ku kang Hisky sajarah mah moal kaluar tina pakem’ aya taun jeung bukti situsna maca sajarah pajajaran di sababaraha tulisan dipungkas ku tahunsarebu limaratus tujuh puluh salapan, perlayana ratu pajajaran pamungkas nu katelah Perbu Raja Mulya Sri Wastu Kancana..prabu Sliwangi panungtungan . Asa moal nyambung sajarah dipadukeun jeung dongeng atawa mithos mah komo jasad lahir ngahiang jadi maung’ mah…ngan saukur bisa ditarima ku legawa hate jeung rasa mireu’eus budaya karuhun’. Asa ngadukung ka pamendak kang Ricky Reezky jeung kang Yan…kisunda di zaman NKRI mah loba kaciri ELEHAN teu jiga jalak harupat’..gagah jeung tandang nuaya mah loba kumeok’…paleban dieu naon deui atuh nu bisa dibanggakeun ku urang sunda??..iwalti ngamumule budayana…tilemna prabu siliwangi jeung saparakanca tina alatan dirurug tentara Maulana Yusuf ti Banten ..ngahiang jadi maung pajajaran ngarupakeun jalan tengah, yen karuhun urang teu eleh ngababatang kalayan aya bukti…komo mun nepika katawan musuh mah…eleh soteh bukti fisik na rata jeung karatonna…tapi jiwana tetep hirup di masyarakat sunda…..ngabahas runtuhna pajajaran moal leupas tina perkara utamana nu matak jadi SARA…naon atuh misi banten ngarurug pajajaran…’…hawar hawar kadenge sang prebu mungkas UGA na….”Nu
    kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun!
    Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu,
    disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda
    disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara
    sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu
    sajati”…cag

  • supriatna sujana

    Punteun ah bade ngiring ngareuwong, teu keudah ngaributkeun perkawis kayakinanna. Nu keudah di percanteunmah yen Kanjeung prabu siliwangi teh Raja urang pajajaran, Raja tatar sunda Raja nu bijaksana ka Rakyatna teu mandang cacah atanapi menak, anjeunamah handap asor, malahmah kaconcara ka tatar dunia. Kudu bangga urang jadi urang sunda sabab moal aya basa nu pangbeunghar-beungharna salain basa SUNDA, agan-agan. Salam pangboktos ti simkuring Supriatana sujana.

  • Ki Gaber

    kok sejarah menghilangnya (moksa) pradu siliwangi raja pajajaran sama brawijaya raja majapahit sama yah?
    trus sama-sama karna diserang anaknya yang sudah memeluk islam dan sama lg karna memilih mengalah dengan anaknya..
    ada apa dengan sejarah kerajaan kita ini yah.apa emang semua ini mitos belaka.

  • Yatz Putra Padjadjaran

    Assalamu’alaikum,punten sanes abdi nyanyahoanan da nu namina sejarah the hiji pelajran nu kudu dipelajari ku urang sadaya da urang sadaya bagian ti sajarah atawa pelaku sejarah,lamun urang rek nyukcruk galur kana sejarah ulah ngandelkeun akal logika bae tp kudu dibarengan ku kayakinan jeung kaimanan pada”,da ngeunaan ieu sejarah the ngandung harti pelajaran keur urang, :satiap jalma kudu ngabogaan sifat jalma naon handap asor hade semu someah tur ramah tamah intina urang kudu bisa ngaji diri mawas diri sakumaha urang jd salaku sejarah, kumha ari ngaji diri,kieu ;pek geura tanya diri masing” saha urang,timana urang jeung rek kmna urang ceuk kolot mah papat sedulur kelimo pancer,naon hartina pek geura tanyakeun ka kolot masing2, nya ceuk al qur’an manusa anu mimiti diciptakeun nyaeta Adam Alaihi salam,tinu naon diciptakeun dawuhna tinu taneuh,naon maksudna Alloh nyiptakeun manusa tinu taneuh,,,sangkan urang salaku manusa ngabogaan sifat siga taneuh da ceuk basa sunda mah taneuh the lemah nya lemah da teu daya teu upaya angin Alloh nu kagungan,Alloh nyicptakeun makhluk nu paling sampurna nya eta manusa kunaon disebut sampurna pek geura tanya kana hate masing” pasti apal,Alloh marentahkeun ka sakabeh makhluk sumujud ka ciptaan nana kabeh sumujud ngan aya 1 nu ngabangkang IBLIS laknatulloh kulantaran pangrasa AING pang kuatna dciptakeun tinu seuneu kulantaran eta IBLIS embung sumujud. Timimiti eta Alloh Ngalaknat tuluy ngaluarkeun IBLIS ti sawarga jeung tempat pangbalikan di peo engke jaga poe akhir nyaeta Naraka Jahannam tempat balikna,kulantaran ti eta IBLIS ngucap yen bakal ngaganggu sajero ning ati sakaturunan Adam bakal disesatkeun ti jalan Alloh sampe poe ahir pikeun maturan engke jaga di akherat,bsik panjang teuing maca na pek geura buka sejarah nabi jeung rosul timimiti nabi adam dugi ka nabi akhir jaman Muhammad shollalohu alaihi wasallam,stiap sejarah pasti aya pelajaran nu kudu dipelajari ditelaah stiap pelajaran pasti ngandung hikmah,sajarah nabi Adam the awal mulana sejarah ngeunaan sejarah dunia,pasti bersinambung kana sajarah2 sejenna dugi ka kiwari….dugi akhir sejarah nu saleresna nyaeta poe ahir nu di sebut kiamat wallohu a’lam hapunten anu kasuhun nu saageung ageun na luhur saur bahe carek bilih cacariosan simkuring kirang merenenah mugia ditawakup upami leres dongkapna ti Alloh upami salah dongkapna ti kabodoan kuring wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

  • agra

    jaman ayena loba jalma nu hayang disebut pinter/ nu pang benerna jeng dei ngarasa tinggi elmuna. moga” diakan ku maung!

  • wawan irawadi

    Runtuhnya Kerajaan Pajajaran (kerajaan pantat kuda kata orang Bugis : Paja =Pantat, Jaran=Kuda) bukan karena oleh Majapahit, namun oleh Islam, terlebih Kian Santan, sang pendurhaka nan biadab. Apa arti kutukan dlm bahasa Sunda tsb? Itu adalah lampiasan amarah sang prabu (kutukan) kepada ang pendurhaka. Dalam hukum kerajaan, kutukan berarti turun temurun. Kini masyarakat Sunda telah menerima akibat kutukan tsb. Bila ingin menghilangkan kutukan, satu-satunya cara kembali ke agama semula.

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :