Suasana Haru Warnai Penyambutan Petani Jambi-Mesuji Di Jakarta

Setelah berjalan kaki selama 42 hari, 75 orang petani Jambi dan Mesuji (Lampung) akhirnya menginjakkan kaki di Ibukota Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (22/1).

Petani Jambi dan Mesuji memasuki wilayah Jakarta sekitar pukul 10.00 WIB. Begitu memasuki wilayah Kebun Jeruk, Jakarta Barat, para petani langsung disambut oleh seratusan anggota Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI).

Massa SRMI pun turut berjalan-kaki bersama petani. Tiba di depan kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakbar, petani singgah beristirahat. Awalnya, petani ingin beristirahat di halaman kampus Trisakti, tetapi tidak mendapat ijin dari pihak kampus.

“Kampus yang menamakan dirinya Kampus pahlawan Reformasi ini menolak kami beristirahat di halamannya,” kata Ketua Umum Serikat Tani Nasional (STN), Yoris Sindhu Sunarjan.

Karena tak mendapat ijin, petani terpaksa beristirahat dan membaringkan badan di trotoar. Sementara beberapa petani lainnya menggelar mimbar bebas di pinggir jalan.

Lalu, sekitar pukul 14.00 WIB, petani melanjutkan aksi jalan kaki menuju kantor Kementerian Kehutanan RI, di jalan Gatot Subroto, tempat ratusan petani Jambi dan Mesuji lainnya menggelar aksi pendudukan selama dua bulan lebih.

Sekitar pukul 15.30 WIB, petani Jambi tiba di depan kantor Kemenhut RI. Ratusan massa petani dan aktivis pergerakan menyambut kedatangan petani. Suasana haru pun menggelayuti sebagian besar massa petani dan rakyat di depan Kemenhut begitu petani Jambi-Mesuji muncul di depan kantor Kemenhut.

Teriakan “Hidup Petani” dan “Tegakkan Pasal 33 UUD 1945” bergema berulang-kali. Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo Priyono, menyambut langsung kedatangan petani.

“Selamat datang saudara-saudara petani Jambi dan Mesuji, yang sudah berjalan kaki dari Jambi menuju Istana Negara. Perjuangan saudara-saudara sangat membanggakan,” kata Agus Jabo saat mengawali sambutannya.

Dalam sambutannya, Agus Jabo menuntut Presiden SBY dan Menhut Zulkifli Hasan segera merespon tuntutan petani. “Soal tanah adalah soal hidup dan juga soal kedaulatan. Artinya, kalau petani tak punya tanah untuk digarap, berarti mereka belum berdaulat,” kata Agus Jabo.

Agus Jabo juga menekankan, perjuangan para petani sangatlah konstitusional, yakni dilindungi oleh pasal 33 UUD 1945, sehingga petani tidak perlu takut ketika ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menghalang-halangi.

Proses penyambutan diselimuti perasaan hari. Beberapa petani dan aktivis sempat menitikkan air mata. Dan, begitu petani saling berangkulan dan bersalam-salaman, langit pun menumpahkan percikan gerimis.

Seusai memberi sambutan, Ketua Umum PRD Agus Jabo menerima secara simbolis bendera PRD yang selama ini diusung petani saat menggelar aksi jalan kaki dari Jambi ke Jakarta.

Malam ini, para petani beristirahat di tenda aksi pendudukan di depan Kemenhut. Rencananya, besok siang, sekitar pukul 11.00 WIB, petani Jambi dan akvitis gerakan rakyat di Jakarta akan menggelar “rally” menuju Istana Merdeka.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut