Tari Gandrung, Seni Perlawanan Wong Osing

Selasa, 30 Agustus 2011 | 12:48 WIB 0 Komentar | 223 Views

Sejarah penindasan kolonialisme Belanda selama ratusan tahun ternyata membuahkan berbagai kisah perlawanan dari rakyat yang sebagian tidak tercatat dalam buku Sejarah Nasional versi negara. Kisah Cadas Pangeran, perjuangan Pangeran Madrais dari kesultanan Gebang Cirebon, hingga pemberontakan kaum kiri serta Muslim ‘merah’ di tanah Minang pada tahun 1926-1927, merupakan beberapa fakta sejarah yang luput dalam penulisan sejarah ‘mainstream’ negeri ini. Salah satu kisah sejarah yang juga tidak tertulis dalam buku sejarah resmi adalah Perang Bayu yang berlangsung selama setahun (1771-1772) di daerah Blambangan.

Perang Bayu merupakan pemberontakan rakyat Blambangan dibawah pimpinan ki Mas Rempeg terhadap intervensi politik dan eksploitasi ekonomi yang dilakukan penguasa kolonial (VOC) dengan dibantu para komprador dari kalangan pribumi. Perang yang menurut seorang budayawan Osing Hasan Ali dalam bukunya, Sekilas Puputan Bayu: Tonggak Sejarah Hari Jadi Banyuwangi, telah memakan korban 60 ribu rakyat Blambangan tersebut diulas dalam beberapa babad sejarah seperti Babad Tawangalun dan Babad Bayu. Beberapa pihak bahkan menganggap perang Bayu merupakan perlawanan orang Blambangan terhadap Jawanisasi dan Islamisasi yang dilakukan VOC guna menguasai daerah Blambangan serta mematahkan pengaruh Bali-Hindu yang secara politik dan kultural lebih dekat dengan rakyat Blambangan.

Mengapa orang Blambangan resisten terhadap Jawanisasi? Bukankah mereka pun bagian dari etnis Jawa? Rupanya bila ditelusuri lebih jauh historiografi masyarakat Blambangan, mereka yang berdomisili di bagian paling timur Pulau Jawa tersebut memiliki riwayat ‘oposisi’ terhadap kekuasaan politik Jawa Kulon seperti Majapahit. Sumber-sumber sejarah Majapahit mengungkapkan beberapa peristiwa, seperti Pemberontakan Nambi  dan Perang Paregreg yang menggambarkan pembangkangan kalangan elit dan masyarakat ujung timur Jawa terhadap hegemoni Jawa Kulon (Majapahit). Bahkan, demi menancapkan hegemoni kultural nya, kerajaan Majapahit maupun Mataram sering menciptakan stigmatisasi terhadap rakyat timur Jawa atau Blambangan sebagai pembangkang atau pemberontak yang jahat. Hal ini dapat kita lihat dari kisah Damarwulan dan Menak Jinggo. Reputasi sebagai daerah perlawanan terhadap kekuasaan hegemonik ini berlanjut hingga abad 18, ketika VOC Belanda berusaha menancapkan kuku-kuku kekuasaannya di seluruh pelosok Pulau Jawa.

Seni Gandrung dan Perang Bayu

Peperangan Bayu yang telah memakan korban jiwa ribuan nyawa ‘wong’ Blambangan berakibat pada terasing dan terisolirnya kehidupan rakyat Blambangan yang masih tersisa dan tetap teguh berprinsip non-kompromistis terhadap VOC. Sebagian besar sisa-sisa pasukan Mas Rempeg melarikan diri ke hutan maupun daerah pedalaman. Mereka memang sengaja menjauhkan diri dari pusat-pusat kekuasaan kolonial demi menghindari gangguan fisik maupun mental dari VOC. Kondisi keterasingan orang Blambangan inilah yang kemudian memunculkan sebuah nama bagi mereka, yakni orang Osing, yang hingga kini digunakan untuk mengidentifikasi warga pribumi Blambangan atau Banyuwangi. Kaum Osing pengikut Mas Rempeg tersebut tetap meneruskan perlawanan secara gerilya terhadap imperialisme Eropa.

Pada masa gerilya inilah seni gandrung muncul sebagai instrumen perjuangan kaum gerilyawan Blambangan. Awalnya, yang menarikan tarian gandrung adalah para gerilyawan laki-laki atau biasa disebut gandrung lanang. Mereka menari sambil mendendangkan lagu-lagu perjuangan yang sejatinya merupakan bahasa sandi. Dengan berkedok pertunjukan seni, mereka mendatangi tempat-tempat para informan yang telah siap untuk memberi informasi tentang keberadaan pasukan Belanda. Tarian dan lagu yang mereka bawakan juga berisi propaganda untuk mempengaruhi rakyat Blambangan agar meninggalkan hutan dan membentuk masyarakat baru yang terbebas dari kolonialisme.

Salah satu lagu yang sering mengiringi tarian gandrung adalah Gending Padha Nonton. Gending Padha Nonton terdiri dari delapan bait dan tiga puluh dua baris. Dalam gending tersebut juga diselingi dengan pantun-pantun Blambangan yang disebut basanan dan wangsalan. Gending Padha Nonton sesungguhnya merupakan puisi yang mendeskripsikan perjuangan untuk mengobarkan semangat rakyat Blambangan melawan segala bentuk penjajahan. Lirik-lirik yang sarat dengan pesan perjuangan secara simbolis inilah yang dikamuflasekan melalui kata-kata sandi oleh para gerilyawan Osing. Meskipun kental dengan nuansa heroisme, syair-syair Gending Padha Nonton juga terkenal akan keindahannya. Oleh sebab itu, kini gending tersebut biasa mengiringi tarian gandrung yang berfungsi sebagai tari penghormatan atau sambutan selamat datang bagi para tamu dan wisatawan.

Perkembangan Tarian Gandrung

Pada masa-masa berikutnya, tarian Gandrung banyak mengalami perubahan dalam berbagai aspek, seperti busana, instrumen musik, maupun lagu-lagu atau gending-gending untuk mengiringi tari. Para penarinya pun mengalami perubahan. Jika pada masa awal kemunculan tarian gandrung para penarinya adalah kaum pria, memasuki pertengahan abad 19, mulai banyak para penari gandrung yang berasal dari kaum perempuan.

Tahapan pementasan tari gandrung terdiri atas Jejer, Paju serta Seblang-seblang. Musik iringan gending jejer yang semula penuh dengan heroisme kini beralih menjadi irama lemah lembut seiring dengan banyaknya kaum perempuan yang menjadi penari gandrung. Kesenian Gandrung makin diperkaya oleh munculnya tari Seblang yang merupakan tarian ritual bersih desa di beberapa desa yang terletak di daerah Blambangan atau yang kini termasuk dalam wilayah Banyuwangi.

Evolusi tari gandrung yang kini lebih banyak dimainkan oleh kaum perempuan dan juga telah dicampur dengan nuansa erotisme memunculkan stigma buruk bagi tarian ini sebagai tarian yang identik dengan kemaksiatan dan prostitusi. Kalangan santri Banyuwangi bahkan sempat menentang keras identifikasi seni gandrung dengan kota Banyuwangi yang, menurut mereka, memiliki karakteristik religius.

Stigma lebih buruk juga muncul pasca tragedi 1965, ketika tarian Gandrung diidentifikasi oleh rezim Orde Baru sebagai seni PKI atau Lekra, sebagaimana lagu Genjer-genjer yang juga berasal dari Banyuwangi. Stereotip negatif ini muncul karena memang Banyuwangi menjadi salah satu wilayah yang menjadi basis massa PKI pada dekade 60-an.

Bila dicermati, dalam konteks kekinian memang tarian gandrung lebih mengedepankan aspek hiburan dan erotisme, sebagaimana tari tayub dari daerah Jawa Timur serta tari ronggeng dari tatar Sunda. Namun, pergeseran makna yang terjadi hendaknya tidak menyurutkan semangat kaum pergerakan yang bergerak dibidang seni untuk kembali mengangkat sisi-sisi patriotisme serta karakter anti imperialis dari seni Gandrung, mengingat Gandrung memang merupakan seni rakyat yang lahir dari ‘rahim’ perjuangan rakyat Blambangan melawan imperialisme.

*) Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang

Tags:

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :