Sosialis Memenangkan Pemilu Presiden Perancis

Kandidat partai sosialis, François Hollande, berhasil memenangkan pemilu Presiden Perancis. Ia mengalahkan kandidat sayap kanan sekaligus “incumbent”, Nicolas Sarkozy.

Hasil pemilihan menunjukkan, Hollande meraih 51,9% suara, sedangkan Sarkozy hanya mendapat 48,1% suara. Dengan demikian, hasil pemilu Prancis telah mengembalikan kaum sosialis ke kursi kekuasaan setelah 17 tahun berada di bawah kendali sayap kanan.

Perayaan kemenangan Hollande berlangsung di Place de la Bastille—titik simbolis Revolusi Perancis 1789. Di tempat itulah, pada tahun 1981, Presiden sosialis Perancis Francois Mitterrand juga melakukan perayaan kemenangan.

Nicolas Sarkozy menjadi Presiden ke-11 di Eropa yang tergelincir dari kekuasaan sejak berkecamuknya krisis ekonomi. Ia dianggap mewakili politik kaum kaya dan menyebabkan Perancis terjerembab dalam ketimpangan sosial.

Di akhir kekuasaannya, pengangguran di Perancis mencapai 2,8 juta orang. Selain itu, Sarkozy juga dianggap membuat Perancis tidak bermartabat: ia dianggap membebek kepada Jerman yang memimpin kebijakan penghematan di seantero Eropa.

Kemenangan Hollande, juga perkembangan serupa di Yunani dan sejumlah negara Eropa lainnya, dianggap sebagai titik balik dari kebangkitan politik kiri yang berpotensi menyapu kembali Eropa.

Hollande, sering dipanggil “Mr.Normal”, berjanji akan membuat perubahan besar di Perancis. “Tidak ada lagi anak Republik yang terabaikan,” katanya menandai komitmen menghilangkan diskriminasi dan kesenjangan sosial yang kian menajam di tengah masyarakat Perancis.

Hollande berasal dari kecenderungan politik kiri-tengah. Partainya tergolong sosialis-moderat. Meski demikian, krisis dan meningkatnya politik anti-kanan mendorong Hollande sedikit agak kiri.

Ia menjanjikan pajak progressif bagi orang kaya: pajak 75% untuk pendapat di atas 1 juta eruro per tahun. Ia juga menjanjikan akan mempertahankan layanan publik dan memperkuat kebijakan sosial. Dalam tahap awal jabatannya, ia berjanji merekrut 60.000 guru untuk sekolah negara.

Hollande orang yang tenang. Sikap dan gaya tenang Hollande bertolak-belakang dengan gaya Sarkozy yang bombastis, blak-blakan, dan meledak-ledak. Hal itu, kata sebagian pengamat, membuat Hollande bisa memenangkan berkali-kali debat dengan Sarkozy.

Meski demikian, Hollande menapaki jalan yang berat. Ia berhadapan dengan negeri yang nyaris hancur: negeri yang hampir lumpuh akibat utang publik, pengangguran hampir 10%, defisit anggaran mengangga, dan kinerja pertumbuhan ekonomi dan industri yang merosot.

Perancis memang sedang berayun ke kiri. Pada pemilu putaran pertama lalu, kandidat dari Front Kiri, Jean Luc Melenchon, berhasil meraih suara 11%. Melenchon didukung oleh partai kiri dan partai Komunis.

Melenchon, selama kampanye pemilu Presiden, telah meluncurkan apa yang disebut “Revolusi Kewarganegaraan”. Ia menawarkan program yang sangat radikal: pajak 100% pada pendapatan 300 ribu euro, usia pensiun penuh 60 tahun, pengurangan jam kerja, kenaikan upah minumum 20%, nasionalisasi perusahaan energi, dan lain-lain.

Kehadiran Melenchon turut meradikalisasi politik Perancis. Ia telah memaksa kandidat sosialis-moderat, Hollande, untuk menaikkan kadar radikal programnya atau kehilangan pemilih.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Fahrul

    Redaksinya perbaikin dong! ‘membebek’ iku opo?
    “gaya Sarkozy yang bombastis, blak-blakan, dan meledak-ledak”. Ini kalimat yang buat saya pusing. Masa gayanya bombastis?
    Sebaiknya menggunakan deskripsi yang berkaitan dengan gaya kepemimpinan dong, Sarkozy itu kan Presiden Prancis. Memangnya artis dangdut goyangannya bombastis 😀