Sosialis Malaysia: Ikut Pemilu Untuk Memajukan Politik Kiri

Tanggal 5 Mei mendatang, rakyat Malaysia akan menentukan nasib negerinya melalui kotak suara. Pemilu kali ini akan menjadi momentum bagi masa depan politik Malaysia.

Barisan Nasional, koalisi yang memerintah Malaysia sejak merdeka dari Inggris, berusaha keras memenangkan pemilu ini untuk melanjutkan kekuasaannya.

“Jika BN menang, rasuah (korupsi) akan berjalan terus,” kata Julius Choo Chon Kai, petugas Hubungan Internasional Partai Sosialis Malaysia (PSM) kepada Berdikari Online.

Sebaliknya, jika Pakatan Rakyat—oposisi terbesar di Malaysia saat ini—memenangkan pemilu, maka belum tentu persoalan krisis ekonom bisa diatasi. “Pakatan Rakyat mungkin akan mengadopsi kebijakan neoliberal. Dan tentu rakyat akan melawan lagi,” ujar Chon Kai.

Di bawah pemerintahan BN, Malaysia terjerembab dalam banyak masalah, seperti korupsi, ketiadaan ruang demokrasi, ketegangan rasial, dan meningkatnya biaya hidup.

Beberapa tahun terakhir, gerakan rakyat dan pro-demokrasi di Malaysia, yang bernaung di bawah gerakan “Bersih”, terus memobilisasi massa-rakyat ke jalan-jalan untuk mengakhiri kekuasaan BN.

Pada bulan April 2012 lalu, gerakan “Bersih” berhasil memobilisasi ratusan ribu massa-rakyat ke jalan. Namun, rezim berkuasa langsung menggunakan polisi untuk membubarkan aksi itu. Lebih dari 1600 aktivis ditangkap.

Memang, masing-masing kekuatan politik punya peluang dalam pemilu mendatang. Menurut Chon Kai, BN punya peluang untuk menang dan terus berkuasa karena menggunakan uang selama kampanye.

Selain itu, partai berkuasa Malaysia ini juga mengerahkan aparatus negara untuk membantu kampanyenya. “Mereka juga sangat disokong oleh media massa,” kata Chon Kai.

Meski demikian, Pakatan Rakyat juga punya peluang cerah. “Pakatan Rakyat diuntungkan oleh semakin banyaknya rakyat yang keluar menentang BN. Mereka juga diuntungkan oleh momentum gerakan Bersih dan Himpunan Hijau,” ungkapnya.

Partisipasi Kaum Sosialis

Tak bisa dipungkiri, bahwa salah satu oposisi paling konsisten di Malaysia saat ini adalah kaum sosialis. Mereka berjuang di bawah panji-panji Partai Sosialis Malaysia (PSM).

PSM sendiri akan ambil bagian dalam pemilu mendatang. “PSM tidak ingin mengasingkan diri dari mood massa yang menghendaki perubahan,” ujar Chon Kai menjelaskan alasan partainya berpartisipasi dalam momentum pemilu.

Meski demikian, PSM punya agenda politik jelas terkait pemilu, yakni menggunakan pemilu sebagai arena untuk mengkampanyekan dan mempopulerkan politik kiri atau sosialis.

Selain itu, berbeda dengan metode partai borjuis, PSM mengandalkan penyadaran politik dan kampanye langsung di tengah-tengah rakyat. Tak jarang aktivis PSM mendatangi rumah rakyat dari pintu ke pintu untuk berdiskusi dan menjelaskan program-program partainya. Tak hanya itu, PSM juga terlibat aktif dalam membela rakyat yang dirampas hak-haknya oleh pemerintah.

Berpartisipasi dalam pemilu bukan hal baru bagi PSM. Dalam pemilu 2008 lalu, PSM juga ikut serta. Bahkan, mereka berhasil menempatkan dua kadernya di parlemen, yakni Jeyakumar Devaraj untuk parlemen dan Nasir Hashim (Ketua Umum PSM) untuk Dewan Negara (Senat).

Dalam pemilu kali ini, PSM memutuskan untuk maju dengan menggunakan logo sendiri. Selain itu, PSM akan mengusung empat kadernya untuk bertarung memperebutkan empat kursi, yakni 1 kursi untuk parlemen dan 3 kursi untuk Dewan Negara.

Dari empat kandidat itu, 2 kandidat akan maju dengan logo PSM, sedangkan 2 kandidat lagi dengan logo PKR (Partai Keadilan Rakyat). Menurut Chon Kai, sejak awal PSM berusaha keras untuk maju dengan logo sendiri. Tetapi ada banyak hambatan.

“Setelah PSM akhirnya terdaftar (sebagai parpol) pada Agustus 2008, setelah 10 tahun berjuang, kami memutuskan ikut pemilu dengan menggunakan logo sendiri, tetapi juga melakukan perjanjian elektoral dengan oposisi Pakatan Rakyat untuk melawan BN secara efektif dalam pemilu,” jelas Chon Kai.

Kesepakatan dengan sesama oposisi, yakni Pakatan Rakyat, memang diperlukan untuk mencegah “pertarungan tiga sudut”.  Maksudnya, jika PSM dan Pakatan Rakyat punya kandidat sendiri-sendiri, maka mereka akan bertarung satu sama lain disamping dengan kandidat dari BN. Pertarungan tiga sudut ini tentu saja akan memecah suara oposisi dan menguntungkan BN.

PSM—melalui slogan kampanye “Ini kalilah!”—berjuang keras untuk mengakhiri 56 tahun pemerintahan BN melalui pemilu ini. “Ada banyak sekali praktek korupsi, penghambur-hamburan uang rakyat, dan perampasan hak-hak rakyat,” tegas Chon Kai.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut