Punakawan, Simbol Perlawanan Rakyat Jelata

Sabtu, 1 Oktober 2011 | 17:05 WIB 0 Komentar | 169 Views

Kisah pewayangan sudah sejak lama dikenal oleh masyarakat nusantara, khususnya masyarakat Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Sunda dan Bali. Tidak hanya dikenal, namun kisah pewayangan  telah menjadi semacam  pedoman hidup bagi masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Bahkan bagi beberapa kelompok dalam masyarakat Jawa, tokoh-tokoh pewayangan diyakini benar-benar ada didunia ini, meskipun dunia yang dimaksud bukanlah dunia fana yang ditempati manusia, melainkan “dunia lain” yang sifatnya tidak kasat mata. Salah satu contohnya ialah kepercayaan masyarakat dilereng gunung Merapi terhadap Mbah Petruk yang diyakini sebagai penguasa gunung tersebut.

Secara garis besar, kisah pewayangan yang paling populer di nusantara tentu mitologi Mahabharata dan Ramayana. Kedua cerita tersebut berasal dari India dan erat kaitannya dengan ajaran agama Hindu. Secara umum, kedua cerita wayang itu terpusat pada kehidupan kaum ksatria dan brahmana, seperti pertikaian antara dua keluarga ksatria trah Bharata (Bharatayudha) yakni Pandawa dan Kurawa demi memperebutkan tahta Hastinapura dalam cerita Mahabharata. Masyarakat Jawa mulai mengenal kisah-kisah pewayangan itu sejak ribuan tahun silam, bersamaan dengan masuknya agama Hindu ke tanah Jawa.

Ada hal menarik dari proses  berkembangnya cerita pewayangan di tanah Jawa, yakni munculnya tokoh-tokoh yang tidak ada dalam kisah aslinya di India. Kemunculan tokoh-tokoh  baru itu dipandang sebagai manifestasi kearifan lokal para pujangga nusantara dalam menginterpretasikan mitologi India-Hindu tersebut. Tokoh-tokoh tersebut adalah Semar, Petruk, Bagong dan Gareng. Dalam versi masyarakat Sunda, tokoh bagong lebih dikenal sebagai Cepot/Astrajingga yang sangat berbeda secara fisik dengan bagong. Keempat tokoh itu biasa dijuluki dengan istilah Punakawan.

Simbol Rakyat Jelata

Secara etimologis, kata Punakawan berasal dari kata ‘Puna’ yang berarti ‘paham’  atau ‘mengerti’ dan ‘kawan’ atau berarti pula ‘teman’. Dapat diartikan bahwa Punakawan adalah  “teman yang memahami” atau “kawan yang dapat mengerti”. Terkait dengan kisah pewayangan ketika para tokoh punakawan itu dilakonkan, maka Punakawan dapat diartikan sebagai teman atau kawan yang sangat memahami kondisi yang sedang dihadapi oleh kawannya. Dalam konteks pewayangan, kawan bagi para punakawan ini tiada lain adalah para ksatria yang menjadi tuan mereka, seperti Pandawa dalam kisah Mahabharata maupun Rama dan Lesmana dalam cerita Ramayana.

Tokoh punakawan pertama kali muncul dalam kisah gubahan Mahabharata, Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh, pujangga besar dari zaman Kediri. Namun  para punakawan dalam kisah itu belumlah seperti punakawan yang kini kita kenal. Mereka adalah Jurudyah, Punta dan Prasanta, atau yang biasa disebut sebagai punakawan generasi pertama di tanah Jawa.

Barulah ketika zaman Majapahit dan masa penyebaran Islam di Jawa, para tokoh punakawan karya Mpu Panuluh digubah serta dikembangkan lagi hingga akhirnya kita bisa mengenal mereka sebagai Semar, Petruk, Bagong dan Gareng. Kemunculan pertama kali Semar sebagai tokoh terkemuka punakawan dalam cerita Sudhamala ketika era Majapahit tidak memutus korelasi dengan cerita Gatotkacasraya. Dalam Sudhamala dikisahkan bahwasanya semar merupakan Jurudyah Puntaprasanta.

Semar merupakan tokoh punakawan yang pertama kali muncul dibandingkan ketiga tokoh lainnya. Selain dalam kisah Gatotkacasraya, sosok lelaki bertubuh bulat dan pendek serta  memiliki kuncup putih dibagian depan kepalanya ini juga ada dalam karya raja Kediri, Jayabaya. Dalam karyanya yang bernama kitab Jangka Jayabaya, semar diilustrasikan sebagai dua saudara kembar penasehat raja Jawa yang hidup sejak lebih dari dua ribu tahun silam, yakni ki Sabdapalon dan Ki Nayagenggong. Dikisahkan kelak kedua tokoh kembar ini moksa (menghilang secara gaib) pasca keruntuhan kerajaan Majapahit. Terlihat bahwa, tokoh Semar sebagai dedengkot Punakawan telah dicitrakan sebagai penasehat kalangan istana. Jadi semar merupakan gambaran seorang abdi yang berasal dari kalangan rakyat jelata  namun memegang peranan penting sebagai penasehat raja, bahkan berperan juga sebagai  pengawas dan pengkritisi kebijakan raja.

Pada perkembangan berikutnya seiring dengan perubahan geo-politik ditanah Jawa yang ditandai dengan pergesekan  antara kerajaan Majapahit dengan kekuatan Islam Demak, tokoh punakawan dalam pewayangan pun mengalami perkembangan baik dari penambahan tokoh maupun karakteristiknya. Kemunculan bagong (atau cepot dalam versi sunda), petruk dan gareng sebagai “putra-putra” semar menandai era baru dari tokoh punakawan dalam dunia pewayangan. Lakon semar pun mengalami perubahan dari seorang abdi atau penasehat biasa menjadi tokoh titisan dewa atau Betara Ismaya.

Dalam beberapa versi, petruk dan gareng dikisahkan sebagai dua orang ksatria yang terlibat rivalitas dalam hal kesaktian. Akhir dari rivalitas itu adalah keterpurukan kondisi keduanya secara fisik serta terwujudnya rekonsiliasi antara kedua tokoh itu melalui mediasi semar. Sementara bagong adalah bayangan diri semar yang kemudian menjadi putra yang mengiringi langkah semar di alam mayapada.

Bila ditelaah secara seksama, fungsi punakawan sejak kemunculannya dalam kisah Gatotkacasraya hingga era Majapahit menyerupai fungsi legislasi yang dimiliki parlemen dalam sistem demokrasi kekinian (parlementer). Semar atau punakawan menjadi representasi rakyat kecil yang membimbing, mengawasi dan mengkritisi jalannnya pemerintahan yang dipegang oleh raja dan kaum ksatria. Penulis melihat telah ada semangat demokratisasi dikalangan pujangga  untuk membatasi kekuasaan raja di tanah Jawa melalui pemunculan tokoh-tokoh punakawan ini. Semangat yang telah ada ratusan tahun sebelum meletusnya Revolusi Perancis pada abad 18  yang dianggap oleh dunia sebagai kemenangan demokrasi (liberal) atas sistem monarki.

Pada perkembangan selanjutnya, ketokohan punakawan ini menunjukkan perannya yang lebih ‘revolusioner’. Beberapa lelakon pewayangan yang populer hingga kini, seperti lakon “Semar Mbangun Kahyangan”, “Petruk Dadi Ratu” serta “Semar Gugat” mendeskripsikan tindakan-tindakan ‘radikal’ dari para tokoh punakawan seperti Semar dan Petruk untuk menggulingkan kekuasaan para ksatria yang tidak lagi mau memperhatikan aspirasi rakyat dan sewenang-wenang terhadap wong cilik. Dalam lakon Semar Mbangun Kahyangan contohnya, dikisahkan bahwa niat baik semar sebagai sesepuh punakawan untuk mengadakan suatu ruwatan demi kebangkitan rohani para pandawa (kaum ksatria) malah dianggap sebagai upaya kudeta atau mbalelo dimata para pandawa. Akhirnya para pandawa pun berupaya memerangi para punakawan yang notabene abdi loyalis mereka. Lakon ini diakhiri dengan dikalahkannya kaum ksatria angkuh itu ditangan semar dan putra-putranya, yang dapat juga diartikan sebagai jatuhnya kekuasaan otoriter dan tiran oleh kekuatan rakyat (people power).

Punakawan Masa Kini

Fungsi dan watak revolusioner punakawan dalam lelakon pewayangan sangat relevan dengan kondisi negeri ini dimasa kini yang masih dikuasai oleh “kaum ksatria” yang pongah dan abai pada kondisi rakyat kecil.  Punakawan dapat melambangkan sinergi kekuatan tani, buruh, kaum miskin kota dan masyarakat adat dalam melawan kekuasaan korup yang lebih memposisikan dirinya sebagai ‘abdi’  modal asing.

Punakawan harus kita maknai sebagai produk kebudayaan yang merefleksikan ekspresi dan kebangkitan rakyat ketika berhadapan dengan kekuasaan yang anti rakyat. Kita tidak boleh secara kerdil menganggap punakawan atau wayang sebagai produk ‘kafir’ atau ‘musyrik’ hanya dengan berbasiskan dogmatisme agama yang juga kerdil. Peristiwa penghancuran patung tokoh wayang (diantaranya adalah tokoh punakawan) di Purwakarta beberapa waktu lalu oleh kelompok fanatik agama mencerminkan kekerdilan tersebut, yang gagal memaknai relevansi produk kebudayaan nusantara dengan situasi bangsa terkini.

*) Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang dan alumni Antropologi Universitas Padjajaran (Unpad)

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :