SPI Tolak Benih Rekayasa Genetika

Serikat Petani Indonesia (SPI) menolak usulan agar pemerintah mengizinkan perdagangan benih rekayasa genetika (genetically modified organism/GMO) untuk menggenjot produktivitas areal tanaman pangan di Indonesia.

“Pemanfaataan dan perdagangan benih GMO akan merugikan petani ditinjau dari aspek ketergantungan atas benih GMO,” kata Ketua Umum SPI, Henry Saragih, di Jakarta, Senin (2/7/2014).

Henry menjelaskan, ketergantungan petani terhadap benih yang tidak diproduksi sendiri, apalagi GMO, bisa memicu kelangkaan dan terhambatnya distribusi benih di pasar.

“Pada saat itu harga benih akan naik di pasaran dan meningkatkan biaya produksi petani,” ujarnya.

Sampai saat ini, kata Henti, benih hasil produksi BUMN belum mencukupi kebutuhan benih dalam negeri. Akibatnya, pemerintah bergantung pada benih hasil produksi korporasi.

Karena itu, bagi Henry, pemanfaatan GMO hanya akan menguntungkan korporasi-korporasi produsen benih. Padahal, kata dia, selain persoalan benih, petani juga sebetulnya berhadapan dengan mahalnya harga pupuk.

Disamping itu, ujar dia, dari aspek keragaman benih lokal, pemanfaatan benih GMO akan menambah hilangnya benih lokal dan para petani-petani penangkar benih.

“Kelompok petani penangkar selanjutnya akan diganti dengan buruh ekslusif penangkar GMO di laboratoriun-laboratorium benih industri korporasi. Dengan demikian hilang satu mata rantai produksi benih dari tangan petani,” ujarnya.

Henry mengingatkan, keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan judicial review para petani atas UU Sistem Budidaya Pertanian nomor 12 tahun 1992, terkhusus dalam hal perbenihan, seharusnya menjadi momentum bagi IPB, Litbang-litbang pertanian dan para petani sendiri untuk melakukan peningkatan kemampuan penangkaran benih, pelatihan secara masif sekolah lapang benih untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim, pemuliaan benih-benih lokal dan lebih jauh mengembangkan sistem dan tata distribusi perbenihan ala petani melalui pendirian dan pengembangan bank-bank benih petani di desa-desa.

Sebelumnya, ekonom pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Arief Daryanto, mengusulkan kepada pemerintah agar segera mengeluarkan regulasi yang mengizinkan perdagangan produk benih yang telah direkayasa secara genetik (GMO) di pasar domestik guna menggenjot produktivitas areal tanaman pangan Indonesia.

“Tantangan utama pertanian di Indonesia itu permintaan semakin meningkat, tapi areal tanam turun terus. Mau tidak mauproduktivitas harus meningkat,” kata Arief, sebagaimana dikutip oleh Bisnis.com.

Arief mengungkapkan, IPBtelah membuktikan secara ilmiah bahwa penggunaan benih GMO juga telah meningkatkan produktivitas tanaman jagung hingga 14%.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut