SRMI Banyumas Selidiki Kasus Kekerasan Guru Terhadap Siswa

BANYUMAS (BO): Kekerasan guru terhadap siswa kembali terjadi. Kali ini, di Banyumas, Jawa Tengah, seorang guru diduga menendang dan memukul siswanya yang tidak mengikuti pelajaran tambahan.

Kejadian itu menimpa Adam Bisno, murid kelas 9 di SMP Negeri 2 Baturraden Banyumas, Jawa Tengah. Kabarnya, Adam ditentang oleh oknum guru di kantin sekolah.

“Si guru kesal karena muridnya keluar saat pelajaran tambahan. Apapun alasannya, guru tidak diperkenankan menggunakan kekerasan,” ujar Chieka Vitria, aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) kota Banyumas.

SRMI sendiri datang untuk menyelidiki kasus tersebut. Sebelumnya, SRMI juga pernah mengadvokasi siswa miskin di sekolah ini. Akhirnya, berbekal laporan siswa, SRMI mengajak wartawan dan Polisi untuk menginvestigasi laporan tersebut.

Menurut Chieka, ketika dirinya dan sejumlah aktivis SRMI tiba di sekolah, pihak sekolah memperlihatkan gelagat  mau menutupi masalah itu. “Ketika saya berusaha bertanya kepada korban dan orang tuanya, pihak sekolah langsung menarik keduanya ke ruangan BK (Bimbingan dan Konseling),” kata Chieka.

Bahkan Chieka dan kawan-kawannya sempat diusir oleh pihak sekolah dan Polsek. Namun, karena SRMI mengancam melaporkan kejadian ini ke Komnas HAM, pihak sekolah pun membuka pintu dialog.

Menanggapi temuan SRMI di atas, pihak kepala sekolah SMPN 2 Baturraden segera mengeluarkan bantahan.

“Tidak ada pemukulan atau tendangan, yang ada hanyalah siswa dijewer. Ini hanya permasalahan kecil, saya mohon jangan dibesar-besarkan,” kata Kepala SMPN 2 Baturraden, Suyudi, kepada wartawan.

Suyudi menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh oknum guru di sekolahnya belum sampai pada penendangan dan pemukulan.

Akan tetapi, seorang siswa yang tak mau disebutkan namanya mengaku melihat kejadian pemukulan tersebut. “Ada beberapa siswa yang melihat kejadian itu secara langsung. Nanti kita dalami kasus ini,” kata Chieka Vitria.

Banyak Perlakukan Diskriminatif

Selain dugaan kekerasan, SRMI juga berusaha mendalami laporan mengenai kebijakan sekolah mengeluarkan murid dari ruang kelas.

“Kami belum tahu pasti alasannya. Tapi, katanya, siswa itu dikeluarkan karena alasan sepele, seperti rambut dan terlambat,” ujar Chieka.

Selain itu, Chike juga menyebut kalau pihaknya menerima laporan perihal siswa yang dikeluarkan dari kelas karena tidak mengenang seragam pramuka.

Akhirnya, demi membantu anak-anak itu, khususnya anak keluarga miskin yang tak sanggup membeli seragam, SRMI akan melakukan advokasi.

“Ya, kami akan mengadvokasi siswa dari keluarga tidak mampu. Kami akan mengurus SKTM untuk anak tersebut,” katanya.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut