Sudah 12 Anggota Parlemen Palestina Dipenjara Oleh Israel

Penangkapan dan pemenjaraan terhadap pejuang Palestina terus berlanjut. Hingga Maret 2015, sudah 5,820 warga Palestina yang ditahan di penjara Israel. Dari jumlah tersebut, ada 25 orang perempuan dan 182 anak-anak.

Sejak tahun 1967 (perang enam hari), lebih dari 800.000 warga Palestina pernah dipenjara oleh Israel. Jumlah itu setara dengan 20 persen penduduk Palestina. Dan sebanyak 70 persen keluarga di Palestina pernah punya anggota keluarga yang dipenjara oleh tentara pendudukan Israel.

Yang juga patut diketahui, Israel juga menangkapi sejumlah pemimpin politik Palestina. Tidak sedikit diantaranya adalah anggota parlemen. Menurut data resmi, saat ini ada 12 anggota parlemen Palestina, atau sering disebut Dewan Legislatif Palestina (PLC), yang ditahan di penjara Israel.

Ini jelas sebuah ironi. Di satu sisi, pada akhir November 2012 lalu, Palestina diakui sebagai ‘negara pemantau non-anggota’ di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tetapi Israel masih tetap dibiarkan sewenang-wenang mengobrak-abrik kedaulatan bangsa Palestina.

Tidak hanya itu, para anggota parlemen Palestina yang dipenjara itu adalah wakil-wakil rakyat Palestina yang terpilih melalui pemilihan umum (pemilu) yang demokratis. Banyak diantara mereka yang mengalami kondisi sulit di dalam penjara Israel.

Sebagian juga diperlakukan sebagai tahanan administratif, yakni orang yang ditahan oleh Israel tanpa proses pengadilan. Biasanya, penangkapan itu dilakukan karena alasan keamanan.

Berikut ini daftar anggota Parlemen Palestina yang ditahan di penjara Israel:

Khalida Jarrar

Khalida Jarrar adalah seorang pengacara dan anggota dari partai kiri Palestina, Front Kerakyatan untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Dia pernah memimpin Otoritas Palestina—badan administratif yang memiliki fungsi pemerintahan di Tepi Barat dan Jalur Gaza–untuk bergabung dengan Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC).

Sebelum terpilih sebagai anggota parlemen, perempuan berusia 52 tahun ini bekerja di organisasi HAM Palestina, Addameer, yang berkampanye tentang pembebasan tahanan politik Palestina di penjara Israel. Dia juga pernah bekerja di Badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina (UNRWA).

Di tahun 1998, Israel melarang dia meninggalkan Tepi Barat. Meskipun hingga kasus pemenjarannya sekarang ini, dia tidak pernah dituntut secara resmi terkait kejahatan apapun. Setelah pemimpin PFLP Ahmad Sa’adat dipenjara, dia menjadi orang ketiga partainya di parlemen.

Pada Agustus 2014, ia diusir paksa dari rumahya di al-Bireh ke Yerikho oleh tentara Israel. Namun, Jarrar menolak menandatangani perintah pengusiran dan memiliki kembali tinggal di rumahnya. Pada April 2015, ia ditangkap saat tengah malam oleh tentara Israel. Dia diperlakukan sebagai tahanan administratif.

Belakangan, pihak Israel beralasan bahwa pemenjaraan Jarrar terkait dengan keanggotannya di PFLP. Pengadilan militer kemudian memutuskan tahanan rumah. Tetapi pemerintah Israel sendiri menentang keputusan itu dan tetap menempatkannya dalam tahanan penjara. Dia dianggap sebagai ancaman keamanan.

Jarrar sudah menikah dan punya dua anak perempuan.

Aziz Duwaik

Aziz Duwaik adalah Ketua Dewan Legislatif Palestina. Dia juga anggota Organisasi Perlawanan Islam (Hamas) Palestina. Pada tahun 1992, dia dibuang ke Lebanon oleh Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin. Setelah setahun, ia diperbolehkan kembali ke rumahnya.

Kendati anggota Hamas, tetapi Duwaik lebih condong sebagai politisi ketimbang pemimin militer. Politisi berusia 67 tahun ini tidak pernah ambil bagian dalam operasi sayap bersenjata Hamas, Brigade Izz ad-Din al-Qassam. Tahun 2006, Duwaik kembali ditangkap saat Israel menginvasi jalur Gaza. Dia dituduh menjadi bagian organisasi teroris, mengalami penyiksaan di penjara, dan baru dibebaskan tiga tahun kemudian.

Di tahun 2012, ia kembali ditangkap. Menurut Hamas, penangkapan itu untuk mencegah rekonsiliasi Hamas dan Fatah. Di tahun 2014, Duwaik ditangkap lagi saat Israel kembali melancarkan agresi di bawah operasi penjaga suadara (Operation Brother’s Keeper). Ia dihukum 12 penjara dan denda 6000 NIS.

Duwaik sebetulnya terbilang moderat. Ia berpendapat, ide pembentukan negara Palestina di sepanjang sungai Yordan dan laut Mediterania tidak realistis. Sebaliknya, ia hanya mendukung negara Palestina yang meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam sebuah wawancara dengan New York Times, dia bilang, “pesanku kepada Israel sederhana: akhiri pendudukan dan tidak akan ada lagi perang.”

Duwaik sudah menikah dan punya 7 anak.

Marwan Barghouti

Barghouti adalah mantan pemimpin Fatah di Tepi Barat. Ia menjadi anggota parlemen sejak 1996. Tahun 2000, ia ditunjuk memimpin Tanzim, sayap bersenjata Fatah. Israel menuding Barghouti bertanggung jawab atas sejumlah serangan teroris selama Intifada kedua.

Politisi berusia 57 tahun ini berkali-kali selamat dari upaya pembunuhan oleh Israel. Termasuk serangan rudal yang mengenai mobilnya dan menewaskan pengawalnya. Di bulan Juni 2004, pengadilan militer israel menjatuhinya hukuman penjara seumur hidup. Setahun kemudian, ia mendirikan partai Al-Mustaqbal. Namun, menjelang pemilu parlemen 2006, ia kembali ke Fatah.

Barghouti, yang saat ini mendekam di penjara Hadarim, dianggap sebagai pemimpin paling populer di Palestina. Pada November 2014, ia mengeluarkan statemen dari penjara berisi seruan kepada Otoritas Palestina untuk menghentikan koordinasi keamanan dengan Israel dan menyerukan intifada ketiga.

Barghouti sudah menikah dan punya empat anak.

Ahmad Sa’adat

Ahmad Sa’adat adalah pemimpin Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP), seorang marxis, dan guru matematika. Tahun 2002, Sa’adat ditangkap oleh Otoritas Palestina atas perintah Israel karena diduga terlibat merencanakan pembunuhan Menteri Pariwisata Israel Rehavam Ze’ev. Ia hidup menderita di penjara Palestina. Tahun 2006, Israel mengambil Sa’adat dari penjara Palestina.

Ia diinterogasi lama oleh agen intelijen Israel, Shin Bet. Tahun 2008, pengadilan militer Israel menjatuhkan hukuman 30 tahun penjara kepada Sa’adat karena dianggap terlibat organisasi teroris dan terlibat pembunuhan Menteri Ze’ev.

Tahun 2011, ia bersama aktivis PFLP lainnya menggelar aksi mogok makan selama 21 hari di penjara.

Ia sudah menikah dan memiliki 4 anak.

Hassan Yousef

Yousef adalah seorang teolog dan sekaligus tokoh spiritual Hamas. Sejak tahun 1971, dia sudah ditangkap 14 kali dan menghabiskan 17 tahun hidupnya di penjara Israel.

Ketika ditahan administratif tahun 2004, ia diusung sebagai calon legislatif Hamas di pemilu. Dan ia terpilih. Dia setuju gencatan senjata jangka panjang berdasarkan kesepakatan perbatasan tahun 1967, yang memungkinkan kedua negara hidup damai.

Yousef sudah menikah dan punya 9 anak. Satu diantara anaknya mengaku mata-mata Israel, Mosab Yousef (pengarang buku “Son of Hamas), yang kemudian memeluk Kristen dan pindah ke California.

Mohammad Jamal Al-Natsheh

Al-Natsheh adalah pemimpin Hamas di Tepi Barat. Guru syariat ini sudah ditangkap berkali-kali oleh Israel. Sejak 1988, ia sudah menghabiskan 15 tahun penjara. Al-Natsheh pernah dibuang ke Lebanon bersama dengan Aziz Duwaik dan ratusan tahanan politik lainnya. Pada tahun 1988, ia ditangkap oleh otoritas Palestina dan menghabiskan 1 tahun penjara, lalu 3 tahun tahanan rumah.

Tahun 2002, ia ditangkap tentara Israel dan dijatuhi hukuman 8 setengah tahun. Tahun 2006, ia terpilih sebagai anggota parlemen Palestina. Empat bulan setelah dibebaskan, Israel kembali menggerebek rumahnya. Tahun 2011, ia ditangkap kembali dan dijadikan tahanan administratif.

Al-Natsheh sudah menikah dan punya 4 anak.

Muhammad Bader

Bader adalah seorang dokter dan guru teologi. Dia juga pemimpin Hamas di Tepi Barat. Politisi berusia 59 tahun ini pertamakali ditangkap tahun 1988 dan ditetapkan sebagai tahanan administratif, lalu dibuang ke Lebanon. Tahun 2006, ia merupakan salah satu dari 19 daftar calon legislatif Hamas. Sayang, tahun itu juga ia ditangkap oleh Israel dan dijatuhi 48 bulan penjara. Tahun 2013, ia ditangkap lagi dan ditetapkan sebagai tahanan administatif.

Bader sudah menikah dan punya 8 anak.

Azzam Shalhab

Shalhab adalah anggota Hamas dan doktor teologi. Ia pertamakali ditangkap tahun 1989 dan ditaruh di penjara administratif. Sejak itu ia sudah ditangkap 9 kali dan mengabiskan hidupnya 12,5 tahun di penjara Israel. Tahun 2014, ia kembali ditangkap dan ditaruh di tahanan administratif.

Shalhab sudah menikah dan punya 11 anak.

Nayef Rajoub

Rajoub pernah menjadi Menteri urusan Agama di Otoritas Palestina. Dia adalah pimpinan organisasi amal yang membantu anak yatim-piatu di Palestina. Ia kali pertama ditangkap tahun 1989 karena keterlibatannya dalam Hamas. Tahun 1992, ia dibuang ke Lebanon bersama pemimpin Palestina lainnya.

Yang menarik, Nayef bersaudara dengan Jibril Rajoub, kepala pasukan keamanan otoritas Palestina. Suatu hari, ia ditangkap oleh pasukan saudaranya sendiri.

Tahun 2014, ia ditangkap lagi oleh Israel. Di dalam penjara, kondisi kesehatannya memburuk. Ia sudah menghabiskan hidupnya 10 tahun dalam penjara Israel.

Hosni Al-Burini

Al-Burini adalah anggota Hamas dan guru matematika. Dia juga anggota Komite Pendidikan di Parlemen. Ia juga turut dibuang ke Lebanon tahun 1992. Sejak itu, ia beberapa kali keluar-masuk penjara. Dia sudah menghabiskan 10 tahun hidupnya di penjara.

Tahun 2008, anaknya turut ditangkap. Banyak yang bilang, penangkapan itu untuk memberi tekanan psikologis kepada Burini. Tahun 2014, ia ditangkap lagi. Sejak itu ia percaya, tidak ada perdamaian selama pemukiman Israel masih berdiri di tanah Palestina.

Riyadh Raddad

Raddad adalah seorang pengacara dan anggota Hamas. Ia ditangkap kali pertama oleh Israel tahun 1994 karena keanggotannya di Hamas. Ia dijatuhi 50 bulan penjara.

Tahun 2006, ia ditangkap lagi oleh israel untuk dijadikan alat tawar-menawar untuk pembebasan Gilad Shalit, seorang tentara Israel yang ditangkap Palestina.

Tahun 2012, ia ditangkap lagi. Sekeluarnya dari penjara, ia menjadi aktivis pembela keluarga tahanan politik. Di bulan September 2014, ia ambil bagian dalam aksi menuntut pembebasan tahanan Palestina. Namun, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman 12 bulan penjara.

Muhammad Abu Tir

Abu Tir adalah orang nomor dua Hamas di Tepi Barat. Dia juga dikenal dengan panggilan “Sheikh Abu Mus’ab”. Abu Tir ditangkap kali pertama oleh Israel tahun 1974 dan menghabiskan waktu 29 tahun di penjara. Ia baru bebas karena adanya program pertukaran tahanan tahun 1980-an. Dia dikenal sebagai tokoh yang bersikeras menerapkan syariah di Palestina.

Abu Tir, seorang warga Yerussalem, berulangkali dipaksa meninggalkan kotanya. Dan dia ditangkap ketika berusaha kembali ke rumahnya. Di bulan Desember 2014, ia dijatuhi hukuman 25 bulan penjara dan 18.000 NIS.

Diolah dari artikel Noam Rotem yang dimuat di 972mag.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut