Sosialisme Di Sebuah Kota Kecil Di Spanyol

Krisis ekonomi menyapu seluruh daratan Eropa. Tidak terkecuali Spanyol, negeri berpenduduk 45 juta orang yang berada di Semenanjung Iberia ini.  Sudah berbulan-bulan Spanyol dilanda kemarahan “kaum los indignados”./big>

Tetapi ada yang kontras. Di sebuah kota kecil di sebelah timur Sevilla, muncul sebuah ‘masyarakat masa depan’ yang menjanjikan.  Nama kota itu adalah Marinaleda. Kota ini hanya berpenduduk 2700 orang. Benar-benar sebuah kota kecil.

Tetapi sesuatu yang besar sedang terjadi di sana: proyek sosialisme sudah berlangsung selama 30 tahun terakhir. Kota ini dianggap sebagai oase bagi gerakan komunis di Spanyol dan Eropa. Cerita sukses tentang program perumahan dan koperasi pertanian mengundang decap kagum banyak orang.

Kisah ini bermula dari tahun 1970an-1980an. Saat itu, gerakan untuk menuntut pekerjaan dan bentuk yang lebih adil dalam pertanian memicu aksi pendudukan tanah milik tuan tanah dan perusahaan-perusahaan besar. Aksi ini dipimpin oleh seorang pemuda revolusioner, Juan Manuel Sánchez Gordillo, yang juga pimpinan Sindicato de Obreros del Campo (Serikat Pekerja Pertanian/SOT).

Lalu, pada tahun 1979, para aktivis SOT mendirikan Colectivo de Unidad de los Trabajadores – Bloque Andaluz de Izquierdas (Blok Kiri Andalusia/CUT). Aliansi ini diperuntukkan untuk memenangkan pemilu lokal. Sánchez Gordillo pun menjadi Alcalde (Walikota) di kota kecil itu. Saat ini CUT sudah menjadi bagian  Izquierda Unida (Persatuan kiri/IU), sebuah partai politik yang menyatukan sosialis, komunis, dan hijau di Spanyol.

Sánchez Gordillo, yang kini berusia 55 tahun, sudah tiga dekade menjadi walikota di Marinaleda. Pria berjanggut panjang ini begitu bangga telah menggunakan pemerintahannya untuk benar-benar melayani rakyat.

***

Salah satu visi sosialis dari kota Marinaleda adalah soal bagaimana mengubah watak negara. Di kota kecil ini, kekuasaan benar-benar diserahkan kepada rakyat. Dewan Lokal telah menciptakan majelis umum. Di situlah segala keputusan pembangunan didiskusikan dan diputuskan. Setidaknya ada 25 hingga 30 kali pertemuan dalam setahun.

Selain majelis umum, kelompok yang bergerak dengan isu spesifik, seperti olahraga dan seni, juga diberi kesempatan. Bentuk demokrasi progressif lainnya adalah soal penganggaran partisipasipatif.  Setiap pengumpulan dan penggunaan anggaran kota dibahas secara kolektif di pertemuan-pertemuan rakyat.

Marinaleda adalah salah satu kota di dunia yang tak memiliki polisi. Soal keamanan diserahkan kepada warga secara kolektif. Karenanya, setiap tahun pemerintah kota bisa menghemat anggaran sebesar €260,000.

Pada tahun 1991, gerakan buruh dan petani berhasil menduduki tanah seluas 3000 hektar milik seorang tuan tanah lokal. Tanah ini kemudian dikelola oleh rakyat secara kolektif melalui koperasi pertanian. Setiap pekerja dibayar secara merata dengan €47 untuk enam jam kerja atau setengah hari. Di Marinaleda tidak ada pengangguran.

Selain pertanian, pemerintah kota juga berhasil membangun sistim perumahan sosialis. Sebagian besar rumah dibangun secara kolektif oleh warga setempat dan kemudian dimiliki dengan harga sangat murah. Tanah dan material rumah disediakan dan dibiayai oleh pemerintah.

Kota Marinaleda juga punya sekolah modern, pusat kesehatan modern, pusat olahraga, pusat kebudayaan, kolam renang, stadion sepak bola, dan lain sebagainya. Taman Kanak-Kanak atau Play Group terbuka dari 07.00 pagi hingga pukul 16.00 sore. TK itu menyediakan sarapan pagi dan makan siang.

Kota ini juga punya stasiun radio dan televisi, yang dirancang untuk melawan dominasi media mainstream. TV/Radio tidak hanya menyajikan hiburan, seperti music, chating, berita, budaya, dan lain-lain, tetapi juga menawarkan ideologi alternatif berupa kerjasama, solidaritas, dan kolektifisme. TV/Radio Marinaleda aktif memberikan dukungan kepada perjuangan rakyat Palestina, Amerika latin, dan berbagai tempat lain di seluruh dunia.

Berbeda dengan kota-kota kapitalis di seluruh dunia,  anda tidak akan menemukan iklan komersil di kota Marinaleda. Bahkan toko-toko di sana pun tidak memiliki banner atau iklan komersil di depan toko mereka.

Akan tetapi, tembok-tembok di Marinaleda dipenuhi dengan slogan-slogan politik dan  mural bergambar tokoh-tokoh dan pahlawan Amerika Latin, seperti Che Guevara, Salvador Allende, dan lain-lain.

***

Juan Manuel Sánchez Gordillo adalah sosok penting perubahan di Marinaleda. Pria yang gemar menggunakan kafiyeh ini jarang tinggal di kantornya. Ia selalu berjalan mengelilingi kota untuk menemui dan berdikusi dengan warganya.

Meskipun Sánchez Gordillo sudah tiga dekade jadi walikota, tetapi ia belum punya mobil dan tidak punya harta pribadi. Ia hanya memiliki sebuah rumah sederhana, sebagai tempatnya berteduh.

Sementara kota-kota lain di Spanyol dirundung krisis, Marinaleda tetap bersinar cerah dan menjadi daya tarik bagi pencari kerja dari berbagai tempat. Terhadap hal itu, Sánchez berani mengatakan, “mereka semua berfikir bahwa pasar adalah tuhan, yang membuat semuanya bekerja dengan tangan tak terlihat.

Dulu, peranan pemerintah dianggap dosa dalam kehidupan ekonomi. “Sekarang kami menggunakan ekonomi untuk melayani manusia,” kata Sánchez, yang mengaku sudah tujuh kali dipenjara dan dua kali usaha pembunuhan oleh kelompok fasis dan seorang perwira polisi yang marah.

Beberapa minggu lalu, anggota dewan dari Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV) melakukan studi banding ke Marinaleda. Luz Mayeli Molina, seorang anggota dewan dari PSUV, menganggap pengalaman 30 tahun Marinaleda sangat penting untuk memperkaya pengalaman PSUV di pemerintahan lokal.

Pengalaman Marinaleda adalah bukti bahwa ada banyak jalan alternatif.  Dan, apa yang terjadi di Marinaleda adalah perwujudan dari slogan di bendera mereka: Una Utopia Hacia La Paz (Dalam utopia menuju perdamaian)!

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut