Tari Adinda: Musikku Adalah Suara Kaum Tertindas

Sabtu, 7 Januari 2012 | 15:36 WIB 0 Komentar | 100 Views

Tari.jpg

Perempuan muda itu, dengan gitar di tangannya, mulai bernyanyi pelan. Malam itu, di tengah-tengah lingkaran petani, ia berusaha melakukan dua hal: menghibur dan menambah militansi perjuangan.

Di mata banyak orang, dua hal itu sulit disatukan. Tapi, bagi Tari Adinda, nama perempuan muda itu, menyatukan keduanya tidak sulit. Ia belajar dari pengalaman Iwan Fals, raja musik balada Indonesia itu, yang berhasil menciptakan lagu-lagu menghibur tapi berbau kritik sosial.

Tapi soal kritik sosial, lagu-lagu Tari jelas lebih kritis, tajam, dan sangat mengena. Maklum, ia tidak meraba penindasan itu dari luar, tapi merasakan langsung betapa kerasnya penindasan itu.

Tari Adinda adalah penyanyi kerakyatan. Ia anggota Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), organisasi seniman berhaluan kiri yang berdiri tahun 1994. Tari juga bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik garmen di Jakarta.

Awal Munculnya Lagu Protes

Tari lahir di Surabaya, Jawa Timur, 2 Juli 1980. Ayahnya, yang seorang pemimpin orkes, sangat berpengaruh dalam hidupnya. “Bapak yang mengajari saya dasar-dasar bermain gitar,” kenang Tari.

Ketika masih di SD, ia sudah jatuh cinta pada musik. Julius Sitanggang, yang pernah menjadi penyanyi cilik di tahun 1980-an, menjadi penyanyi idola Tari. Ia mengaku suka dengan suara merdu pelantun “Maria” itu.

Tari juga pernah hilir-mudik dengan kelompok musik keroncong. Ia menjadi vokalis di kelompok musik itu. Di situlah, Tari memperkuat teknik mengolah vocal.

Tahun 2004, ketika sudah beranjak dewasa, Tari pindah ke Jakarta. Ia bekerja di sebuah perusahaan garmen di Jakarta Utara.

Suatu hari, ketika sedang bekerja, sebuah kejadian miris terjadi. Seorang teman kerjanya gagal mencapai target. Perusahaan menargetkan: setiap pekerja mesti menghasilkan minimal 50 jahitan per-jam. Tapi, temannya itu hanya sanggup menyelesaikan 30 jahitan. Buruh bernasib malang itu digebuk dan dimaki-maki oleh mandor.

Kejadian itu membekas kuat dalam memori Tari. Saat itu, ia belum bergabung dengan serikat buruh manapun. Tapi, ketika melihat kejadian itu, ia sangat marah dan memprotes kondisi yang tidak adil itu.

Kejadian itulah yang mengilhami Tari menulis lagu “Buruh Kontrak”. Lagu itu menggambarkan kehidupan “buruh kontrak” yang sangat mirip  dengan bola yang ditendang kesana-kemari.

Pengaruh Iwan Fals

Tari sangat mengagumi Iwan Fals, maestro musik balada Indonesia itu. Selain Iwan Fals, idola Tari lainnya adalah Slank dan Frangky Sahilatua. Tetapi Iwan Fals-lah yang paling berpengaruh.

Ia kagum dengan iwan Fals karena satu hal: memadukan hal yang kocak dengan kritik sosial. Dengan begitu, kata Tari, lirik-lirik lagu Iwan Fals begitu meresap dalam sanubari para penggemarnya, khususnya orang muda.

Tari pernah bermimpi: Iwan Fals bernyanyi tentang kehidupan buruh. Sampai-sampai, pada suatu hari, ia mengirim surat khusus kepada Iwan. Ia meminta Iwan menciptakan lagu-lagu tentang kaum buruh. Sayang, surat itu tidak pernah berbalas sampai sekarang.

Tari sendiri tidak terlalu kecewa. Dalam dirinya, ia makin yakin bahwa harus ada “Iwan Fals perempuan” yang berbicara tentang kaum buruh.

Bergabung Dengan Pergerakan

Awalnya, Tari tidak berniat bergabung dengan serikat buruh. Berkali-kali ia mendapat undangan dan selebaran, tapi tak juga menggugah hatinya untuk menjadi anggota serikat buruh.

Hingga suatu hari, seorang aktivis buruh mengajaknya ikut  rapat akbar. Rogayah, nama aktivis buruh itu, memberitahunya kalau di rapat akbar itu ada pementasan musik. Tari pun terbujuk.

Sampai di lokasi rapat akbar, konser musik yang ditunggu-tunggu tak juga mulai. Ia mulai agak kecewa. Tapi, di penghujung acara, sekelompok pemuda tiba-tiba tampil dengan lagu-lagu berbau kritik dan protes.

Pemuda-pemuda itu adalah seniman Jaker. Tari pun berkenalan dengan seorang pentolan Jaker, Tejo Priyono. Tejo pun mengajak Tari berkunjung ke sanggar-sanggar yang dibangun Jaker.

Sejak itu, Tari juga sudah menjadi anggota serikat buruh: Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI). Ia mulai terlibat dalam berbagai pengorganisiran dan demonstrasi kaum buruh.

Setelah bergabung dengan FNPBI, Tari mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman baru. “Sejak itu, saya menjadi tahu kalau sistem yang menindas kaum buruh itu bernama kapitalisme,” ujar Tari mengisahkan pengalamannya berorganisasi.

Persentuhan dengan gerakan membuat Tari mengenal dengan banyak grup musik perlawanan. Diantara yang dikenalnya: Red Flag dan Kepal-SPI. Ia sendiri mengaku suka dengan Red Flag dan lagunya “Buruh-Tani”.

Suatu hari, pada peringatan Hari Buruh Se-dunia, 1 Mei 2006, Red Flag tampil di tengah-tengah aksi ratusan ribu kaum buruh. “Red Flag menyanyi sangat keren sekali. Saya langsung suka dengan musik mereka,” ujar Tari.

Meski Tari gagal tampil di tengah aksi itu, tapi ia merasa senang. Setidaknya, keyakinannya menjadi penyanyi yang berpihak kepada rakyat pekerja, makin terkuat dan terpatri dalam sanubarinya.

Satu peristiwa yang paling dikenangnya adalah menyanyi di tengah-tengah rally aksi buruh kawasan di Cakung, Jakarta. “Saya merasa mimpi saya terwujud hari itu. Menyanyi di tengah banyak orang yang sedang berjuang,” katanya.

Lagu dan Protes

Di usia yang masih muda, Tari sudah mencipta 100-an lebih lagu. 35 diantaranya adalah lagu-lagu protes sosial. Ia juga sudah mengeluarkan satu album berjudul “Buruh Kontrak”.

Lagu berjudul “Buruh Kontrak” sudah tersebar di jejaring sosial, termasuk Youtube. Lagu itu mengangkat realitas yang sangat telanjang tentang kehidupan kaum buruh, khususnya buruh kontrak.

Lagunya yang lain, Indonesiaku, tak kalah kritisnya. Di lagu itu, ia mempertanyakan Indonesia yang kaya raya, tapi rakyatnya hidup menderita.

Indonesiaku, katanya tanah subur
Tapi lihatlah, masih banyak yang nganggur
Rumah, sawah, dan para pedagang
Masih terus digusur..
(Indonesiaku, Cakung, 28 Juni 2007)

Melalui lagunya, Tari juga menyampaikan apresiasi tulus terhadap perjuangan kawan-kawannya: aktivis buruh yang rata-rata perempuan. Salah satu lagunya berjudul “Perempuan Tangguh” memang diciptakan khusus untuk para aktivis buruh perempuan.

Tapi, sebetulnya, Tari tidak hanya mengeritik sesuatu yang dekat di sampingnya. Sejumlah lagunya juga mengkritik ketidakadilan dan penindasan yang meluas terjadi di seluruh pelosok negeri. Tentang kehidupan rakyat di Papua, Tari menulis lagu berjudul “Papua oh Papua”.

Atap rumbay, rumah tinggalnya di sana
Di tanah yang kaya…
Gunung emas yang dipandangi, bukan dari televise
Jadi ironi dengan kenyataan..
(Papua oh Papua, Jakarta, 13 Desember 2011)

Begitulah, melalui lagu-lagunya, Tari Adinda menyuarakan suara orang-orang tertindas dan terpinggirkan.

Kusno

Tags: ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :