Soekarno Dan Praktek Sosialisme Soviet

Pada tahun 1928, Adolf Baars menulis serangkaian artikel tentang pengalamannya selama Soviet Rusia, Sowjet-Rusland in de Practicjk. Artikel itu membelejeti komunisme dan kegagalan mempraktekkannya di Uni Soviet.

Awalnya artikel Baars itu dimuat di Nieuwe Rotterdamsche Courant di negeri Belanda. Namun, belakangan koran-koran di Hindia Belanda, seperti S.I.D. de Preangerbode dan Surabajaasch Handelsblad, juga menyebarkan tulisan-tulisan Baars itu.

Adolf Baars, bersama Sneevliet, adalah pioner gerakan komunisme di Hindia-Belanda. Ia termasuk pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereniging alias Perhimpunan Sosial Demokrasi di Hindia (ISDV), yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).

Awalnya ia bekerja sebagai guru di Sekolah Teknik di Surabaya. Namun, seperti juga Sneevliet, daya tarik aktivisme marxis dan kemenangan Revolusi Rusia mendorongnya meninggalkan pekerjaan dan bekerja penuh untuk membangun gerakan komunis. Dia tercatat sebagai editor koran ISDV, Het Vrije Word. Ia juga mengelola koran pergerakan berbahasa Indonesia seperti Soeara Mardika dan Soeara Ra’jat.

Ruth McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia menggambarkan Baars sebagai seorang revolusioner antusias. Walaupun sangat memahami teori marxisme, tetapi kehendak revolusinya lebih banyak dibakar oleh romantisisme. Wataknya kurang stabil dan cenderung emosional. “Akibatnya seperti kita saksikan, setiap kali ia berada di krisis emosional, antusiasmenya dapat berubah menjadi putus asa yang mendalam,” kata Ruth McVey.

Semasa membangun PKI, Adolf Baars banyak bersentuhan dengan aktivis pergerakan pribumi. Ia kerap mengunjungi rumah HOS Tjokroaminoto, ketua Sarekat Islam (SI), di Surabaya, yang kerap menjadi tempat bertemunya aktivis pergerakan. Di rumah itu pula Soekarno muda ‘mondok’ untuk keperluan studinya di Surabaya. Soekarno banyak belajar marxisme dari tokoh-tokoh ISDV, termasuk Baars.

Tahun 1919, karena aktivitas anti-kolonialnya, Baars diusir dari Indonesia. Tak lama kemudian, ia memutuskan berangkat ke Soviet untuk membangun sosialisme di sana. Dalam pidato pemberangkatannya Baars mengatakan, “gelombang revolusi dunia akan membawa kita kembali lagi, seperti halnya gelombang reaksi dunia telah menghanyutkan kita pergi untuk sementara.”

Namun, kenyataan di Soviet di tahun 1920-an tak seindah mimpi Bars. Saat itu kaum Bolshevik baru saja keluar dari perang sipil melawan kaum kontra-revolusioner yang disebut “kaum putih”, yang merupakan aliansi antara tuan tanah dan kapitalis. Tak hanya itu, negara-negara kapitalis barat aktif memblokade ekonomi Soviet. Akibatnya, negara klas pekerja ini mengalami kehancuran ekonomi. Untuk mengatasi itu, Lenin menerapkan Kebijakan Ekonomi Baru (NEP).

Dengan demikian, Soviet yang ditemui Baars adalah Soviet yang sedang berjuang untuk keluar kesulitan. Di sana-sini memang terjadi kesulitan ekonomi. Baars sendiri sempat bekerja di sebuah “koloni otonom” insinyur asing yang dipimpin oleh seorang komunis Belanda, SJ Rutgers. Mereka ditugaskan membangun industri di lembah sungai Kuznetsk. Namun, pada akhir 1927, Baars kembali ke Belanda. Di Belanda, Baars membangun opini yang negatif terhadap Soviet.

Baars menyebut proyek pembebasan manusia atas nama komunisme di Soviet justru membawa malapetaka. Ia pun mengaku ‘bertobat’ dari komunisme. Tak hanya itu, Baars tampil sebagai propagandis anti-komunis. Tulisan-tulisannya sengaja disebar oleh penguasa kolonial Hindia-Belanda untuk menjauhkan kaum pergerakan Indonesia, baik kaum nasionalis maupun agamis, dari faham komunisme dan sejenisnya–marxisme dan sosialisme.

Pada tahun 1928, melalui koran Soeloeh Indonesia Moeda, Soekarno membantah artikel Baars itu. Soekarno menulis risalah khusus berjudul “Berhubung Dengan Tulisannja Ir. A Baars”. Melalui tulisan itu Soekarno meragukan tulisan Baars itu keluar dari pengakuan tulus dari lubuk hatinya. Ia juga membantah beberapa tuduhan serampangan Baars terkait kegagalan total proyek komunisme di Soviet.

Soekarno sangat meragukan objektivitas tulisan Baars itu. Apalagi, tulisan bekas aktivis ISDV itu tidak sekalipun menyebut kata “Merdeka’. Padahal, sewaktu masih di Hindia-Belanda, Baars–seperti juga aktivis ISDV lainnya–sangat mendukung kemerdekaan Indonesia. Di tulisan-tulisannya Baars hanya berharap agar rakyat Indonesia “harus menaik tempat yang lebih tinggi dari apa yang sekarang sudah tercapai.” Artinya, Baars tidak menghendaki kemerdekaan Indonesia. Ia hanya ingin ada reformasi kecil yang berdampak kecil pula terhadap kehidupan rakyat Indonesia.

Lebih lanjut, Soekarno membantah klaim Baars mengenai kegagalan proyek komunisme di Soviet. Bagi Soekarno, terlepas dari kesulitan dan beberapa kegagalan yang diderita Soviet, tetapi negara klas pekerja itu sukses di beberapa bidang lain. Diantara yang menonjol adalah pendidikan. “Sebagai umpama pengajaran dan lain-lain, kemajuan mana dengan bukti-bukti dan angka-angka telah dinyatakan pula oleh orang-orang yang datang ke Rusia.

Bagi Soekarno, tidak adil menghakimi praktek marxisme di Rusia, tanpa memahami kondisi internal dan eksternal yang terjadi di sana. Terutama campur-tangan negara-negara imperialis dan kapitalis dalam menghalangi proyek sosialisme di Soviet. Ia menegaskan bahwa “failliet/kebangkrutan” dan “kalang-kabutnya” negeri Rusia itu dipercepat oleh penutupan atau blokade oleh semua negeri-negeri musuhnya (imperialis/kapitalis); hantaman dan serangan pada empat belas tempat oleh musuhnya seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Jenderal-Jenderal Koltchak, Denikin, Yudenitch dan Wrangel; dan kampanye alias anti-propaganda yang dilancarkan oleh seluruh surat-kabar kanan di seluruh dunia.

Bagi Soekarno, serangan dan agresi negeri-negeri imperialis itu, termasuk kaum putih (feodal dan kapitalis Rusia), harus bertanggung-jawab atas kematian 15 juta orang akibat sakit dan kelaparan di Soviet.

Soekarno kemudian mengutip pendapat H.G Wells, penulis fiksi ilmiah Inggris yang beberapa kali mengunjungi Soviet, bahwa “seandainya kaum Bolshevik tidak dirintang-rintangi, mereka barangkali bisa menyelesaikan suatu eksprimen (percobaan) yang maha-besar faedahnya bagi perikemanusiaan.”

Di risalahnya itu Soekarno menegaskan sikap kaum nasionalis terhadap sosialisme dan komunisme secara umum. Ia menulis: “Sosialisme, Sosial-Demokrasi, dan Komunisme adalah suatu reaksi, suatu faham perlawanan terhadap kapitalisme, suatu faham perlawanan yang dilahirkan oleh kapitalisme itu juga.”

Ia kemudian melanjutkan, “Ia (sosialisme, sosdem, dan komunisme) tidak bisa berada di suatu negeri dimana kapitalisme belum berdiri. Dan tentu ia ada di suatu negeri, jikalau negeri itu mempunyai aturan kemodalan. Dan ia tentu ada di suatu negeri jikalau negeri itu susunan pergaulan hidupnya ada kapitalistis.”

Soekarno kembali menegaskan, bahwa faham (sosialisme, sosdem, dan komunisme) bukanlah bikinan kaum “penghasut”, bukan pula anggotanya beberapa orang “penusuk” atau “pengadu”, bukan pula buah akalnya Karl Marx, Friedrich Engels, Saint Simon, Proudhon, atau Lassalle, melainkan bikinan atau buahnya kapitalisme itu sendiri. “Sebagai suatu bayangan yang ikut kemana-mana, sebagai musuh yang membuntuti lawannya ke tiap-tiap tempat, maka pergerakan sosialisme dan komunisme bisa didapatkan dimanasa saja kapitalisme itu ada,” katanya.

Karena itu, Soekarno menegaskan, “kendati sosialisme dan komunisme itu diperangi sehebat-hebatnya atau ditindas sekeras-kerasnya, walaupun pengikutnya dibui, dibuang, digantung, didrel atau diperlakukan apapun, kendati ditindas dan diperangi sangat keras hingga seolah-olah binasa, maka tiada henti-hentia ia muncul lagi dan muncul lagi di negeri kapitalis.”

Begitu pula di Indonesia, yang saat itu mulai dijangkiti oleh sistem kapitalisme. Kendati ditindas dengan sekeras-kerasnya oleh penguasa kolonial, seperti pasca pemberontakan PKI 1926/1927, pergerakan sosialistik dan komunisme tidak akan mati.

Dengan tulisan ini, Soekarno sebetulnya ingin mengingatkan satu hal kepada penguasa kolonial, bahwa penindasan terhadap gerakan sosialis dan komunis tidak akan berhasil mematikan gerakan tersebut. Propaganda anti-komunisme, seperti yang dijalankan oleh bekas komunis seperti Adolf Baars, tidak akan menghalangi kebangkitan komunisme. Sebab, bagi Soekarno, sosialisme dan komunisme merupakan reaksi objektif dan historis terhadap kapitalisme. Jadi, selama kapitalisme masih ada dan menghisap rakyat, maka perlawanan dalam bentuk ideologi sosialisme dan komunisme akan tetap hidup.

Rudi Hartonopengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (PRD); Pimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Saguh Fajaryanto

    Kalau benar demikan apa yg disampaikan Soekarno, maka sangatlah tepat kita tidak merupakan bagian dari kapitalis, komunis, sosialis dan demsos. Karena dasar itulah Pancasila terlahirkan utk Indonesia. Namun sangat disayangkan sejak 1998 dan terutama sejak pemberlakuan Amandemen UUD 45 alias UUD 2002, Pancasila sdh tertiadakan secara legalitas konstitusi atau dgn kata lain UUD2002 melawan Pancasila. Apakah ini suatu musinah/kebetulan atau atau semua ini karena mereka (kapitalis, sosialis, komunis dan demsos) ada dibelakangnya??? Utk ini perlu penyelidikan lebih lanjut..
    Tapi terlepas itu semua demi Pancasila maka Amandemen UUD 45alias UUD 2002 hrs dibatalkan dan kembali kpd KONSTITUSI YG BERDASARKAN PANCASILA.