Sukarno: Nasionalismeku adalah Perikemanusiaan, Apa Hebatnya?

Kata-kata Sukarno yang menyitir Mahatma Gandhi, nasionalismeku adalah perikemanusiaan, adalah sebuah manifesto politik yang sangat luar biasa. Kalimat singkat itu punya daya pikir, imajinasi, dan cita-cita yang luar biasa.

Saya suka mengelompokkan kecenderungan ideologi atau isme-isme di dunia itu dalam dua kategori besar: partikularisme dan universalisme. Yang partikularisme berorientasi pada kepentingan kelompok yang lebih sempit, seperti etnis/ras, agama dan bangsa. Sedangkan yang universalisme berbicara kepentingan keseluruhan umat manusia.

Dalam kategori itu, nasionalisme masuk dalam rumpun partikularisme, sedangkan kemanusiaan menjadi bagian universalisme.

Yang luar biasa, gagasan nasionalisme Sukarno jelas menerobos tembok pemisah antara partikularisme dan universalisme. Nasionalisme ini, sekalipun masih melingkupi teritori atau komunitas tertentu, telah meleburkan diri dalam semangat dan cita-cita yang universal: persaudaraan dan persamaan seluruh umat manusia.

Kenapa bisa begitu?

Pertama, nasionalisme Sukarno menganut nasionalisme kewargaan atau civic nationalism, yang mengakui persamaan hak semua suku bangsa, ras dan agama. Dalam pidato 1 Juni 1945, yang diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila, Sukarno bicara tentang  negara “semua untuk semua”.

Karena itu, di dalam dirinya sendiri (in itself), gagasan nasionalisme Sukarno sudah mengandung nilai-nilai humanisme, yaitu pengakuan dan penghargaan terhadap seluruh manusia, tanpa memandang suku, agama, dan ras.

Kedua, nasionalisme Sukarno menolak pemberhalaan yang berlebihan terhadap tanah air sendiri (chauvinisme), yang berpotensi membuat kita merasa lebih unggul atau megah dibanding bangsa-bangsa lain.

Sebaliknya, Sukarno menegaskan, kebangsaan Indonesia merupakan bagian dari persaudaraan dunia. Menurutnya, karena rasa kemanusiaan yang sudah tertanam dalam bumi Indonesia, menjadi manusia Indonesia tidak akan pernah kekurangan rasa cinta terhadap manusia bangsa lain.

Yang menarik, Sukarno berpendapat, kecenderungan semangat kebangsaan yang meluap-luap menjadi chauvinis berpaut dengan pembawaan alam kapitalisme. Demi nafsu mengakumulasi keuntungan, kapitalis dari berbagai bangsa saling bersaing memperebutkan sumber daya dan pasar. Tidak jarang, para kapitalisme itu bertarung dengan mengatasnamakan “tanah-air”-nya.

Ketiga, nasionalisme Sukarno diperkuat oleh cita-cita keadilan sosial. Karena itu, nasionalisme Sukarno tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai rumah yang mengakui dan menaungi keragaman manusia Indonesia, tetapi juga menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Meminjam istilah Nancy Fraser, nasionalisme Sukarno bukan hanya mau mewujudkan keadilan rekognisi (pengakuan atas kesetaraan semua kelompok/identitas yang beragam), tetapi juga keadilan distributif (distribusi sumber daya yang lebih berkeadilan).

Karena itu, nasionalisme Sukarno tidak mentok pada cita-cita mendirikan negara merdeka, tetapi berlanjut pada perjuangan mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Keempat, visi nasionalisme Sukarno tidak pernah menciptakan pagar pemisah antara perjuangan nasional dan perjuangan untuk dunia yang lebih baik (internasionalisme).

Bagi Sukarno, perjuangan nasional Indonesia tidak boleh hanya menentang kolonialisme atas negeri sendiri, tetapi di seluruh penjuru dunia.

Selain itu, sebagai seorang nasionalis, Sukarno tidak hanya bicara soal kemerdekaan dan keadilan sosial bagi bangsa Indonesia, tetapi juga untuk dunia. Karena itu, dia selalu berbicara tentang tata dunia baru, yang di dalamnya tidak ada lagi penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa atas bangsa.

Demikianlah, gagasan nasionalisme Sukarno, yang diringkas dalam kalimat “nasionalismeku adalah kemanusiaan”, punya daya pikir dan cita-cita yang luar biasa.

Rudi Hartono, pimred berdikarionline.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut