STN Bertahan Di Gedung DPR

Ratusan massa Serikat Tani Nasional (STN) memilih tetap bertahan di depan gedung DPR meskipun kawasan tersebut sempat diguyur hujan deras. Mereka akan bertahan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

“Kami akan tetap bertahan di sini hingga DPR memenuhi tuntutan petani. Hujan tidak akan membuat semangat kami menurun,” kata Abas, 50 tahun, tokoh masyarakat Suku Anak Dalam Jambi.

Menurut Abas, para petani sudah meninggalkan kampung halaman untuk berjuang di Jakarta demi sebuah hasil. “Kami berharap ada hasil yang bisa dibawa pulang dan menyenangkan masyarakat,” ujarnya.

Sejak tadi pagi, 250-an petani Serikat Tani Nasional (STN) mendatangi gedung DPR-RI di Senayan. Mereka menuntut pencabutan UU nomor 19 tahun 2004 tentang kehutanan.

Menurut petani, UU tersebut sangat berpihak kepada kepentingan perusahaan swasta dan menyebabkan terjadinya perampasan lahan milik petani. Di Jambi, misalnya, Suku Anak Dalam (SAD) sudah lama terusir dari lahan dan tempat tinggal mereka di hutan sejak perusahaan PT. Bina Desa Utama dan PT. Asiatic Persada mencaplok hutan adat.

“Ini sudah jelas bertentangan dengan UU Pokok Agraria tahun 1960. Ini juga berlawanan dengan semangat pasal 33 UUD 1945,” ujar Binbin Firman Tresnadi, salah seorang pengurus pusat STN.

Selain petani dari suku anak dalam, hadir pula perwakilan petani dari desa Mekar Jaya (Sarolangun), petani desa Kunangan Jaya (Batanghari), dan petani Padang Ratu (Lampung Tengah). Mereka membawa sejumlah tuntutan terkait konflik agrarian yang merugikan petani.

Siang tadi, perwakilan STN sempat bertemu dengan Komisi IV DPR-RI. Dalam pertemuan itu, Komisi IV DPR merespon sejumlah tuntutan warga, yakni: mendesak adanya perda untuk perlindungan SAD, penghentian penggusuran dan intimidasi terhadap petani, dan rekomendasi enclave lahan milik petani.

Sementara itu, menurut pengakuan aktivis STN, pihak Komisi II DPR juga menjanjikan dialog pada esok hari. “Kita diajak bertemu dan berdialog dengan Komisi II DPR besok. Agenda soal realisasi SK BPN terkait penyelesaian konflik agrarian di Jambi dan Lampung,” kata Ahmad Muslimin, salah seorang tim negosiator STN.

Aksi massa STN ini mendapat dukungan dari sejumlah organisasi pergerakan, yaitu Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Selain itu, datang pula dukungan solidaritas dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) dan Occupy Jakarta.

AGUS PRANATA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut